Rintihan Pecinta Pusaka dan Barang Antik Trenggalek

Kefaspelita
IMG 20220827 WA0120

TRENGGALEK – Sepanjang sejarah dalam peringatan Hari Jadi Bumi Minak Sopal, tahun inilah pertama kalinya pameran pusaka dan barang antik mendapatkan fasilitas di trotoar samping Pasar Pon trenggalek. Ini merupakan sesuatu yang aneh seirama dengan adanya kirap pusaka saat peringatan hari jadi trenggalek, hal tersebut diungkap oleh Hermanto selaku pengamat pusaka Trenggalek dan juga penggagas pameran pusaka pertama yang juga mantan kepala Dinas Pariwisata, Dinas Komindag Trenggalek di era Bupati Mulyadi,  di area pameran pusaka dan barang antik, Sabtu 27/8/2022.

“Untuk pameran pusaka itu sebenarnya dulu saya dan teman-teman pecinta pusaka yang menginisiasi dan mendapat fasilitas tempat di seputar Pendapa Mangala Praja di era Bupati Suharto dan berlanjut pada event – event berikutnya, nah sekarang saya melihat seolah budaya ini tersisih dan tidak dihormati sama sekali” Kata Hermanto.


Menurutnya dalam dua tahun pasca pandemi covid-19, baru saat ini diadakan kembali event pameran pusaka dan barang antik.

“Mungkin semua ini terjadi karena kurang koordinasinya teman-teman pecinta pusaka dan barang antik dengan pihak panitia. Namun terlepas dari itu semua tentunya dari pihak pemerintah ada kepekaan dan sigap dalam menyikapi situasi yang ada, sehingga hal seperti ini tidak harus terjadi,” tegas Hermanto.

Sedang gelar pusaka saat kali pertama itu sebenarnya bukanlah sekedar memamerkan pusaka, namun saat itu juga mengundang para seniman pusaka dari berbagai penjuru pulau jawa untuk diskusi bareng terkait pusaka. Adapun untuk semua di fasilitasi dan semua ditanggung dari pihak pemda.

Menyinggung soal pameran pusaka tahun ini Hermanto menanggapi, penempatan posisi pameran di pinggir jalan tidaklah etis karena ini soal budaya.

“Ini emang sangat mengenaskan, pusaka kok dipampang dipinggir jalan tak ubahnya seperti mainan anak-anak,” canda Hermanto diikuti riuh tawa semua paguyuban yang nimbrung bareng sambil nyruput kopi khas trenggalek.

Pihaknya berharap semoga hal seperti ini tidak terjadi di tahun-tahun yang akan datang dan berpesan terhadap semua anggota paguyuban untuk aktif membangun komunikasi dengan pihak terkait utama dengan pemda, karena telah resmi diakui unesco (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, Budaya dan norma istiadat PBB) bahwa keris  (pusaka) itu berasal dari pulau jawa, sedang trenggalek sendiri juga menggelar yang namanya kirap pusaka saat memperingati hari jadi trenggalek.

Sedang dipihak lain Tomi selaku pelaksana pemeran pusaka merasa kecewa atas fasilitas yang ada dalam pameran tahun ini, tidak menyangka tempat yang disediakan dengan posisi di bahu jalan.

” Tidak ingin sebenarnya kami untuk dihargai namun ini adalah pusaka yang ada sejak nenek moyang dan ini juga salah satu budaya adiluhong dan juga diakui Unesco (wajib dipelihara) tentu seyogyanya dihargai,” terangnya.

Adapun dalam pagelaran pemeran pusaka dan barang antik ini juga murni swadaya dari para pencinta terkait pembiayaannya dalam arti kita patungan. Karena untuk biaya sewa tempat selama pameran berlangsung dan dikenakan tarif sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah.

(mj pelitanusantara.com)