Pelitanusantara.com Sultan HB VIII memiliki visi jauh ke depan dalam mempersiapkan penggantinya untuk menghadapi tantangan zaman. Ia menyadari bahwa mengenal orang Belanda, termasuk cara berpikir, bahasa, sifat, keunggulan, dan kelemahan mereka, sangat penting bagi putra-putra-Nya. Oleh karena itu, Sultan HB VIII menitipkan putra-putra-Nya kepada orang Belanda sejak kecil, termasuk putra kesembilannya, Gusti Dorojatun.
Menurut wawancara dengan HRM. Tirun Warsito SH. D.a. GBPH Prabuningrat, Taman Kraton, Yogyakarta, pada tanggal 7 Desember 1992, Gusti Dorojatun memulai pendidikannya di bawah asuhan orang Belanda sejak usia 4 tahun. Ia tinggal dengan keluarga Mulder, seorang kepala sekolah NHJJS di Gondokusuman. Kemudian, ia bersekolah di taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer yang terletak di Bintaran Kidul, seperti yang dikutip dari skripsi Husnah, “Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX: Studi Tentang Perkembangan Pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat 1940-1950”, (IAIN Sunan Ampel Fakultas Adab, Surabaya, 1993), halaman 33-34.
Pada usia 6 tahun, Gusti Dorojatun masuk sekolah dasar Eerste Europese Lagere School B di Kampementstraat. Setelah itu, ia dipindahkan ke Neutrale Europese Lagere Schools di Pakemweg (sekarang Jakal) dan tamat pada tahun 1925. Selama masa sekolahnya, Gusti Dorojatun tinggal di rumah keluarga Cock, seperti yang disebutkan dalam skripsi Husnah (1993: 33-34).
Gusti Dorojatun kemudian melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang dan kemudian pindah ke Bandung. Ia tinggal pada keluarga Voskuil, kepala penjara Mlaten, di Semarang, dan kemudian pada keluarga De Boer di Bandung, seperti yang dikutip dari skripsi Husnah (1993: 33-34).
Pada tahun 1930, Gusti Dorojatun berangkat ke Belanda bersama seorang kakaknya, BRM. Tinggarto (Prabuningrat), dan tinggal pada keluarga Hofland. Ia masuk Gymnasium di Haarlem dan tinggal di keluarga Ir. W.C.G.H. Mourik Brokman, direktur sekolah tersebut. Gusti Dorojatun menyelesaikan Gymnasium-nya pada tahun 1934, seperti yang disebutkan dalam skripsi Husnah (1993: 33-34).
Selanjutnya, Gusti Dorojatun kuliah di Rijk Universiteit Leiden, mengambil jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia). Fakultas Indologie merupakan gabungan dari bidang hukum dan ekonomi. Pengetahuan ini biasanya dijadikan bekal bagi orang-orang yang akan terjun dalam bidang pemerintahan Belanda, seperti yang dikutip dari skripsi Husnah (1993: 33-34).
Selama masa kuliahnya, Gusti Dorojatun aktif dalam beberapa organisasi mahasiswa, seperti Leidse Studentencorp, Vereningde Facultien, dan Minerva. Pada tahun 1937, ia lulus dengan baik dan mendapat ijazah Candidaat Indologie. Ia kemudian melanjutkan studinya ke tingkat doktoral, seperti yang disebutkan dalam skripsi Husnah (1993: 33-34).
Strategi Sultan HB VIII dalam mendidik putra-putra-Nya dengan menitipkan mereka kepada orang Belanda terbukti efektif dalam mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan zaman. Gusti Dorojatun, yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono IX, menjadi salah satu contoh keberhasilan strategi ini. Ia menjadi pemimpin yang bijak dan visioner, yang mampu memimpin Yogyakarta melalui masa-masa sulit dan mencapai kemajuan yang signifikan. []
