Mengenang Maha Karya Adipati Minak Sopal

IMG 20220603 WA0174
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

TRENGGALEK – Dalam rangka mengenang Maha karya Adipati Minal Sopal yang telah berjasa membagun dam Bagong, warga sekitar kota mengelar upacara adat yang dikenal dengan Nyadran Dam Bagong dibulan Selo (penangalan jawa).

Adapun dalam upacara adat Nyadran ditandai dengan larung kepala kebau kedalam Dam Bagong yang dilakukan oleh Bupati Muchamad Nur Arifin, Jumat 3/6/2022.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Dengan adanya bangunan Dam Bagong tersebut, Trenggalek yang dulunya rawa, kemudian banjir ketika musim penghujan dan kering ketika musim kemarau.Saat ini berubah menjadi areal pertanian yang produktif, sedangkan bencana banjir dan kekeringan dapat diredam.

Sebagai bentuk wujud rasa syukur atas jasa Adipati Menaksopal  para petani yang dialiri Dam Bagong  menyedekahkan kerbau untuk disembelih.


Kepala, kaki dan kulit Kerbau yang disembelih kemudian di larung atau dilemparkan ke dalam aliran Dam Bagong. Sedangkan untuk dagingnya dimasak dan dibagikan kepada warga masyarakat sekitar serta warga yang menyaksikan kegiatan ini.

Yang paling menarik adalah saat kepala kerbau dilarung warga tidak takut menyelami dalamnya Dam Bagong untuk merebutkan kepala, kulit dan kaki Kerbau yang dilempar oleh Bupati Trenggalek. Hal itulah yang paling menjadi daya tarik bagi pengunjung saat hadir dalam agenda Nyadran Dam Bagong.

Bupati dalam tradisi upacara adat Nyadran menuturkan, sebenarnya semua desa di Bumi Minaksopal ini rata-rata punya kegiatan bersih desanya masing-masing dan kita di kawasan kota ini punya kebiasaan Nyadran Dam Bagong, dalam upacara adat setiap bulan Suro.

Kegiatan ini, merupakan salah satu bentuk rasa syukur warga kota Trenggalek, “mengenang perjuangan dari Kanjeng Adipati Menak Sopal, yang dulu membangun Dam Bagong ini. Sehingga bisa mengairi beberapa sawah sampai di Kecamatan Trenggalek, Pogalan dan beberapa tempat lainnya,” ucap Pria Muda yang juga Orang Nomer Satu di Trenggalek ini.

“Jadi nyadran ini sebenarnya bukan kemudian karena ada mistisnya atau apa-apa, tapi kita percaya kalau siapa yang bersyukur itu nanti nikmatnya ditambah. Ini sedekahnya para petani yang bersyukur karena Dam Bagong selalu mengairi sawah mereka, dan tidak ada cerita jika bersedakah atau memberi menjadikan diri kita miskin,” terang Gus Ipin.

Selain upacara adat , sesi berebut Kepala Kerbau dalam Nyadran juga menjadi salah satu tradisi yang memang paling dinanti bagi warga. “Yang seru, setelah Kepala Kerbau dan bagian tubuh yang lain dilempar ke sungai. Kemudian masyarakat berlomba-lomba mengambil di dalam sungai. Ini menjadi atraksi yang menarik, dalam tanda kutib untuk pariwisata,” pungkas Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat hadir dalam kegiatan ini.
(mj pelitanusantara.om)