Penjabat Sekda Trenggalek, Andriyanto Gelar FGD bersama Penggiat Desa Wisata

IMG 20220301 WA0089

Trenggalek- Focus Group Discussion (FGD) persiapan pengembangan desa wisata Kabupaten Trenggalek tahun 2022, dibuka langsung oleh Pj. Sekda Trenggalek, Andriyanto, bersama 35 pengelola desa wisata, di Pendopo Trenggalek Agropark, Selasa 1 Maret 2022.

Andriyanto Pj. Sekda mengajak, “dalam mengelola destinasi wisata untuk berinovasi. Pengembangan desa wisata diharapkan tidak hanya mengandalkan estetika saja, melainkan juga memberikan sentuhan tekhnologi informasi,” ajaknya.

“Kita sekarang hidup di jaman tekhnologi informasi. Tidak hanya revolusi industri digital 4.0 lagi melainkan sudah masuk revolusi industri digital 5.0. Pengelola desa wisata harus mau bermimpi tinggi (Start Up). Setelah Start Up harus terus berinovasi,” pesannya.

Kata kuncinya dalam berinovasi, “tidak harus gagasan baru, yang lama diperbaiki itu juga inovasi dan yang terpenting jangan bersaing dengan yang sudah ada,” lanjutnya.

Mengembangkan hal yang sama itu akan lebih berat resikonya, karena yang baru tidak akan bisa bersaing dengan yang sudah dikembangkan oleh daerah yang lebih dulu mengembangkan. Karena masyarakat lebih dulu mengenal mereka. Menurutnya agar menarik harus ada inovasi tambahan agar apa yang kita kembangkan ada nilai lebihnya, menurut Andriyanto.

Patut disyukuri dalam sosialisasi dan FGD ini didampingi oleh East Java Eco Tourism Forum Jatim, yang pengalamannya luar biasa. Potensi mereka, itu bisa kita gagas menjadikan Trenggalek jauh lebih bagus, tuturnya.

“Semoga FGD hari ini akan mampu menginspirasi para Kepala Desa dan penggiat wisata untuk lebih banyak berinovasi dan mencetuskan gagasan-gagasan yang bisa diimplementasikan,” rilis dari Dokpim Trenggalek.

Sunyoto Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, menambahkan, “ini langkah awal sebelum kita memulai proses mendampingi desa wisata tahun 2022.  Jadi hari ini yang paling penting adalah menyamakan presepsi, tentang konsep desa wisata itu apa. Setelah itu, seperti motivasi dari bapak penjabat sekda tadi, ada pemikiran yang memang kita harus ubah,” imbuhnya.

Tidak dari Down Up (menggantungkan cita-cita dari bawah) melainkan Start Up (melainkan meletakkan cita-cita dari mimpi yang tinggi) untuk desa wisata yang ingin kita kembangkan. Dengan begitu akan ada upaya keras untuk meraih itu dengan konsep yang namanya desa wisata, ungkapnya.

Desa wisata dan wisata desa sudah berbeda, sehingga dengan desa wisata diharapkan bisa menggerakkan seluruh stake holder masyarakat yang ada di desa wisata itu. “Kekompakan ini yang akan menjadikan sebuah desa menjadi desa wisata,” terangnya.

Masih menurut Sunyoto, dalam pengelolaan destinasi wisata, harus ada kolaborasi pentahelik. Pemerintah desa, masyarakat, kemudian pengusaha, akademisi dan juga tidak lupa media. Media sangat berperan membesarkan destinasi wisata, maka dari itu kita harus bisa bisa memanfaatkan media dengan baik dalam menyampaikan informasi ke kalayak ramai, tutupnya, (mj pelitanusantara.com)