Kutai Barat – Warga Dilang Puti, Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat, yang terdiri dari pemuda, warga setempat, dan Karang Taruna dari sembilan kampung di kawasan tersebut, mengungkapkan protes terkait kondisi jalan yang semakin parah. Jalan yang menghubungkan Simpang Kalteng hingga kampung-kampung mereka, seperti Penarong, Dilang Puti, Suakong, dan kampung lainnya, kini mengalami kerusakan yang parah.

Menurut Tius, salah satu warga setempat, kerusakan jalan semakin parah akibat kendaraan berat yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah Bentian Besar.

“Dulu, kerusakannya hanya ada di dua titik, seperti Gunung Lantuq dan Gunung Odang. Sekarang, kerusakan sudah meluas ke titik-titik lainnya,” ujarnya saat diwawancarai oleh Pelita Nusantara kamis,30/01/2025.
Kendaraan berat yang membawa hasil dari perusahaan sawit dan perusahaan lain sering melintasi jalan tersebut, bahkan dalam kondisi hujan, yang memperburuk kerusakan jalan. Tius menambahkan, kendaraan besar yang terhenti di jalan sering kali menghambat arus lalu lintas, membuat warga terpaksa menunggu berjam-jam.

“Kami harus antri hingga empat jam atau lebih, bahkan ada yang terpaksa menginap di jalan,” keluhnya.
Salah satu dampak terbesar dari kondisi jalan yang rusak adalah kesulitan transportasi.
“Bis Damri kami yang biasa mengantarkan masyarakat ke kampung-kampung sudah tidak bisa lewat lagi, karena jalannya terlalu rusak,” ungkap Tius.

Hal ini sangat mempengaruhi mobilitas warga, terutama bagi mereka yang membutuhkan akses ke fasilitas kesehatan atau kegiatan penting lainnya.
Tius juga menyoroti ketidakpedulian perusahaan terhadap kerusakan jalan. Meskipun pihak pemerintah dan perusahaan, seperti PT. Wasita, telah melakukan perbaikan dengan mengirimkan alat berat, hasilnya belum memadai. “Perbaikan memang sudah dilakukan, tetapi tidak ada pondasi yang kuat, seperti batu keras yang dihamparkan. Jalan pun cepat rusak lagi,” jelasnya.
Warga setempat berharap agar perusahaan yang menyebabkan kerusakan jalan ini bertanggung jawab dan memperbaiki jalan dengan serius.
“Kami hanya berharap jalan kami diperbaiki dengan baik. Kami tidak masalah jika perusahaan lewat jalan mereka sendiri, tapi jalan umum ini harus bisa digunakan dengan layak oleh masyarakat,” tegas Tius.
Selain itu, Tius juga menambahkan bahwa kesulitan akses sangat mengganggu warga yang membutuhkan perawatan medis. “Kami yang sakit susah sekali untuk pergi ke Barong untuk berobat. Bahkan, ambulans pun bisa terjebak di jalan yang rusak,” ujarnya dengan nada kesal.
Protes ini mencerminkan kondisi yang dihadapi oleh banyak warga di kawasan Bentian Besar. Mereka berharap agar masalah ini segera mendapat perhatian dari pihak berwenang dan perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut, agar jalan yang merupakan akses utama bagi kehidupan mereka dapat segera diperbaiki dengan layak. [MM]
