Trenggalek – Setelah diserahkelokakan kepada Pemkab Trenggalek pada Pebruari 2021 yang lalu, Pasar Pon kembali dibuka dengan wajah baru. Tampil dengan perpaduan gaya arsitektur viktorian dan lokal, Pasar Pon dengan luas bangunan 11.900 meter persegi menampung 479 kios dan 319 los kering. Namun sayang, pembukaan Pasar Pon mesti berbarengan dengan adanya pandemi covid-19, sehingga terasa sekali berdampak pada aktifitas pasar.
Ketika sekarang pandemi covid-19 mulai mereda, ternyata kondisi Pasar Pon masih belum menampakkan geliat yang menggairahkan. Hal ini terlihat dari banyaknya lapak atau kios yang tutup. Bila diamati dari jumlah yang ada, kios atau los yang saat ini membuka lapaknya tak lebih dari 40%. Kondisi ini cukup memprihatikan, mengingat Pasar Pon adalah simbol geliat ekonomi di Kota Kripik ini.
Senin, 31 Januari 2022, awak media Pelitanusantara.Com berkunjung ke Pasar Pon, mencoba mencari tahu latar belakang kondisi pasar yang sepi. Seorang pedagang bernama Ary (35 th) menuturkan, “berjualan saat ini berbeda jauh dibanding dengan sebelum dibangun.
Sekarang pasar sepi pengunjung. Akan sangat berbeda jika semua kios buka, tentunya akan berpengaruh terhadap banyaknya jenis dagangan yang menjadi pilihan para pengujung pasar, sehingga pasar bisa ramai.”
Sementara itu Ibu Tini (42 th) menuturkan kondisi pasar yang sepi akibat sempitnya lapak sehingga pedagang merasa bingung menaruh barang dagangannya. “Karena tidak semua pedagang tempat tinggalnya dekat dengan lokasi Pasar Pon sehingga kerepotan apabila harus menyimpan di rumah dan membawa pulang pergi dagangan setiap hari. Jadi mereka memilih membuka lapak pada hari-hari tertentu saja.”
Kondisi pasar yang sepi ini juga disebabkan karena harga sewa yang tidak sepadan dengan penghasilan. Menurut Widi (35 th), “harga sewa mahal pun tidak menjadi masalah apabila pasar ramai pembeli. Seluruh biaya operasional akan tertutup dengan omzet yang tinggi. Tapi bila kondisi seperti ini, kami tidak yakin akan bisa bertahan.”
Sebagai akibat dari sepinya pasar, banyak pedagang memilih menjadi pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Menurut mereka dengan menjadi kaki lima dagangan bisa laku dan hemat biaya karena tidak menyewa.
Menanggapi kondisi ini, Direktur Institut Pengkajian Kebijakan Publik Trenggalek, Bambang Wahyudi mengatakan ada beberapa faktor penyebab Pasar Pon sepi pengunjung. Pertama, pemilihan lokasi pasar yang tidak tepat, tidak terlewati oleh jalur kendaraan umum.
Untuk pengembangan kota, ketika kemarin renovasi pasar dilakukan pasca kebakaran, seharusnya pemkab memiih lokasi baru untuk Pasar Pon yang memiliki akses mobilisasi orang dan barang yang lebih mudah.
Kedua, antara Pasar Pon sebagai pasar kering tidak terintegrasi dengan pasar basah. Menurut lelaki asal Kecamatan Kampak ini akan lebih baik pasar basah berada dalam satu lokasi dengan Pasar Pon karena pasar basah lebih menyediakan kebutuhan harian, sehingga menarik minat pengunjung untuk berdagang kebutuhan lainnya di pasar kering. Hanya saja antara pasar kering dan pasar basah perlu pengaturan yang baik demi kenyamanan pengunjung.
Ketiga, banyaknya spekulan yang menyewa kios atau lapak sebagai investasi saja. Jadi mereka bukan pedagang, tetapi mereka menunggu harga naik untuk disewakan kembali. Kios para spekulan inilah sekarang banyak yang tutup.
Masih menurut Bambang Wahyudi, “Memperhatikan sepinya Pasar Pon, Pemkab seharus segera mengambil kebijakan guna merelaksasi kondisi pasar agar tidak sepi terus menurus. Pemkab dapat mengambil kebijakan dengan cara membebaskan biaya sewa untuk beberapa bulan, memasukkan kendaraan parkir di dalam area pasar untuk sementara waktu. Kalau perlu bahkan menghilangkan biaya parkir. Serta membangun fasilitas pendukung lainnya seperti wahana bermain untuk anak-anak dan pusat jajanan atau pujasera.” pnungkasnya. (Mj Pelitanusantara.com)
