Mengenal Orang Kalang: Sub Suku Jawa yang Teguh Mempertahankan Budaya dan Agama Leluhur

Download (26)

Pelitanusantara.com Orang Kalang adalah sub suku Jawa yang memiliki sejarah panjang dan kaya. Mereka dikenal sebagai pekerja pandai membuat pedati dan pemahat batu yang handal. Orang Kalang dapat ditemukan di beberapa wilayah di Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka lebih suka hidup nomaden dan berpindah-pindah tempat untuk cocok tanam, sebagaimana disebutkan dalam buku “Javaansch Nederduitsch Woordenboek” yang membahas tentang kehidupan orang Kalang.

Keunikan orang Kalang terletak pada kemampuan mereka dalam membuat pedati dan memahat batu, serta kepercayaan dan ritual keagamaan yang khas dan berbeda dengan agama-agama mainstream pada masa itu. Mereka dikenal sebagai kelompok yang teguh mempertahankan agama dan budaya leluhurnya, serta tidak peduli pada pemerintahan manapun. Hal ini tercermin dalam prasasti-prasasti kuno seperti Harinjing A, Kuburan Candi, Telang, dan Sangsang yang menyebutkan tentang keberadaan orang Kalang dalam sejarah Jawa.

Pada masa Sunan Gunung Jati, orang-orang Kalang datang ke Cirebon dan menimbulkan konflik dengan Kesultanan Cirebon. Patih Genden, pemimpin orang-orang Kalang, secara terang-terangan menyatakan tidak mau tunduk dan mematuhi peraturan dan undang-undang yang berlaku di Kesultanan Cirebon. Sikap ini membuat marah Sunan Gunung Jati, yang kemudian mengutus Arya Punglu untuk memimpin penumpasan pemberontakan, seperti yang diceritakan dalam sejarah Cirebon.

Pasukan Cirebon yang dipimpin Arya Punglu menyerbu orang-orang Kalang di sebuah hutan kecil. Pertempuran sengit terjadi, namun pasukan Kalang dapat dipatahkan oleh pasukan Cirebon yang lebih unggul dalam strategi. Patih Genden ditangkap hidup-hidup dan menyatakan diri takluk pada pemerintahan Kesultanan Cirebon. Setelah itu, Patih Genden dan pengikutnya memeluk agama Islam, menandai perubahan penting dalam kehidupan keagamaan mereka, sebagaimana disebutkan dalam artikel “Pemberontakan Patih Genden dan Lahirnya Desa Pekalangan & Karanggetas”.

Sunan Gunung Jati mengampuni Patih Genden dan menghadiahkan suatu tempat kosong untuk ditinggali oleh orang-orang Kalang. Tempat itu kemudian menjadi Padukuhan yang dinamakan “Pekalangan”. Hutan kecil tempat pertempuran terjadi dinamai “Karanggetas”, yang berarti “hutan kecil yang dikalahkan”. Peristiwa pemberontakan orang Kalang di Cirebon menjadi bagian dari sejarah Cirebon, dengan nama “Karanggetas” dan “Pekalangan” masih digunakan hingga saat ini sebagai nama tempat di Cirebon, seperti yang disebutkan dalam Wikipedia bahasa Indonesia.

Kehidupan orang Kalang masih ada sampai kini, meskipun mereka telah banyak berbaur dengan masyarakat lainnya. Mereka dapat ditemukan di beberapa wilayah di Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa komunitas Kalang masih mempertahankan tradisi dan ritual mereka, seperti upacara Kalang Obong. Makam-makam kuno orang Kalang dapat ditemukan di beberapa wilayah, seperti Nganjuk dan Bojonegoro. Mereka juga masih melestarikan tradisi membuat pedati dan memahat batu.

Dengan demikian, sejarah orang Kalang menjadi bagian penting dari sejarah Jawa dan Cirebon, dengan peninggalan-peninggalan yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Kehidupan orang Kalang yang masih ada hingga kini menjadi bukti bahwa budaya dan tradisi mereka masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat.[÷]