Nilai Harga Sebuah Kejujuran Menurut DR Dwi Seno Wijanarko SH MH CPCLE

  • Bagikan

Jakarta – Pelitanusantara.com Indonesia adalah negeri dengan berjuta kekayaan yang melimpah dari ujung ke ujung yang lain. Kekayaan itu sudah menjadi buah bibir sampai ke negeri orang.

Bahkan di semua negeri orang ada yang mengatakan bahwa tanah Indonesia adalah tanah surga dan tongkat kayu jadi tanaman. Artinya bahwa segala benda atau sesuatu yang tadinya tidak bernilai seperti tongkat dan kayu apabila ditanam di tanah Indonesia akan menjadi sesuatu yang bernilai ” Ucap Dr Seno Rabu 25 Agustus 21.

Selain kekayaan sumber daya alam yang tak diragukan lagi, Indonesia juga kaya akan sumber daya manusianya. Memiliki jumlah penduduk sekitar dua ratus lima puluh juta jiwa dan merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Sejalan dengan penduduk yang banyak, negara ini memiliki banyak orang-orang yang pintar.

Bahkan banyak orang-orang pintar Indonesia yang berhasil menemukan teknologi modern; seperti pesawat yang diakui oleh dunia. Selain itu, orang-orang yang pintar akan mendapat posisi yang baik dalam perusahaan swasta maupun nasional.

Dr Seno mengatakan tak sedikit pula orang pintar yang menjadi petinggi dan pemimpin birokrasi dari tingkat bawah sampai tingkat yang paling tinggi dengan bermodalkan sumber daya manusia yang demikian, seharusnya Indonesia dapat menjadi negara yang pantas disejajarkan dengan negara-negara maju di Asia bahkan dunia.

Apabila kita melihat media massa baik elektronik maupun cetak, kita akan dibuat berhenti sejenak untuk mengerutkan dahi. Betapa tidak, berita tersebut memuat tentang maraknya kasus kejahatan, kolusi, nepotisme, dan korupsi yang tidak lain dilakukan oleh birokrat yang notabennya adalah orang-orang yang kita katakan pintar tadi.

Lain halnya dengan orang yang biasa-biasa saja namun jujur kalau orang biasa, apa yang mau dikorupsi?
Orang makan sehari-hari aja susah dan kalau orang jujur, pasti mereka akan berpikir berkali-kali jika ingin berbohong pastinya hati mereka pasti bergejolak dengan berbagai pertimbangan sosial, kepercayaan maupun agama ” Ungkapnya.

Mengapa orang sepintar mereka melakukan hal yang demikian?

Apa yang salah?

Apakah penanaman karakternya?

Atau memang sudah wataknya?

Lebih lanjut Founder LawFirm DSW & Partner Asst Prof Dr Dwi Seno Wijanarko.SH.MH CPCLE menjelaskan ” sifat jujur adalah termasuk dalam pendidikan karakter.
Apakah hal ini lah yang menyebabkan negeri ini tak kunjung maju?

Ironi negeri ini ?pendidikan karakter dimulai sejak dini mendidik anak menjadi pintar saja tidak cukup. Tetapi harus diimbangi dengan karakter yang baik; jujur dengan demikian, bukan mustahil negeri ini akan menjadi negeri yang maju.

Namun pada kenyataannya di mana-mana ada saja orang yang berwatak tidak jujur bahkan keadaannya semakin tidak sederhana, yaitu ada orang jujur tetapi tidak pintar, dan sebaliknya, ada orang pintar tetapi tidak jujur.

Atau ada juga orang yang tidak jujur sekaligus juga tidak pintar, orang jujur tetapi tidak pintar juga tidak terlalu menguntungkan bagi kehidupan sosialnya.

Mereka tidak mampu memberi kebaikannya kepada orang lain, dan bahkan terhadap dirinya sendiri sekalipun, orang seperti itu karena kejujurannya, disebut sebagai orang baik.

