YOGYAKARTA- PN NEWS, Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala (Muspusdirla) memiliki koleksi kedirgantaraan paling lengkap di Indonesia, Museum ini menyimpan berbagai jenis pesawat (Alutsista perjuangan) baik produksi dalam negeri maupun dari negara-negara blok timur maupun blok barat.
Museum ini juga menyimpan beberapa koleksi lain seperti pakaian peninggalan para pahlawan nasional TNI Angkatan Udara, diorama pembentukan dan peran TNI AU, foto-foto para tokoh TNI AU, tanda kehormatan, alutsista lain seperti radar dan roket, juga sejumlah persenjataan turut dipamerkan, hal ini maksudkan agar pengunjung atau masyarakat melihat bukti kekuatan TNI AU, si Macan Asia , Era tahun 1960an.
Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Kolonel Sus Yuto Nugroho S.S., dalam wawancara khusus bersama media , di Museum Dirgantara Mandala, Komplek Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta, Senin (6/2/2023), menerangkan bahwa , museum ini memiliki koleksi 61 pesawat, diantaranya 4O pesawat berada di dalam ruang alutsista dan 21 pesawat berada di halaman museum.
Intinya adalah museum ini menyimpan ceritera tentang peran pesawat-pesawat ini dimasa perjuangan kemerdekaan,menjaga kedaulatan udara NKRI, hal ini yang perlu diketahui oleh generasi muda agar mereka cinta tanah air, cinta dirgantara untuk bersama-sama menjaga NKRI.
Dimuseum ini menyimpan pesawat tertua buatan tahun 1933 , dan yang paling muda yaitu pesawat CN 250 produksi PTDI, semua pesawat yang berada di museum ini memiliki ceritera dan perannya masing-masing yang membanggakan.
Contohnya seperti pesawat Cureng, buatan pabrik nippon hikoki kk tahun 1933, yang dikenal dengan sebutan yokusuka K5Y(shinitei) peran dari pesawat ini di awal kemerdekaan sangat luar biasa dan melegenda.
Pesawat Cureng ini mempunyai peran yang luar biasa, tidak hanya sebagai sarana Pendidikan tetapi juga sebagai sarana perang dalam perjuangan, tutur Kepala Museum Dirgantara Mandala.
Sebagai sarana Pendidikan , karena pesawat ini digunakan oleh sekolah penerbang yang dibuka pada 15 nopember 1945, dan juga pesawat ini dipaksi menjadi Alutsista sebagai alat perang.
Pesawat Cureng ini dipakai untuk melakukan pengeboman basis pertahanan musuh di Ambarawa, dan juga dipakai dalam operasi penumpasan PKI di Madiun, utamanya di Purwodadi, melakukan pengeboman pavilion PKI yang digunakan untuk konsolidasi -rapat, hal ini dilakukan untuk memberi tekanan kepada lawan (PKI) kala itu, ujar Kolonel Sus Yuto Nugroho.
Museum Dirgantara Mandala yogyakarta ini adalah Musium Pusat TNI AU, yang menyimpan sejarah (alutsista) tentang perjuangan Indonesia yang dulu dikenal sebagai macan Asia.
Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala , di buka untuk semua kalangan dan usia, buka setiap hari, dengan jam operasi mulai pukul 08.30-16.00 wib, dengan harga tiket masuk sangat terjangkau.
Harapan kedepan , museum ini sebagai penyebar virus cinta dirgantara, tersebar di kalangan generasi muda.
Tagline Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala : masyarakat yang datang ke museum sebagai pengunjung, pulang sebagai pelanggan, pungkas Kolonel Sus Yuto Nugroho.
(Ome)
