Mudik: Jihad Fi Sabilillah

Kefaspelita
1743318791

Pelitanusantara.com Mudik bukan sekadar tradisi pulang kampung saat Lebaran. Bagi para perantau — khususnya mereka yang hijrah demi mencari nafkah dan membangun masa depan — mudik adalah bagian dari perjuangan hidup, bahkan bisa disebut sebagai jihad fi sabilillah.

Dalam Islam, silaturahim memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mudik bukan ajang pamer pencapaian dengan outfit SCBD, gaya Opa-opa PIK, atau sederet simbol kesuksesan lainnya. Sebaliknya, ini adalah jalan ninja bagi kaum perantau yang ingin pulang dengan penuh keberkahan.

1. Mudik Butuh Biaya yang Tidak Sedikit

Komponen utama tentu transportasi: tiket pesawat, kapal, bensin, tol, dan sebagainya—semuanya harus diperhitungkan untuk perjalanan pulang-pergi (PP). Selain itu, ada juga biaya oleh-oleh. Sebagaimana kata pepatah Arab, على قدره (ala kadrihi)—artinya “semampunya”. Tidak perlu berlebihan, yang penting niatnya baik.

Bekal selama di kampung juga penting. Orang pulang dari perantauan tentu ingin berbagi, minimal untuk keluarga dan kerabat dekat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya berbagi rezeki kepada sanak saudara sebagai bentuk ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan.

2. Mental Baja, Siap Hadapi “Sidang Paripurna Keluarga”

Lebaran adalah forum tertinggi para mudikers. Siapkan mental untuk menjawab berbagai pertanyaan dari “netizen offline”:
• “Sudah nikah belum?”
• “Kerja di mana sekarang?”
• “Gajinya berapa?”

Kadang, topik yang dibahas bisa mencakup IPOLEKSOSBUDHANKAM alias politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga pertahanan dan keamanan—wkwkwk.

Dalam menghadapi situasi ini, penting untuk bersikap tenang dan bijak. Rasulullah ﷺ mengajarkan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Niat yang Lurus, Silaturahim Dulu, Pamer Nomor Sekian

Niat adalah yang utama. Sebelum berangkat, niatkan mudik sebagai sarana menyambung silaturahim dengan orang tua, keluarga, guru-guru waktu kecil, serta sahabat lama.

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa niat yang ikhlas dalam bersilaturahim dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Jadi, pulang bukan sekadar tradisi, tapi juga ibadah.

4. Perencanaan yang Matang: Kunci Mudik Lancar

Pastikan semua aspek perjalanan sudah direncanakan:

✅ Rute dan kondisi jalan
✅ Kondisi fisik dan kendaraan
✅ Tempat sholat Ied
✅ Urutan silaturahim
✅ Aktivitas selama di kampung (tadabbur alam, ziarah, dll.)

Jangan sampai perjalanan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berujung pada kelelahan yang tidak terkelola. Seperti nasihat Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu:

“Janganlah engkau bepergian tanpa perencanaan, karena perjalanan yang tidak terencana adalah awal dari kesulitan.”

Mudik: Kembali Fitri, Kembali Berkah

Mudik sejatinya bukan hanya tentang pulang ke kampung halaman, tapi juga tentang pulang ke fitrah, menyambung tali kasih, dan meraih keberkahan. Semoga perjalanan kita selamat, menyenangkan, dan membawa keberkahan, serta membuka pintu rezeki yang lebih luas.

Mudik Selamat, Menang, Menyenangkan!

Taufiqurrahman (Auditor pada Itjen Kementerian Agama)