Pelitanusantara.com Ahmad Yani, seorang pahlawan nasional Indonesia yang gagah berani, pernah mengalami peristiwa yang sangat dramatis dalam hidupnya. Ketika menjadi sersan KNIL, Yani terlibat dalam perkelahian yang tidak seimbang dengan seorang Belanda yang tubuhnya lebih besar dan kuat. Pemicu perkelahian itu adalah penghinaan yang sangat pedih terhadap ayah Yani, yang membuat Yani tidak bisa menahan amarahnya.
Namun, dalam situasi yang sangat genting itu, seorang kopral KNIL asal Ambon bernama Lopias muncul sebagai pahlawan yang tidak terduga. Dengan keberanian dan kesetia kawanan yang luar biasa, Lopias membantu Yani melawan orang Belanda yang lebih kuat itu. Tindakan Lopias itu tidak hanya menunjukkan keberanian, tapi juga kesetiaan kepada sesama manusia yang lemah.
Menurut Ernest Utrecht dalam buku “Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie dan Neo-kolonisatie”, orang Ambon memiliki rasa setiakawan yang sangat tinggi dan spontan dalam mengambil keputusan. “Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan,” catat Utrecht.
Tindakan Lopias itu tidak hanya menunjukkan keberanian, tapi juga kesetiaan kepada sesama manusia . Namun, Lopias harus menanggung akibatnya, yaitu penurunan pangkat oleh petinggi militer KNIL. Ini menunjukkan bahwa keberanian dan kesetiaan Lopias tidak dihargai oleh pihak yang berkuasa.
Yani sendiri kemudian melanjutkan hidup dan bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengan penolongnya itu. Namun, pengalaman itu tidak pernah terlupakan dan menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Yani memiliki latar belakang pendidikan yang baik, yaitu ijazah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara SMP) dan sempat masuk Algemeene Middelbare School (AMS, setara SMA) milik lembaga Kristen di Jakarta.
Menurut Yayuk Ruliah Sutodiwiryo, istri Yani, dalam buku “Ahmad Yani, Sebuah Kenang-kenangan”, Yani bergabung dengan KNIL pada tahun 1940 sebagai Aspirant pada dinas topografi militer. Yani kemudian menjadi sersan cadangan dan ditempatkan di Malang untuk beberapa bulan lamanya.
Gaji Yani sebagai sersan topografi KNIL sebesar 120 gulden, yang pada saat itu merupakan jumlah yang cukup besar. Menurut Amelia Yani, putri Yani, dalam buku “Ahmad Yani: Profil Seorang Prajurit TNI”, angka itu setara dengan harga emas beberapa gram pada saat itu.
Dengan demikian, kisah Yani dan Lopias menjadi contoh keberanian dan kesetiaan yang luar biasa, yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah hidup mereka.[÷]
Dari berbagai Sumber diceritakan kembali oleh Romo Kefas
