“Spiritualitas Pemimpin Kristen Di Era Disruptif”

Pelitanusantara.com | Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado, baru-baru ini mewisuda sarjana strategi 1 Teologi dan PAK, serta Pendidikan Anak Usia Dini (S Pd.), demikian juga program Magister (S2), baik Teologi maupun PAK.

Hal yang menarik dari catatan penulis adalah tema wisuda ke VII, Jumat, 23 Oktober 2020, yaitu: “Spiritualitas Pemimpin Kristen Di Era Disruptif”. Kata Desruptif, tentu saja menjadi kata yang relatif asing dalam wilayah Teologi karena kata ini akrab sekali dalam dunia bisnis.
Kali ini kata “desruptif” menjadi tantangan bagi Kepemimpinan Kristen di era kekinian.

ERA disrupsi merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Guru Besar Harvard Business School, Clayton M. Cristhensen melalui bukunya yang berjudul The Innovator Dilemma (1997) menjelaskan bahwa disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan. Fenomena menjamurnya e-Commerce hari ini merupakah salah satu contoh disrupsi.

Dalam khotbah di acara wisuda STAK Lentera Bangsa, dijelaskan tentang disrupsi yang memang awalnya lebih banyak terjadi pada dunia bisnis atau persaingan usaha. Namun tidak semata pada dunia bisnis, hal ini juga mempengaruhi cara komunikasi masyarakat yang biasa menikmati santapan informasi melalui media massa mainstream, kini berlaih ke digital. Tidak hanya koran, media elektronik seperti radio dan televisi pun harus bersaing dengan konten-konten yang begitu simpel dan menarik di media sosial (YouTube, Instagram, Facebook, Twitter, dll.). Selanjutnya, Bapak Pdt. Dr. James F.S. Palk, S.Ikom., MM., M.Th. sebagai Pembina Yayasan Indonesia Bangkit, menceritakan tentang perubahan (Disruptif) masa lalu dengan kereta kuda yang dewasa ini tergantikan oleh mobil.

Fenomena ini pun tentunya tidak terlepas dari munculnya teknologi digital yang memudahkan aktivitas masyarakat. Satu sentuhan pada layar hand phone, kini langsung mendapat jutaan informasi di dalamnya. Adagium, “Pengetahuan Sebatas Paket Data” menjadi alat ukur dalam bahasa gaul di komunitas.

Globalisasi menyebabkan dunia menjadi begitu sempit. Era Globalisasi mengakibatkan semua peristiwa yang terjadi di seluruh penjuru dunia dengan mudah dapat di ketahui. Hal ini terjadi oleh karena adanya teknologi transportasi dan komunikasi yang makin canggih. Kehidupan di sekitar kita semakin canggih dan serba modern. Misalnya, sekarang banyak menggunakan HP yang sudah dilengkapi fasilitas internet. Dengan internet, kita menjadi lebih cepat mengetahui hal-hal yang luas dari penjuru dunia.

Beranjak dari hal itu, akhirnya kita tahu bahwa era disrupsi tentunya berdampak besar pada perkembangan media hari ini. Lantas apa dan bagaimana konsep kepemimpinan untuk merespon Era Disruptif?

Perkembangan teknologi dan perilaku disrupsi ini bukan hanya untuk sebagian kalangan saja terutama yang sering jadi patokannya adalah generasi milenial. Padahal tidak seperti itu, era globalisasi merupakan suatu proses yan menyebarkan perkembangan iptek, dan dari proses globalisasi tersebut menyebabkan arus pedoman hidup menjadi berubah. Memang tidak ada salahnya untuk terus mengikuti perkembangan globalisasi dunia agar dapat bersaing dengan negara maju yang lainnya, tetapi kita tetap harus sadar dan selektif dalam menerima perubahan.

Kembali pada apa yang dimaksud era disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya. Dari yang dahulu konvensional kemudian ada kebutuhan dan ada harapan agar itu berpindah ke dunia maya (digital). Disrupsi memang membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, hal ini karena khalayak dan lanskap yang berubah baik itu dibidang komunikasi, bisnis dan lainnya. Namun itu membawa kita pada era yang mengasah kemampuan berfikir dan berinovasi manusia lebih maju.


Dalam tulisan ini, kita tetap fokus pada spiritual seorang pemimpin di Era Disruptif. Diawali dengan LEADING FROM THE FRONT. Pemimpin wajib tampil di depan, mengambil keputusan yang tepat dan tegas, tidak plin plan, esuk dele sore tempe. Tentu sebagian besar kita paham bahwa pemimpin itu harus berada di depan bila: (1) Ada masalah (krisis), (2) Ada hal yang sangat penting, (3) Ada terobosan atau hal yang baru. Dalam tiga kondisi ini, pemimpin wajib di depan, tidak boleh mendelegasikan apalagi melempar tanggung jawab.
Selanjutnya, FOCUS ON THE CORE PURPOSE. Bersyukurlah bagi institusi yang selama ini menanamkan visi dan value. Bekerja atau melayani bukan hanya bekerja atau melayani saja tetapi dalam rangka menjalankan misi di semesta. Kita semua ibarat “super hero” dalam film Avanger, masing-masing punya kesaktian untuk menuntaskan misi di bumi. Kemudian, seorang pemimpin wajib berkomunikasi dengan tepat dan memastikan bahwa semua elemen memahami apa yang ia inginkan. Visi dan Misi disampaikan melalui komunikasi yang transparan, terbuka dan akurat akan menambah kepercayaan orang-orang yang dipimpin dan menguatkan pengaruh sang pemimpin. Untuk semuanya itu dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki hubungan dengan Tuhan yang baik. Membangun spritualitas yang intens di setiap waktu untuk mendapatkan hikmat Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa dalam perspektif Tuhan. Tokoh bisnis seperti TP Rachmat, menyatakan bahwa “Karakter utama yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah ketegasan, keberanian, dan integritas.” Ketegasan dan keberanian seorang pemimpin itu baik, namun tanpa integritas semuanya itu nyaris tidak ada arti yang membangun bagi yang dipimpinnya. Jika integritas yang menjadi standar utama seorang pemimpin, maka salah seorang yang bisa menjadi referensi bagi kepemimpinan Kristen adalah Musa. Seorang yang berani, rendah hati, bijaksana, dan takut Tuhan.

Untuk mewujudkan karakter pemimpin yang kompeten dan kredibel, maka seseorang yang ditunjuk atau dipilih menjadi pemimpin harus memiliki fondasi yang baik, utamanya fondasi nilai spiritual. Seorang pemimpin dengan nilai spiritual yang baik menganggap jabatan sebagai amanah.

Robert K. Greenleaf menyuarakan pentingnya dimensi spiritual dalam kepemimpinan lewat bukunya, The Servant as Leader, yang disusunnya demi memberikan sumbangsih bagi terbentuknya kondisi masyarakat yang lebih baik, yakni masyarakat yang lebih peduli.
STAK Lentera Bangsa Manado, memperhatikan Era Disruptif dengan mempersiapkan para pemimpin yang mampu menghadapi segala tantangan jaman dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pemimpin dalam kehidupannya.


Untuk semua wisudaan dan wisudawati, baik program Strata 1, maupun Magister, selamat menjalani tanggungjawab kepemimpinan di Era Disruptif ini. Tuhan Yesus memberkati. (PN)

Penulis adalah Anggota Dewan Pendidikan Kota Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *