Pelitanusantara.com Jika kita membawa guci dari dinasti Ming yang mahal, apakah kita akan membawanya dengan cara pegang yang sembarangan, tidak berhati-hati dan memperhatikan langkah kita, dan melempar-lemparkannya ke udara?
Kehati-hatian kita dalam membawa sesuatu, ditentukan oleh penghargaan kita terhadap yang kita bawa. Ingatlah, tak ada yang lebih berharga daripada diri kita sendiri. Pertanyaannya, apakah saat ini kita membawa diri kita sendiri dengan perhatian dan penghormatan kepada sesuatu yang sangat bernilai?
Janganlah mengikuti mereka yang membawa diri mereka seperti barang yang tidak berharga. Bawalah diri kita sebagai pribadi yang mahal, lalu perhatikan apa yang terjadi. Banyak orang pandai namun dunianya sempit, sehingga merasa hanya dirinyalah yang paling hebat, paling baik dan paling segalanya.
Cobalah bila kita bisa bercermin, dunia ini sesungguhnya sangat luas bahwa di atas langit masih ada langit, bahwa sekuat apapun manusia masih ada yang lebih kuat lagi. Janganlah mempertontonkan kelebihan kita, sebaliknya rendahkanlah hati, karena hanya manusia yang mau merendahkan hati yang memiliki ”isi”.
Tak perlu menonjolkan diri, karena orang yang sering menonjolkan diri yang biasanya kosong, hingga akhirnya jatuh dalam ambisinya. Hiduplah dengan seadanya dan sewajarnya, serta jagalah pikiran agar selalu selaras dengan perbuatan dalam suatu pengendalian.
“Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.” Yakobus 3:3-4
“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” Amsal 25:28
Selamat sejahtera dalam perkenan-Nya. WIN with GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias. Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan illahi, jalan keluar illahi, penyelesaian illahi dan pelipatgandaan illahi di seluruh area kehidupan kita dinyatakan.
Abah Daniel
