Meraih Medali Kompetisi Sains Nasional

Han_up2000
Screenshot 20220325

Tangerang-Pelitanusantara.com-Kompetisi Sains Nasional merupakan suatu gerakan yang memacu anak-anak untuk mencintai sains dan juga sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dengan demikian, wajib bagi seluruh daerah di Indonesia untuk berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pendidikan agar mampu bersaing dalam mengikuti kompetisi tersebut yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional di bawah Kemdikbudristek.

Sebagai bentuk kepedulian, OASIS PIM kali ini menggelar tayang bincang dengan tema “Meraih Medali Kompetisi Sains Nasional” yang disiarkan secara langsung oleh Tirta Tv, Selasa (15/03/2022). Adapun narasumber pada tayang bincang kali ini ialah Gurgur Manurung, Drs. Rikardo Hutajulu, M.Pd., dan Jemmy Lesnussa, serta dipandu oleh moderator yaitu Ashiong P. Munthe.

Hutajulu menyatakan bahwa untuk saat ini Danau Toba siap mengikuti Kompetisi Sains Nasional dengan mempersiapkan berbagai program belajar yang siap diluncurkan, karena ini merupakan salah satu bagian dari merdeka belajar yaitu untuk mengangkat potensi anak.

Hutajulu dengan tegas menyatakan bahwa sekolah tidak hanya sebagai pabrik pencetak ijazah, tetapi sekolah harus menjadi pabrik untuk menciptakan prestasi.

“Memang demikian, di sekolah itu kita tidak mau hanya sebagai pabrik mencetak ijazah, kita harus menciptakan sekolah itu sebagai pabrik prestasi. Untuk itu, kita harus menciptakan anak-anak yang cinta dengan sains”, tegasnya.

Menjawab pertanyaan dari moderator “mengapa harus sains?”, Gurgur Manurung menyatakan bahwa ini merupakan program Kemdikbudristek yang harus didukung karena mampu mengerakkan anak-anak sampai ke desa dan bagaimana hal itu disikapi dengan baik.

Ashiong selaku moderator, juga menanggapi pertanyaan tersebut bahwa kompetisi sains lebih akademisi dibandingkan dengan kompetisi-kompetisi yang lainnya.

”Yang saya perhatikan bahwa kompetisi sains lebih akademisi dibandingkan dengan kompetisi-kompetisi yang lain. Misalnya kompetisi minat, bakat yaitu nyanyi seperti yang di salah satu acara Tv”, jelasnya.

“Semua kompetisi itu baik untuk membangun karakter. Dengan karakter yang baik, pasti akan menghasilkan prestasi. Jadi, ya kebetulan kita fokus kepada kompetisi sains, yang nantiya pada proses belajar akan muncul orang-orang yang berkarakter, sebab sains juga mengajari mereka berkarakter dengan baik” jelas Gurgur.

Gurgur juga menyatakan bahwa jika anak mencintai sains, maka pasti akan merubah hidupnya secara holistik. Dalam proses belajar itulah yang nantinya akan membawah suatu perubahan yang saintifik. Oleh karena itu, jangan sampai anak itu terjebak oleh atlet, semua proses belajar harus diikuti. Jadi intinya bahwa anak harus membangun pribadi yang saintifik dan memiliki integritas dalam prosesnya.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Gurgur tersebut, Hutajulu menyatakan bahwa yang perlu kita persiapkan saat ini yaitu dengan melihat talenta seseorang atau potensi yang dimiliki seseorang, maka kemudian itu yang perlu dikembangkan.

Hutajulu juga menyatakan bahwa pemerintah sebenarnya tidak hanya sains yang dikembangkan atau diperlombakan, tetapi ada juga lomba seni dan lain sebagainya. Tugas dinas pendidikan yaitu untuk menemukan potensi-potensi yang ada di dalam diri setiap anak dari berbagai sekolah yang ada di daerah.

