SEKILAS KISAH PATAKA SANG HYANG BARUNA SEBAGAI SIMBOL KEJAYAAN MARATIM NUSANTARA

jz21riq
SANG HYANG BARUNA
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

 

TOMBAK SANG HYANG BARUNA PUSAKA MAJAPAHIT

Pelitanusantara.com |Belum lama ini berbagai media memberitakan, Keris Pusaka “Nogo Siluman” milik Pangeran Diponegoro, yang sebelumnya berada di Belanda, dipulangkan ke Tanah Air. Penyerahan keris “Nogo Siluman” milik Pangeran Diponegoro ini dilakukan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Inggrid van Engelshoven kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja. Penyerahan keris Pangeran Diponegoro kali ini merupakan bagian dari perjanjian antara Indonesia dan Belanda pada 1975 mengenai pengembalian warisan budaya yang berkaitan dengan tokoh bersejarah.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Panji Getih-Getah Samudra

Lain halnya dengan Tombak Pataka “Sang Hyang Baruna” Pusaka milik Majapahit. Nasibnya berbeda dengan Keris pusaka milik Pangeran Diponegoro. Pataka Sang Hyang Baruna bersama tiga pataka lainnya sampai saat ini masih berada di THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART1000 5th Avenue, New York, NY – USA. Belum ada kepastian bagaimana ceritanya Pataka “Sang Hyang Baruna” bersama tiga Pataka lainya; Sang Dwija Naga Nareswara, Sang Padmanaba Wiranagari dan Hyang Naga Amawabhumi, sampai berada di Negeri Paman Sam.
Dalam pewayangan, Sang Hyang Baruna dikenal sebagai Batara Waruna/Baruna. Batara Baruna adalah dewa penguasa alam air dan isinya. Pada jaman Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit Sang Hyang Baruna merupakan salah satu Pataka berbentuk dua mata tombak kembar diatas kepala dan ekor naga. Pembuatan Pataka ini sekita abad 12-13 pada masa Kerajaan Singosari.
Biasanya pataka ini dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, sebagai tanda bahwa di atas kapal tersebut ada seseorang yang bertindak mewakili Raja atau Negara (Duta). Pataka ini disandingkan dengan bendera atau panji atau bendera “Getih – Getah Samudra” yang terdiri dari lima garis merah dan empat garis putih, sebagai bendera armada militer SINGOSARI/MAJAPAHIT. Getah-Getih Samudra atau sekarang oleh TNI-AL disebut panji atau bendera “Ular-ular Tempur” dipakai oleh KRI-KRI TNI-AL saat melintas perairan internasional. Hanya sayangnya, Panji Ular-ular Tempur tidak lagi bersanding dengan Pataka SANG HYANG BARUNA.
Dalam sejarah, Pertama kali Pataka ini dibawa oleh Kartanegara dari Kerajaan Singosari dalam ekspedisi PAMALAYU dan dikemudian hari diserahkan kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singosari. Di Majapahit Pataka Sang Hyang Baruna terus berkiprah, di antaranya: Dua kali bersama ADITYAWARMAN dalam ekspedisi ke China dan Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit), yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya.
Sejarah mencatat sejak dulu bangsa kita adalah penakluk dan penguasah samudera. Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit telah membuktikannya bersama Pataka Sang Hyang Baruna. Konon ada yang mengatakan, “siapa yang memiliki Pataka Sang Hyang Baruna, dia akan menguasai samudera”. Perkataan ini benar atau yidak belum ada satu teori yang dapat membuktikannya. Hanya, bukankah sekarang Amerika Serikat dapat dikatakan penguasah samudra?

Mudah-mudahan satu waktu nanti, Pataka SANG HYANG BARUNA dapat bersanding lagi dengan panji-panji ULAR-ULAR TEMPUR TNI AL.
(QQ : dari berbagai sumber)