Jakarta, 5 Juni 2025 – Pendekatan disiplin ala militer untuk anak nakal telah menjadi topik perdebatan yang hangat di kalangan masyarakat. Alih-alih membentuk karakter yang kuat dan disiplin, pendekatan ini justru berpotensi melanggengkan kekerasan, penindasan, dan trauma pada anak.
Kekerasan dan Penindasan: Dampak Negatif Pendekatan Disiplin Ala Militer
Pendekatan disiplin ala militer seringkali melibatkan kekerasan fisik dan mental yang dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental anak. Menurut Lovely Bintaro, founder Akademi Suluh Keluarga, “Kekerasan dan penindasan tidak pernah menjadi solusi untuk membentuk karakter anak.” Hal ini sejalan dengan:
– Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa anak memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dan penelantaran.
– Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan penelantaran.
Pendapat Para Ahli: Pendekatan yang Berbasis Kasih Lebih Efektif
Para ahli sepakat bahwa pendekatan yang berbasis kasih dan empati adalah solusi yang lebih tepat untuk menangani anak-anak bermasalah. Menurut Pdt. Dr. Jeffri Lilobomba, “Pendekatan ini dapat membantu anak-anak mengembangkan nilai-nilai positif dan keterampilan hidup yang sehat.”
Pdt. Harsanto Adi S. juga menambahkan bahwa “Pendidikan karakter yang berbasis kasih dapat membantu anak-anak mengembangkan nilai-nilai positif dan keterampilan hidup yang sehat.”
Sistem Pendidikan yang Berbasis Kasih
Sistem pendidikan yang berbasis kasih juga penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sistem Perlindungan Anak yang Adil dan Beradab
Sistem perlindungan anak yang adil dan beradab juga penting untuk memastikan bahwa hak-hak anak dipenuhi dan dilindungi. Menurut Oloan M. Manik, penasehat hukum, “Kita perlu membangun sistem perlindungan anak yang dapat melindungi anak-anak dari kekerasan dan penindasan.” August Hamonangan, anggota DPRD DKI Jakarta, juga menambahkan bahwa “Sistem perlindungan anak yang adil dan beradab dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia.”
Pendekatan disiplin ala militer bukanlah solusi yang tepat untuk menangani anak-anak bermasalah. Alih-alih itu, pendekatan yang berbasis kasih dan empati dapat membantu anak-anak mengembangkan nilai-nilai positif dan keterampilan hidup yang sehat. Dengan membangun sistem perlindungan anak yang adil dan beradab, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak dan pendekatan yang berbasis kasih dalam menangani anak-anak bermasalah. [*]
Oleh RHD Anggota Jurnalis Pewarna Indonesia
