Kristen adalah agama minoritas ketiga di Bali setelah Islam yang dianut oleh 64.454 orang Protestan dan 31.397 orang Katolik. Simak ulasan sejarah Kekristenan di Bali berikut.
Pelitanusantara.com – Persentase penduduk Bali yang beragama Kristen dan Katolik masing-masing sebesar 1,66% dan 0,81%. Konsentrasi umat Protestan terbesar di Bali terdapat di Desa Blimbingsari sedangkan konsentrasi umat Katolik di Bali terdapat di Desa Palasari. Namun, perjalanan bagaimana orang Bali menerima Kristen di pulau yang indah ini penuh dengan dinamika dan cerita panjang. Berikut adalah sejarah agama Kristen di Bali.
Undangan dari Raja Bali
Di perpustakaan Vatikan, Roma, tersimpan sepucuk surat dari Raja Klungkung, pemimpin Bali pada awal abad ke-17. Surat yang tertulis di atas daun lontar tersebut merupakan undangan dari Raja Klungkung kepada para Imam Portugis di Pusat Katolik Malaka untuk datang ke Bali. Tertulis: “Saya sangat senang jika kita mulai berteman sekarang. Saya akan senang jika Romo datang ke sini, jadi siapa pun yang ingin diizinkan masuk Kristen.” kata Raja Klungkung. Surat itu tepatnya tahun 1635. Ajakan raja Bali itu tentu diterima baik oleh para pemuka agama Katolik di Malaka yang saat itu dikuasai Portugis.
Imam datang di Bali
Tak lama setelah itu, tepatnya 11 Maret 1635, datanglah dua imam dari Malaka. Mereka adalah Romo Manuel Carualho S.J. dan Azeuado S.J. Ini adalah awal kontak Bali dengan misionaris Katolik. Setidaknya undangan Raja Klungkung merupakan peristiwa pertama yang dicatat sejarah. Sayangnya, tidak ada catatan tentang hasil dari kedua misionaris Katolik tersebut selama berada di Bali. Atau, tentang diterima tidaknya agama Katolik oleh masyarakat Bali saat itu. Sejarah kontak antara misionaris Katolik dan komunitas Hindu Bali terputus di sini.
Dibangunnya Desa Kristen di Bali
Romo Simon Buis memiliki keinginan untuk membangun desa bergaya tradisional Bali. Untuk itu, Simon Buis mengajukan permohonan kepada Residen Bali di Singaraja agar diberikan lahan hutan di Bali bagian barat. Permintaan itu tidak dikabulkan, meski Romo Simon Buis sudah berkali-kali mengajukannya. Romo Simon Buis kemudian mengajukan permintaan lain kepada dewan raja. Permintaan itu dikabulkan. Dewan raja juga memberikan tanah kepada Residen Palasari Lama seluas 200 ha, yang tidak jauh dari hutan Pangkung Sente.
Lokasi baru ini sekarang bernama Desa Palasari. Kebetulan, Palasari adalah tanah yang subur dan menarik orang untuk pindah ke tanah baru ini. Dengan demikian, cita-cita Romo Simon Buis untuk membangun perkampungan tradisional Katolik Bali mendapatkan jalan. Di desa ini, meskipun beragama Katolik Roma, masyarakat Bali masih menggunakan adat dan tradisi Bali, baik dalam berpakaian, bahasa, maupun bangunan.
Perpindahan agama di Bali
Bali yang telah menjadi ladang misi sejak tahun 1630 mengalami panen raya sejak pembaptisan bersejarah dan penuh gejolak Tukad Yeh Poh, Untung-Untal Dalung 11 November 1931. Sejak saat itu, agama Kristen terus merambah Bali hingga pertobatan mencapai sedikitnya 27.500 penduduk. Sosok baru ini berhasil dipanen oleh misi Protestan, sementara umat Katolik diharapkan mendapatkan pengikut yang setara. Perpindahan agama ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dengan upaya yang terstruktur, sistematis dan terlindung oleh badan misi dunia.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa perpindahan agama di Bali terbagi menjadi tiga periode. Periode pertama antara tahun 1597-1928, periode kedua tahun 1929-1936 didasarkan pada efektivitas upaya penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir tahun 1937-1949 sebagai masa persiapan lahirnya Gereja Kristen Protestan Bali.