Sebagai kepala dinas, Hutajulu menegaskan bahwa hidup itu harus mempunyai target. Danau Toba sudah membuktikan bahwa tahun 2021 telah meraih 5 medali yaitu 4 medali perunggu dan 1 medali perak. Meskipun sudah meraih medali tersebut, Hutajulu menegaskan bahwa jangan hanya sampai disitu, tetapi harus mencapai hal yang lebih besar yaitu untuk mmperoleh medali emas ditingkat nasional dari berbagai bidang sains yang diikuti oleh siswa-siswi tersebut. Oleh karena itu, ia pun juga mengharapkan kerja sama dari kepala sekolah agar mempersiapkan siswa-siswinya dengan baik.

“Untuk persiapan kabupaten Toba mengikuti kompetisi-kompetisi sains, jadi kita sudah mempersiapkan guru-gurunya terlebih dahulu, karena tanpa guru tidak akan mungkin bisa. Jadi tahun 2021 sudah mempersiapkan guru 100 orang untuk mengeroyok siswa-siswi yang berpotensi agar dilatih untuk bersaing dalam kompetisi sains”, tandas Hutajulu.

Anak-anak yang tingkat pemahamannya berada di bawah rata-rata, dinas pendidikan mengingatkan kepada setiap guru agar bisa membedakan atau tidak harus menyamaratakan semua siswa tersebut, karena setiap siswa mempunyai potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru harus melihat potensi apa yang dimiliki oleh setiap siswa agar potensi itulah yang harus diperkuat oleh siswa tersebut.

Untuk mempersiapkan anak-anak yang tingkat pemahamannya berada di bawah rata-rata, Hutajulu menyatakan bahwa harus mengikuti program pemerintah yaitu melayani semua potensi yang ada di seluruh Indonesia. Jadi anak-anak yang tingkat pemahamannya berada di bawah rata, perlu mempersiapkan guru-guru yang memiliki kemampuan yang lebih, seperti IPA klub yang dipersipkan untuk itu.

Menurut Gurgur, kompetensi sains sebenarnya merupakan kompetisi yang sangat fear karena itu dijaring dari tingakat kecamatan, kemuadian kabupaten, lalu ke tingkat provinsi. Untuk itu, guru-gurunya dilatih sehingga secara otomatis menghasilkan anak-anak yang berkompetensi. Hal ini bukan hanya guru-guru yang berperan, tetapi juga dari dinas pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Sebagai kepala dinas pendidikan, Hutajulu sekali lagi menegaskan bahwa sekolah bukan hanya sebagai pabrik pencetak ijazah, tetapi sebagai pabrik pencetak prestasi. Prestasi yang dimaksudkna bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga prestasi olah raga, seni, dan lain sebagainya. Yang perlu dilakukan oleh guru-guru adalah melihat potensi apa yang dimiliki oleh setiap anak itulah perlu dikembangkan.

Lesnussa yang juga hadir pada saat itu memohong agar setiap keluarga yang ada di Danau Toba agar dibimbing supaya bisa lebih lagi memotivasi anak-anaknya. Jika memungkinkan, anak-anak memiliki tingkat pendidikannya lebih tinggi daripada orang tuanya. Ia pun juga menambahkan bahwa dengan adanya kompetisi sains khususnya di Danau Toba, dijadikan sebagai motivasi kepada anak-anak agar tidak mengikuti hal-hal yang tidak benar, seperti merokok dan minum mabuk. Jadi inilah pentingnya peran orang tua untuk membimbing anak-anaknya agar tidak melalukan hal-hal yang demikian, karena itu akan merusak masa depan mereka.

Sebagai pesan terakhir sebelum menutup perbincangannya, Hutajulu selaku kepala dinas Danau Toba memohon kepada setiap guru agar tidak perlu takut kepada kepala sekolah, kepala dinas, atau juga kepada pemerintah, tetapi guru perlu takut kepada Tuhan yang memberikan kepercayaan kepada mereka menjadi seorang guru. (A. L. Malo)