Renungan Harian Bahasa Jawa Dilah Kasukman, Mendukung Pelayanan di Pedesaan

IMG 20241101 WA0078

Pelitanusantara.com

Renungan bahasa Jawa Dilah Kasukman edisi November 2024 sudah terbit dan siap dikonsumsi sebagai asupan rohani berbalutkan budaya oleh para pembacanya. Penerbitan renungan harian berbahasa Jawa ini sudah memasuki tahun ke-6.

Sebagai pemimpin redaksi dan editor sejak awal penerbitan di tahun 2018, saya memahami dengan pergumulan penerbitan yang digawangi oleh Lembaga Pekabaran Injil Sinode (LPIS) Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang berpusat di kota Pati ini. Pergumulan berat yang sampai hari ini masih dihayati adalah masalah pendanaan, sedikitnya penulis naskah serta minimnya mitra sponsor.

Harga jual buku renungan harian Dilah Kasukman ini sejak awal penerbitan hingga sekarang ini belum juga dinaikkan. Harga jual perbuku masih tetap delapan ribu rupiah pereksemplarnya. Ada rencana untuk menaikkan menjadi sepuluh ribu rupiah pereksemplarnya. Hal ini belum dilakukan karena pelanggan masih belum ideal. Setiap bulan terbit berkisar 800-1000 eksemplar.

Sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan jemaat lingkup Sinode GITJ yang menurut data berkisar 50 ribuan ini tentu tidak cukup. Hanya saja karena mungkin ini media berbahasa Jawa dan belum ada regulasi yang jelas dari pihak sinode sendiri terhadap pemasaran Dilah Kasukman ini sendiri, maka pelanggan tidak juga naik secara signifikan. Hal inilah yang berpengaruh besar dalam pendanaan. Dana hanya pas-pasan saja untuk penerbitan. Untuk honor penulis, sangat minim sekali, sehingga hal ini berdampak dengan minimnya para penulis yang terlibat.

Para Penulis yang Berjuang

Kami mempunyai penulis di renungan harian ini 10-15 orang. Mereka berusia 30-an tahun sampai 70-an tahun. Tiga orang awam telogia dan lainnya mempunyai latar belakang teologia. Dari segi bahasa, ada yang cukup ahli tata bahasa sehingga tulisan tidak banyak koreksi, sampai rekan yang menulis dengan tata bahasa seadanya, sehingga banyak sekali perbaikannya, dari segi pilihan kata, ejaan dan penataan kalimatnya.

Ada rekan yang hendak menulis dengan cara minta supaya tulisannya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dari naskah semula berbahasa Indoensia. Tapi hal ini tidak kami kerjakan karena terlalu banyak makan waktu. Setelah ulang tahun ke-3 penerbitan ini, ada seorang penulis wanita yang masuk, sebelumnya semua penulis adalah para pria.

Menambah penulis renungan bahasa Jawa, bukanlah hal yang mudah. Saya sudah menyampaikan di beberapa grup WA dan Face Book, tidak ada respon dari pembaca. Mungkin lebih mudah bagi mereka menulis dalam bahasa Indoensia dari pada menulis dalam bahasa Jawa. Apalagi honor yang kami persiapkan untuk satu tulisannya sangat minim. .

Ada seorang penulis muda yang sempat produktif di awal-aawal penerbitan, Pdt. Danang Tutut Arifal, dia mengatakan bahwa menulis renungan bahasa Jawa adalah dengan tujuan hepi-hepi, jadi tidak untuk tujuan finansial. Saya secara pribadi lega mendengar pernyataannya. Saya kira semua penulis, sebut saja Iskandar MZ, Pdt. Abednego Utomo Prasetyo, Taufan Suherno, Pdt. Suratman, Pdt. Barnabas Mohammad Sodiq, Pdt. Sukodono, Pdt. Siswanto dan Nunia Widowinarti, Pdt. Suharto dan penulis-penulis lainnya, tentu memiliki dasar pemikiran yang sama dalam kreativitas penulisannya.

Sangat Mendukung

Untuk menjangkau pembaca yang tidak sempat berlangganan karena lokasi yang jauh dan dorongan untuk menjadi berkat bagi mereka, maka saya sudah 6 tahun berjalan, seiring usia penerbitan, saya membuat akun Dilah Kasukman di Facebook dan juga membuat group WA-nya. Setiap hari saya mengunggah artikel-artikel renungan itu. Rata-rata 10-15 orang menjadi komentator di Grup Facebook. Jumlah akun Facebook yang menjadi anggota sih 900 orang lebih. Mantap kan?

Sengaja saya minta pembaca Dilah Kasukman lewat Facebook (FB) saya mintai komentarnya terhadap penerbitan ini. Hal ini untuk umpan balik perbaikan penulisan, kemasan buku, pendistribusiannya dan lain-lain. Semoga semakin ke depan akan semakin baik, semakin mempesona dan memberi manfaat kepada pembaca baik dari sisi rohani maupun dari segi bahasa Jawa.

Komentar-komentar lewat FB yang ditulis singkat dari Janaka, katanya,”Sangat membantu sekali dalam memperdalam.keimanan dan menguatkan dalam pendalaman Firman.” Kemudian Andreas Sudiyani pembaca dari Klaten memberi komentar singkat juga“Lanjut pak sangat memberkati.” Yofela Timothy juga memberi komentar singkatnya,“Sangat memberkati.”

Sementara seorang pembaca dari Demak Endah Kusdiningsih menyampaikan,”Manfaatnya
1. Sebagai sarana pembelajaran pendidikan agama dalam keluarga, 2. Membantu bertumbuh secara rohani, 3. Sebagai sarana untuk instrospeksi diri, 4. Sebagai bekal menguatkan iman menghadapi masalah.” Hastuti Suryandari seorang pembaca dari Pati Jawa Tengah menyampaikan, “Dilah Kasukman sangat memberkati, terlebih bagi saya pribadi yang kurang pandai dalam berbahasa Jawa kalau dalam menyampaikan firman, sehingga dengan adanya Dilah Kasukman sangat membantu sebagai referensi dalam perbendaharaan kata.”

Kehadiran Dilah Kasukman, senyatanya sangat mendukung dalam berbahasa Jawa dan pelayanan gereja di pedesaan, terutama di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Oleh: Suyito Basuki