Pilihan yang Sulit

Kefaspelita
IMG 20250702 WA0031

Pelitanusantara.com Suasana kelas menjadi hening seperti kuburan ketika Profesor meminta seorang mahasiswa untuk maju ke depan papan tulis. Mahasiswa itu terlihat seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan, wajahnya pucat pasi dan matanya merah karena tidak tidur semalaman.

“Silahkan tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu,” kata Profesor dengan suara yang lembut, tapi seperti pisau yang menusuk hati mahasiswa itu.

Mahasiswa itu mulai menulis nama-nama orang yang paling dekat dengannya dengan tangan yang gemetar. Ada nama ibunya, ayahnya, adiknya, temannya, dan tentu saja, istrinya dan anaknya. Setelah selesai menulis, Profesor meminta mahasiswa itu untuk memilih 7 orang di antara 10 nama tersebut yang dia benar-benar ingin hidup terus bersamanya.

Mahasiswa itu berpikir sejenak, seperti sedang mempertimbangkan hidup dan matinya, sebelum mencoret 3 nama. Profesor kemudian meminta dia untuk mencoret 2 nama lagi, sehingga tersisa 5 nama. Setelah itu, Profesor meminta dia untuk mencoret 2 nama lagi, sehingga tersisa 3 nama: ibunya, istrinya, dan anaknya.

Suasana kelas menjadi semakin tegang, seperti saat menunggu hasil pertandingan final Piala Dunia. Mahasiswa itu terlihat seperti sedang mengalami krisis eksistensial, tidak tahu apa yang harus dipilih.

“Silahkan coret 1 nama lagi,” kata Profesor dengan suara yang tetap lembut, tapi seperti menghantam mahasiswa itu dengan palu godam.

Mahasiswa itu terlihat sangat sulit membuat pilihan, seperti sedang memilih antara hidup dan mati. Tapi akhirnya, dengan sangat lambat, dia memutuskan untuk mencoret nama ibunya.

“Silahkan coret 1 nama lagi,” kata Profesor dengan suara yang sama.

Hati mahasiswa itu semakin bingung, seperti sedang berada di persimpangan jalan yang tidak tahu mana yang harus dipilih. Tapi akhirnya, dengan sangat lambat, dia mengangkat spidolnya dan mencoret nama anaknya.

Pada saat itulah mahasiswa itu tidak kuat lagi membendung air matanya. Dia menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Suasana kelas menjadi semakin hening, seperti saat menunggu jenazah dibawa ke rumah duka.

Setelah suasana lebih tenang, Profesor akhirnya bertanya kepada mahasiswa itu, “Kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu, tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu; kenapa kamu memilih istrimu? Toh istri bisa dicari lagi kan?”

Mahasiswa itu menundukkan kepalanya, lalu menjawab dengan suara yang lirih, “Seiring waktu berlalu, orang tua saya harus pergi & meninggalkan saya. Demikian juga anak saya. Jika dia sudah dewasa lalu menikah. Artinya dia pasti meninggalkan saya juga. Akhirnya orang yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini, bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya saat tertatih dan terseok-seok berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk meraih karir hanyalah ISTRI saya.”

Dia menarik nafas panjang, lalu melanjutkan, “Orangtua & anak bukanlah saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan. Sedangkan isteri? #Saya_sendirilah yang memilihnya dari sekian milyar wanita yang ada di dunia.”

Suasana kelas menjadi hening lagi, tapi kali ini, bukan karena tegang, tapi karena semua orang di kelas tersentuh oleh jawaban mahasiswa itu. Mereka semua menyadari betapa pentingnya peran istri dalam kehidupan seseorang, dan betapa berharganya hubungan yang dibangun atas dasar cinta dan kesetiaan.[÷]