Sebagai Mitra Pemerintah: Menkes Hadiri HUT Ke-5 Yayasan Ginjal Indonesia

  • Bagikan

Jakarta – Pelitanusantara.com Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan perihal penyakit gagal ginjal dalam webinar pertama HUT ke-5 Yayasan Ginjal Indonesia.

Menurut Budi, penyakit ginjal merupakan penyakit katastropik yang menelan pembiayaan cukup besar dan meningkat dari tahun ke tahun.

Budi melanjutkan, umumnya pasien datang dalam kondisi lanjut, di mana fungsi ginjal sudah sangat rendah dan terjadi komplikasi akut, sehingga pemilihan pengobatan sangat terbatas.

“Penyebab terbanyak terjadinya penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi, yang berhubungan dengan faktor risiko seperti diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol”, Kata Menkes dalam keterangannya, Rabu (01/09/2021).

Lanjut Budi, upaya promosi dan edukasi untuk mengurangi perilaku berisiko tersebut, harus dilaksanakan oleh pemerintah bersama-sama dengan tokoh masyarakat. Selain itu, Menkes menghimbau kepada masyarakat agar untuk melakukan cek kesehatan secara dini adanya obesitas diabetes dan hipertensi, disertai dengan pengobatan secara standar, menjadi salah satu langkah strategis untuk mencegah terjadinya penyakit gagal ginjal.

“Saya sangat mengapresiasi Yayasan Ginjal Indonesia, yang merupakan mitra pemerintah dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penanggulangan penyakit ginjal kronis, sehingga penyandang penyakit ginjal kronis dapat menjalani hidup yang lebih berkualitas” ungkap Budi mengapresiasi Yayasan Ginjal Indonesia.

Selain itu, webinar di isi dengan diskusi bersama dr. Henny Adriani Puspitasari, SpA, Divisi Nefrologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM dengan topik “Transplantasi Ginjal Pada Anak”.

Menurut dokter Henny, penyakit Ginjal Kronik pada anak mayoritas disebabkan karena Glomerulonefritis (49%) berdasarkan data RSCM. Menurutnya, saat sudah mencapai tahap akhir dibutuhkan pengganti ginjal karena fungsi ginjal sudah tidak berjalan.

“Ada tiga terapi pengganti ginjal, diantaranya CAPD, Hemodialisis, Transplantasi Ginjal. Dari tiga terapi tersebut, transplant ginjal adalah pilihan terbaik karena memiliki banyak keunggulan yaitu: bisa tetap sekolah dan beraktivitas seperti biasa, tidak memerlukan akses vascular/peritoneal, lebih murah dalam segi pembiayaan (cost effective), pertumbuhan dan perkembangan lebih baik” jelas Spesialis Nefrologi Anak tersebut.

Namun pada prakteknya penerapan transplantasi ginjal pada anak masih sangat kecil di Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Pada umumnya donor ginjal didapatkan dari donor hidup yang biasanya berasal dari keluarga dan donor jenazah, lanjut dokter Henny.

Sebagai mitra pemerintah Yayasan Ginjal Indonesia terus melakukan inovasi dalam memberikan edukasi dan pelayanan terhadap pasien anak gagal ginjal. Sebagaimana dijelaskan oleh Ketua Yayasan Ginjal Indonesia dalam sambutannya bahwa, Yagin saat ini mempunyai 12 program tahunan.

“Diantara 12 program tersebut yaitu, Bantuan Transport Cuci Darah, Santunan Berkah Ramadhan, Bantuan Tahun Baru, Bantuan Ultah Yagin, Santuan Anak Yatim GGK, Bantuan Pendidikan & Homeshcooling, Bantuan Alat Kesehatan, Santunan Akomodasi Rawat Inap, Bantuan Obat dan Suplemen, Bantuan Cek Lab dan Vaksin, Santunan Duka, Bantuan Konseling dan Pendampingan” jelas Syaihul Hady, pendiri sekaligus ketua dari Yayasan Ginjal Indonesia.

Seperti diketahui acara HUT ke-5 Yayasan Ginjal Indonesia di gelar secara virtual, peserta mengikuti dari tempat tinggal masing-masing. Acara webinar kali ini merupakan webinar pertama yang diselenggarakan Yayasan Ginjal Indonesia dan akan berakhir pada acara puncaknya tanggal 12 Oktober 2021. (Romo Kefas)

  • Bagikan