Beberapa Misionaris Kristen datang ke Bali
Periode pertama lebih merupakan periode persiapan, di mana sejumlah badan misi dunia, zendeling (misionaris) dan misionaris (misi Katolik) belajar dan datang ke Bali. Sejumlah imam datang ke Bali seperti Drs. H.W. Medhurst dan Dr. W.R. Baron Van Hoevall. Selain itu, beberapa peneliti diberangkatkan sebagai tahap persiapan seperti Van Der Tuuk. Dia diutus oleh Utrecht Missions Society (U.Z.W.) bekerja sama dengan Dutch Bible Society (N.B.G.). Van Der Tuuk bekerja di Bali pada tahun 1870-1873, selain menerjemahkan Injil juga membuat kamus bahasa Bali.
Sejumlah misionaris ini mempelajari berbagai lontar kuno di Bali. Ternyata di balik kokohnya sistem adat, dilansir dari para pekerja Kristen di Bali seperti Van Hoevall, sejak tahun 1846 banyak masyarakat Bali yang tidak puas dengan sistem adat dan agama tersebut. Ditulis oleh Hoeval banyak orang Bali merasa sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan doa menyebabkan mereka menjadi miskin. Inilah yang dilihat Hoeval sebagai celah masuknya penyebaran agama Kristen di Bali.
Orang Bali pertama yang menjadi Kristen
Namun, meski zending terus bergulir di Bali dengan diutusnya sejumlah penginjil, upaya di tahap awal gagal. Tiga misionaris Belanda, Van Eck, Van Vog, Van der Vroom, setelah 13 tahun berusaha, pada tahun 1873 berhasil membaptis hanya satu orang Bali, I Goesti Wajan Karangasem dari Bali Timur, Jagaraga Singaraja.
I Goesti Wajan Karangasem diberi nama baptis Nikodemus. Namun, karena tidak kuat menanggung beban pengucilan dari keluarga dan banjarnya, ia diduga membunuh De Vroom pada tahun 1881. Sejak peristiwa berdarah itu, Belanda menutup kegiatan penginjilannya selama kurang lebih 50 tahun. Selain itu, melalui perdebatan panjang, Belanda juga menerapkan kebijakan budaya dan pendidikan yang dikenal dengan Baliseering (Balinisasi) yang dimulai pada tahun 1920-an yang mempersulit para penginjil untuk mendapatkan izin masuk ke Bali.
Namun badan misi tidak menyerah. Di tengah penutupan kegiatan penginjilan, penginjil pribumi Salam Watias dari Kediri, bekerja untuk Gereja Kristen Jawi Wetan (G.K.J.W) datang ke Bali untuk menjual buku-buku Kristen. Watias menggunakan pendekatan budaya dan mendekati orang Bali karena sesamanya “Wong Majapahit”. Ia menjual buku-buku tersebut ke desa-desa, terutama di Bali bagian utara.
Strategi baru untuk menyebarkan agama Kristen
Sejak orang Bali senang membaca pelajaran agama, ribuan buku telah terjual. Buku yang paling populer adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali. Tidak tertutup kemungkinan pendukung Surya Kanta yang tidak puas dengan kondisi riil adat dan agama Bali menjadi pembeli buku Salam Watia.
Sekitar 80 orang Bali akhirnya minta dibaptis oleh Watiyas. Namun karya yang dinilai sangat sukses oleh Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., mempekerjakan seorang Penginjil Tionghoa bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian menyebut dirinya Tsang To Hang. Tsang To Hang berhasil masuk ke Bali pada tahun 1931 setelah CMA berhasil mendapatkan izin khusus untuk menginjili orang Tionghoa di Bali. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan izin masuk ke Bali, tetapi karena izin tidak diperoleh mereka berurusan dengan izin untuk penginjilan terbatas kepada orang Tionghoa dan Belanda akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.
[Dari Berbagai Sumber]
