Pentingnya Mengasihi Allah

Yesus naik ke surga

 

Pelitanusantara.com | Mengasihi Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, yakni Firman Allah, adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Yesus telah mengatakannya dengan jelas sekali. Orang yang mengasihi Dia adalah orang yang melakukan Firman-Nya dan orang yang tidak melakukan Firman-Nya tidak mengasihi Dia! Jadi arti dari mengasihi Allah, atau melakukan hukum yang utama, bukanlah duduk dengan hati gembira di bangku gereja setiap Minggu pagi. Arti sesungguhnya dari mengasihi Allah adalah berusaha melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, apa yang menyenangkan hati-Nya. Dan ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan setiap hari. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”…1 Yoh 4:19-21

…“Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.”…1 Yoh 5:2-3…kemudian didalam 1 Yoh 3:22-23..berkata :…“dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.”

Ada beberapa kekeliruan yang terjadi dalam dunia Kekristenan pada zaman sekarang. Salah satu yang paling serius adalah gagasan bahwa Allah tidak peduli apakah kita mau melakukan perintah-perintah-Nya atau tidak, apakah kita mau melakukan kehendak-Nya atau tidak. Menurut ajaran yang keliru ini, yang terpenting bagi Allah adalah satu momen ketika kita memulai dalam “iman”. “Iman” dan “mengasihi Allah” telah dipisahkan dari hal-hal praktis dan hanya dianggap sebagai gagasan teoritis atau perasaan yang dapat hadir terpisah dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Namun sesungguhnya, beriman itu artinya kita setia. Kita harus MENJADI sesuatu jika kita mempunyai iman. Kita harus menjadi orang yang setia! Dan orang yang setia ingin menyenangkan hati orang yang kepadanya ia setia, ingin melakukan kehendak-Nya, ingin melakukan perintah-perintah-Nya…bagaimana dengan kita?…Tuhan Yesus memberkati.(Pelitanusantara.com)