Jika orang baik itu sekaligus juga pintar, maka ia akan mampu memberikan kebaikannya kepada diri sendiri dan bahkan kepada orang lain, namun oleh karena ketidak-pintarannya itu, ia tidak bisa berbuat banyak dan akibatnya, yang bersangkutan disebut sebagai orang baik yang tidak mampu berbagi kebaikannya dan orang jujur tetapi tidak pintar maka tidak banyak memberikan manfaat kepada sesama.

Namun Dr Seno mengakui ‘ Sejarah Mencatat ada Menteri Termiskin Sepanjang Sejarah Indonesia, delapan kali dilantik sebagai menteri tetapi hidupnya tetap saja miskin karena dirinya Sangat Jujur dan sangat mengerti siksaan di Akhirat nantinya.

Dialah Ir.Soetami adalah Menteri Pekerjaan Umum yang menjabat selama 4 kabinet sejak tahun 1965 sampai tahun 1978. Karena kemampuannya dan kejujurannya, Soetami dipercaya oleh Era Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto.

Selama menjadi menteri, Soetami memimpin Mega Proyek besar dengan dana yang fantastis,meski demikian Pria kelahiran Surakarta, 19 Oktober 1928 silam tidak lantas memanfaatkan Proyek tersebut untuk korupsi dan memperkaya diri.

Dibawah pengawasannya, proyek mega raksasa seperti:
1. Gedung DPR/MPR RI
2. Jembatan Semanggi
3. Waduk Jatiluhur
4. Bandara Ngurah Rai
5. Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera)
6. Jalan Tol Pertama Di Indonesia (Tol Jagorawi).
Semua karyanya berdiri hingga kini dengan kokoh.

Ir.Soetami adalah menteri yang paling miskin di Indonesia bahkan mungkin sampai hari kiamat nanti, karena Soetami adalah manusia paling langka, jujur, amanah, dan berpengetahuan luas ” jelasnya .

Harus bangun kesadaran Ujar Dr.Seno “Adapun yang berbahaya adalah orang pintar yang tidak jujur berbekalkan kepintarannya, ia bisa menduduki posisi penting di tengah masyarakat, dan berhasil menjadikan banyak orang kagum, memiliki berbagai ide cemerlang, dan seterusnya.

Namun oleh karena tidak mampu berbuat jujur, maka apa yang dilakukan pada akhirnya selalu merugikan orang lain. Akalnya yang cerdas digunakan untuk mengakali dan atau melakukan akal-akalan.

Kepintaran orang yang tidak jujur sebenarnya masih bisa dimanfaatkan asalkan yang bersangkutan diposisikan pada suatu sistem yang tidak mungkin melakukan kecurangan tapi sebaliknya, jika orang seperti itu diberi peluang bekerja pada sistem yang tidak jelas, maka ia akan mengembangkan sifat ketidak-jujurannya seluas-luasnya.

Akibat adanya orang tidak jujur itu, semuanya menjadi berantakan dan oleh karena itu, jika masih ada pilihan, sepintar apapun seseorang yang tidak jujur seharusnya dihindari karena orang seperti itu akan sangat berbahaya. ” Terangnya .

Dalam pandangannya Dr Seno mengatakan “Bangsa dan negara kita ini tidak segera maju dan selalu kaya masalah, adalah oleh karena banyak orang yang tidak jujur “Akibatnya, uang negara banyak dikorupsi atau diselewengkan. Kekayaan sumber daya alam dimanipulasi dan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Untuk itu birokrasi menjadi boros dan selain itu, banyak orang sakit hati hingga terjadi saling curiga mencurigai, dendam, hasut menghasut, permusuhan, konflik, dan saling menjatuhkan.

Akhirnya, kehidupan menjadi tidak tenteram dan tidak damai semua itu sebenarnya merupakan buah dari banyak orang pintar tetapi tidak jujur.
Pendidikan diharapkan berhasil menjadikan orang pintar dan sekaligus jujur.

Akan tetapi pada kenyataannya, semakin pintar seseorang, maka tidak sedikit yang justru semakin tidak mudah dipercaya hal demikian itu menjadi terasa aneh, orang pintar ternyata tidak selalu jujur ” tutup Dr Seno .

  • Bagikan