Revolusi Tidak Pernah Mati, Tan Malaka: Sang Visioner yang Dilupakan

Images (22)
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di balik bayang-bayang sejarah, tersembunyi sosok yang tak pernah mengenal kata menyerah. Tan Malaka, seorang revolusioner murni yang hidup dan mati demi republik yang bebas dan berpikir. Ia adalah simbol dari sebuah perjuangan yang tak pernah mencari pujian, namun selalu mencari kebenaran.

Tan Malaka lahir pada 1897 di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat. Ia mengenyam pendidikan Belanda di Kweekschool Bukittinggi sebelum melanjutkan ke Rijkskweekschool di Belanda. Di negeri penjajah itu, ia menyerap ilmu dan ide-ide Marxisme, sosialisme, dan nasionalisme—yang kelak akan menjadi bahan bakar perjuangannya untuk membebaskan Indonesia. (Sumber: Buku “Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia” oleh Harry A. Poeze)

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Tan Malaka aktif dalam pergerakan kiri dan menjadi wakil dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di Kongres Komunis Internasional di Moskow pada awal 1920-an. Namun, pandangannya yang independen membuatnya berselisih dengan garis partai. Ia justru lebih memilih membentuk poros perjuangannya sendiri—dengan menekankan pentingnya kemerdekaan nasional sebelum revolusi sosial. (Sumber: Artikel “Tan Malaka: Tokoh Pergerakan Kiri Indonesia” di situs web (tautan tidak tersedia))

Tan Malaka adalah seorang penulis yang produktif dan memiliki beberapa karya yang terkenal, antara lain:

  • Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika): sebuah karya filsafat modern yang menantang cara berpikir takhayul dan feodal kala itu.
  • Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia): sebuah karya yang membahas tentang visi dan strategi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
  • Parlemen atau Soviet: sebuah karya yang membahas tentang sistem pemerintahan dan peran rakyat dalam perjuangan revolusi.

Tan Malaka percaya bahwa revolusi sejati hanya bisa lahir dari kesadaran logis, bukan sekadar semangat. Ia juga percaya bahwa “Kemerdekaan nasional adalah syarat utama untuk mencapai kemerdekaan sosial.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tan Malaka memahami pentingnya kemerdekaan nasional sebagai langkah awal menuju kemerdekaan sosial.

Seperti yang ia katakan, “Revolusi tidak akan berhasil tanpa kesadaran rakyat yang tinggi.” Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran dan partisipasi aktif rakyat dalam perjuangan revolusi.

Tan Malaka adalah seorang revolusioner yang gigih dan militan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia memiliki visi yang progresif dan berani menantang status quo untuk menciptakan perubahan yang lebih baik. Dengan komitmen yang kuat terhadap prinsip-prinsip revolusi dan kemerdekaan, Tan Malaka rela mengorbankan dirinya demi mencapai tujuan tersebut.

Namun tragisnya, setelah Republik berdiri, Tan Malaka justru dipandang sebagai ancaman oleh elite republik sendiri. Pada 1949, ia ditangkap dan dieksekusi secara rahasia oleh Tentara Republik Indonesia di Kediri, Jawa Timur—tanpa proses pengadilan. Baru pada 1963, Soekarno secara simbolik mengakui jasanya sebagai Pahlawan Nasional. (Sumber: Artikel “Tan Malaka: Pahlawan Nasional yang Dilupakan” di situs web historia.Id

Tan Malaka adalah wajah dari seorang revolusioner murni—yang hidup dan mati demi republik yang bebas dan berpikir. Seorang pahlawan tanpa tempat di negeri yang ia impikan. Mari kita mengenang dan menghormati jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang Tan Malaka dan perjuangannya, serta menginspirasi pembaca untuk lebih mengenal dan menghargai jasa-jasa pahlawan nasional.

Sumber:
– Poeze, H. A. (1976). Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.
– historia.Id (2020). Tan Malaka: Tokoh Pergerakan Kiri Indonesia.
– Tan Malaka. (1943). Madilog.
– historia.Id (2020). Tan Malaka: Pahlawan Nasional yang Dilupakan.