Pelitanusantara.com
Ada sebuah film yang bertemakan takut kawin. Anak muda ini melihat kehidupan pernikahan orang tuanya yang selalu ribut, bahkan mamanya terkesan mendominasi terhadap papanya. Secara kebetulan juga dia melihat pengalaman rekannya yang baru menikah, beberapa bulan kemudian terlihat berantakan. Temannya merasa kewalahan menghadapi istrinya yang mungkin terlalu banyak kemauannya, sehingga ada keinginan untuk berpisah dengan istrinya itu. Dan celakanya, anak muda itu punya pacar yang secara finasialdan pekerjaan lebih baik darinya. Sehingga selama pacaran, dia seolah hanya mengikut keinginan pacarnya itu, meski ia sangat mencintainya. Sehingga meski undangan sudah dicetak, tinggal menyebarkan, rencana pernikahan itu dibatalkan!
Problem yang dihadapi anak muda yang takut kawin ini adalah masa depan pernikahan yang suram dan menakutkan. Pertanyaan-pertanyaan yang menakutkan selalu menghantuinya. Bagaimana jika hidup rumah tangganya seperti rumah tangga papa mamanya? Bagaimana jika rumah tangganya seperti rumah tangga temannya yang baru menikah itu? Meski dia sangat mencintai pacarnya, seberapa lama cinta itu dapat bertahan di tengah suasana ‘ketidakharmonisan’ yang dia takutkan itu?
TUHAN sesungguhnya merencanakan kehidupan manusia, termasuk pernikahan di dalamnya adalah sungguh-sungguh amat baik. Saat Tuhan menyelesaikan karya-Nya dalam penciptaan, maka Dia berfirmah: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (Kej 1:31). Kata ‘baik’ dalam bahasa aslinya bisa bermakna indah dan menyenangkan, membahagiakan, dan sesuatu yang sempurna. Artinya apa? Tuhan melihat manusia dan pasangannya dan keluarga yang mereka bangun adalah sangat baik. Sebab dengan cara manusia berkeluarga itulah, maka rencana penyelamatan Tuhan kepada manusia dilakukan.
Nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan dalam Yeremia 29:11,”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Nabi Yeremia saat itu memberi penghiburan kepada orang Israel yang dibawa ke dalam negeri pembuangan Babel dengan menyatakan janji Allah yang bersifat menyeluruh, bahwa Tuhan tidak merencanakan yang kecelakaan, tetapi merencanakan damai sejahtera, sebuah hari depan yang penuh harapan. Firman Tuhan melalui Nabi Yeremia ini juga sebenarnya berlaku bagi keluarga-keluarga orang percaya. Bahwa Tuhan merencanakan kehidupan yang damai sejahtera, keluarga yang mempunyai hari depan yang penuh harapan. Kata ‘damai sejahtera’, dalam bahasa aslinya aadalah ‘syalom’ yang memiliki pengertian kedamaian yang sempurna: damai kepada diri sendiri, damai dengan sesama, dan damai dengan Allah. Kata ini juga berkaitan dengan keamanan, keberhasilan dan kemakmuran.
Tuhan tidak merencanakan kehidupan keluarga yang celaka. Kata ‘celaka’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata ‘evil’. Kata ‘celaka’ dalam bahasa aslinya dapat berarti buruk, jahat. Bukan itu yang Tuhan rencanakan dan kehendaki. Adapun jika suatu hari dijumpai kehidupan keluarga orang percaya yang penuh dengan percekcokan, tidak lagi dijumpai rasa damai sejahtera, tidak boleh serta merta menyalahkan Tuhan dengan berkata,”Itu memang sudah kehendaknya.” Atau berkata,”Memang dia bukan jodoh saya.”
Pertengkaran adalah sesuatu yang kadang muncul di sebuah rumah tangga. Tetapi itu tidak menunjukkan sesuatu yang kemudian disimpulkan kiamatnya sebuah rumah tangga. Pertengkaran harus diselesaikan dengan bijaksana. Di dalam konseling pra nikah dan pendadaran oleh majelis gereja sudah dibahas bagaimana mengatasi konflik dalam rumah tangga itu. Dengan dasar saling mengasihi, maka seseorang bisa menerima pasangannya dengan apa adanya dan dapat bersikap rendah hati satu sama lain dalam menyikapi sebuah persoalan.
Rancangan Tuhan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan ini, biarlah menjadi satu visi dalam orang percaya melakukan kehidupan berumah tangga. Orang percaya harus memiliki sebuah keyakinan bahwa rancangan Tuhan itu pasti akan tercapai suatu ketika. Yang perlu diupayakan adalah bagaimana rumah tangga dilakukan dengan menyelaraskan dengan firman Tuhan. Masalah dalam rumah tangga akan selalu ada, tetapi kehadiran Tuhan dalam firman-Nya akan menolong menyelesaikan segenap masalah yang ada. (Coba lihat pertolongan Tuhan dalam pesta perkawinan di Kana yang kekurangan anggur, Yohanes 2:1-11).
Film yang saya sebut di atas, endingnya adalah tumbuhnya kesadaran masing-masing calon pengantin. Bahwa mereka ternyata saling mencintai. Memang mereka memiliki kekurangan-kekurangan, tetapi mereka optimis dapat mengatasinya nanti dalam rumah tangga. Ditambah pula suasana yang mendukung: rumah tangga orang tuanya yang menjadi harmonis, demikian pula dengan rumah tangga temannya. Akhirnya mereka tetap berniat untuk menikah!
Tuhan mempunyai rancangan masa depan bagi keluarga-keluarga orang percaya yang penuh dengan damai sejahtera, sebuah hari depan yang penuh harapan. Orang percaya harus berjalan dalam rencana Tuhan dan yakinlah akan menemukan hari depan itu pada masa dan waktu yang Tuhan tentukan!
Oleh: Suyito Basuki
