Sisingamangaraja XII

Pelitanusantara.com | Sisingamangaraja XII adalah Raja Negeri Toba (kini termasuk wilayah Sumatera Utara) yang lahir tanggal 18 Februari 1845 atau 174 tahun silam. Pemerintah RI telah menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional yang tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Salah satu yang masih menjadi perdebatan bahkan hingga saat ini adalah mengenai agama Sisingamangaraja XII. Tidak sedikit yang meyakini ia beragama Nasrani, juga pernah dikabarkan memeluk Islam. Namun, besar kemungkinan, Sisingamangaraja XII merupakan penganut kepercayaan lokal, Parmalim. Yang jelas, Sisingamangaraja XII yang memerintah Negeri Toba sejak tahun 1876 ini gigih melawan penjajah Belanda. Hingga akhirnya tokoh besar masyarakat Batak ini meninggal dunia tanggal 17 Juni 1907 dalam usia umur 62 tahun. Pada 9 November 1961, pemerintah RI menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.

Berikut ini jejak-rekam perjuangan Sisingamangaraja XII:

1845 Dilahirkan di Bakara, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, dengan nama kecil Patuan Bosar, pada 18 Februari 1845. Beberapa penelitian menyebut Sisingamangaraja XII merupakan keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat.

1873 Belanda berencana melakukan invasi militer ke Aceh. Sisingamangaraja XII yang kala itu belum menjadi Raja Negeri Toba menentang rencana tersebut dan menyatakan perang karena pihaknya bersahabat dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

1876 Sisingamangaraja XII naik takhta sebagai Raja Negeri Toba. Negeri Toba kala itu masih menjadi wilayah taklukan Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat. Pusat pemerintahan Negeri Toba di bawah pimpinan Sisingamangaraja XII terletak di Bakara.

1877 Beberapa misionaris Kristen meminta bantuan kepada Belanda untuk melindungi mereka dari ancaman pengusiran oleh Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII memang jarang mengizinkan orang asing memasuki wilayahnya. Belanda menyanggupi, bahkan berencana menaklukkan seluruh wilayah Toba.

1878 Tanggal 6 Februari 1878, Belanda mengirimkan pasukannya untuk membantu kaum misionaris, kemudian mendirikan benteng pertahanan di wilayah kekuasaan Sisingamangaraja XII. Sebagai Raja Negeri Toba, Sisingamangaraja XII tidak bisa menerima hal ini. Ia pun mengumumkan maklumat perang pada 16 Februari 1878. Pasukan Belanda yang berjumlah ratusan orang menyerang Bakara pada 1 Mei 1878. Dua hari kemudian, pusat pemerintahan Negeri Toba itu bisa diduduki Belanda. Beruntung, Sisingamangaraja XII beserta para pengikutnya berhasil meloloskan diri, dan menerapkan strategi gerilya.

Setelah menaklukkan Bakara, Belanda yang memang lebih unggul jumlah personel dan persenjataan berhasil menduduki beberapa wilayah Negeri Toba, termasuk Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, dan Gurgur. 1883-1884 Meskipun semakin terdesak, Sisingamangaraja XII pantang menyerah dan terus melakukan perlawanan.

Pada 1883, Sisingamangaraja XII mendapat bantuan pasukan dari Kesultanan Aceh Darussalam kemudian menyerang beberapa pos Belanda. 1907 Setelah bertahun-tahun terlibat peperangan dalam upaya mengusir Belanda dari tanah Toba, Sisingamangaraja XII wafat tanggal 17 Juni 1907. Ia gugur dalam pertempuran melawan Belanda di kaki bukit Lae Sibulbulen, tepatnya di Desa Si Onom Hudon yang sekarang terletak di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.

Dada Sisingamangaraja XII tertembus peluru dalam pertempuran itu. Dua putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta seorang putrinya yang bernama Lopian, turut menjadi korban meninggal dunia. Keluarganya yang lain ditawan Belanda. Jenazah Sisingamangaraja XII dimakamkan di Silindung. 1953-1961 Kuburan Sisingamangaraja XII yang semula berada di Silindung dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, pada 14 Juni 1953. Kemudian, tanggal 19 November 1961, Presiden Sukarno atas nama pemerintah RI menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *