Mengenal Sunda Wiwitan, Ajaran Leluhur Masyarakat Sunda yang Terjaga hingga Kini

Pelitanusantara.com | Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai tradisi, yang telah diturunkan secara turun temurun kepada anak cucu yang hidup di wilayahnya. Kebiasaan warisan nenek moyang tersebut lantas mengakar dan menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan di berbagai keadaan.

Layaknya makna yang terikat, kebiasaan tersebut lantas berkembang menjadi sebuah kepercayaan yang bersinergi dengan ajaran agama. Ajaran tersebut membaur dengan elemen sakral di tengah hiruk pikuk kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Salah satu tradisi yang hingga kini masih bertahan adalah Sunda Wiwitan, sebuah kepercayaan yang dianut secara turun temurun oleh masyarakat Sunda.

Dalam praktiknya, para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan menerapkan sistem monotheisme kuno lewat kehadiran kekuasaan tertinggi. Kekuasaan tertinggi itu biasa disebut sebagai sang hyang kersa atau gusti sikang sawiji-wiji (Tuhan yang maha tunggal).

Tersebar di Banyak Wilayah Tatar Sunda

upacara seren taun

 

Dalam catatan sejarah, kepercayaan para nenek moyang Sunda ini telah tersebar sejak ratusan tahun lalu di berbagai wilayah di Jawa Barat. Seperti, Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; dan Cigugur, Kuningan.

Dan, yang menarik dari persebaran kepercayaan Sunda Wiwitan di berbagai wilayah di Jawa Barat dan Banten tersebut, masing-masing wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti di Kanekes, Banten, di Cigugur Kuningan dan di Madrais Garut.

Menghormati Alam

Dalam ajarannya sendiri Sunda Wiwitan sangat dekat dengan konsep saling menghormati antara manusia dengan alam, seperti yang terjadi di Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, dengan tradisi Seren Taunnya. Masyarakat di sana, selalu mengungkapkan rasa syukurnya terhadap melimpahnya hasil pertanian. Dan lewat tradisi itu juga mereka berusaha memberi pesan agar manusia bisa menggunakan sumber air secara bijak.

Selanjutnya, ada pula Sunda Wiwitan Madrais yang juga menerapkan prinsip menghormati alam lewat kegiatan puasa dan rayagungnya. Terakhir Sunda Wiwitan di Kanekes, Badui yang begitu menghormati alam, hingga melarang masyarakat merusak hutan dan lingkungan dengan melarang memasukinya (Badui Dalam).

Sistem Kepercayaan

datangi istana

 

Dalam sistem kepercayaannya, masyarakat penganut Sunda Wiwitan mempercayai akan kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki).

Selain itu, penanut juga biasa menyebutnya Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Menurut kepercayaan setempat Sang Hyang Kersa bersemayam di Buana Nyungcung sebagai tempat agung bagi penciptanya.

Di samping itu masyarakat penganut Sunda Wiwitan juga mempercayai 3 alam yang menaungi manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Ketiga alam tersebut ialah, Buana Nyungcung (tempat bersemayam Sang Hyang Kersa dan letaknya paling atas), Buana Panca (tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, tempatnya di tengah) dan yang terakhir adalah Buana Larang (merupakan tempat serupa neraka dan letaknya di paling bawah).

Cara Beribadah

Dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, para penganut biasanya akan melaksanakan ibadah dengan sebutan olah Rasa di dua waktu tertentu. Pertama, saat subuh pukul 05.00 WIB, Pagi dan yang kedua saat petang pukul 18.00 WIB.

Dalam praktik sehari-hari tersebut kegiatan olah rasa biasa dilakukan untuk mendekatkan diri antara manusia dengan sang pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *