Pelitanusantara.com Damai sejahtera adalah suatu keadaan tidak ada sengketa, perselisihan dan permusuhan. Yang ada hanyalah suka cita dan ketentraman karena berkat dan pengharapan baik dalam diri seseorang ataupun sebuah komunitas.
Damai sejahtera diharapkan oleh semua orang, keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara. Kita bisa merasakan seseorang yang tengah putus asa karena kehilangan pengharapan, pasti dia inginkan damai sejahtera dalam kehidupannya. Kita juga bisa merasakan betapa seorang anak sangat menderita perasaannya karena orang tua mereka yang senantiasa bertengkar bahkan merencanakan sebuah perceraian, pasti anak itu merindukan damai sejahtera dalam kehidupannya. Kita juga bisa merasakan kesedihan yang luar biasa masyarakat yang negaranya tidak pernah usai melakukan peperangan dengan negara lain sehingga mengakibatkan kehancuran bangunan dan sosial kemasyarakatan, pasti masyarakat itu merindukan damai sejahtera dalam kehidupan mereka.
Kebutuhan Utama
Para murid Tuhan dalam keadaan bingung yang luar biasa. Yesus guru mereka setelah penyaliban-Nya diberitakan bangkit oleh para perempuan murid Tuhan. Sementara itu kabar santer dihembuskan bahwa mayat Yesus dicuri oleh pengikut-Nya. Mereka seolah dituduh sebagai pencuri mayat Yesus itu.
Di tengah kegelisahan mereka, saat mereka berkumpul di sebuah tempat yang terkunci rapat, datanglah Yesus dengan mengatakan,”Damai sejahtera bagi kamu.” (ay. 19) Kata “damai sejahtera” itu diulang tiga kali, pada ayat 21 dalam rangka pengutusan dan pada ayat 26 saat hendak menunjukkan luka tangan dan lambungnya kepada Tomas yang meragukan kebangkitan-Nya.
Kata “damai sejahtera” dalam alkitab bahasa Inggris digunakan kata “peace” yang artinya damai atau kedamaian. Dalam bahasa Yunani digunakan “eirene” yang berarti antara lain 1) keadaan ketentraman nasional yakni terbebas dari amukan dan malapetaka peperangan; 2) perdamaian antar individu, yaitu kerukunan; 3) keamanan, keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan (karena perdamaian dan kerukunan membuat dan memelihara segala sesuatunya aman sejahtera). Secara kekristenan “eirene” ini keadaan jiwa yang tenang yang terjamin keselamatannya melalui Kristus, sehingga tidak takut apa pun kepada Tuhan dan puas dengan nasibnya di dunia apa pun itu.
Keadaan damai sejahtera inilah yang oleh pemazmur disebut sebagai kerukunan itu sesuatu yang sangat indah dan elok. Oleh pemazmur sebagaimana yang tertulis dalam Mazmur 133 keindahan dan keelokan itu seperti keindahan dan keelokan Imam Harun yang ditahbiskan, terlihat minyak urapan yang mengalir hingga ke janggut dan jubah Harun. Keindahan dan keelokannya juga seperti embun yang mengalir dari bukit Hermon di Kerajaan Israel Utara ke bukit Sion di Kerajaan Israel Selatan.
Berawal dari Perjumpaan
Yesuslah yang berinisiatif menjumpai para murid, sehingga “damai sejahtera” itu diberikan dan diterima para murid. Kewajiban para murid menerima dengan sepenuh hati “damai sejahtera” itu. Saat mereka berjumpa dan menerima “damai sejahtera” itu, maka ada pengalaman pribadi dalam diri mereka masing-masing.
Oleh karena itu surat 1 Yohanes 1:1 mengatakan,”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.”
Yohanes hendak mengatakan bahwa Yesus dan “damai sejahtera” yang ia terima itu bukan kata orang, tetapi ia menyaksikan keberadaan Yesus secara pribadi dan menerima damai sejahtera itu secara pribadi pula. Perhatikan kalimat “yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami…”
Hendaknya kita memiliki perjumpaan pribadi dengan Yesus dan mendapatkan “damai sejahtera” itu secara pribadi pula. Pembacaan alkitab dan pengalaman-pengalaman rohani bersama dengan Tuhan menjadi sumber perjumpaan-perjumpaan dengan Tuhan itu.
Nyata dalam Kehidupan
Para murid yang telah mengalami damai sejahtera itu mewujudkannya dalam sebuah komunitas yang penuh damai sejahtera. Kisah Para rasul 4:32-35 menunjukkan cara hidup para rasul dan jemaat mula-mula. Mereka saling berbagi saat mereka dalam suka maupun duka. Mereka tidak segan-segan membagi harta kekayaannya kepada saudara seiman yang menderita kekurangan. “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis 4:32)
Damai sejahtera itu nyata dalam kehidupan para rasul dan jemaat mula-mula. Sehingga hidup mereka menjadi sebuah daya tarik bagi orang-orang yang belum percaya. Dengan demikian mereka dihormati dan semakin banyak orang mengikut Tuhan. (Kis. 5:13-14)
Hendaknya Dibagikan
Damai sejahtera itu diberikan Tuhan jelas bukan untuk para murid saja. Jelas sekali perintah Tuhan, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (ay. 21)
Tuhan mengutus para murid dan orang percaya pada masa kini untuk membagikan damai sejahtera kepada orang lain juga. Mengapa demikian? Karena dari masa ke masa, orang banyak bertanya perihal damai sejahtera. Dalam kehidupan manusia yang penuh dosa, lahirlah banyak perselisihan dan pertentangan, baik dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Mereka membutuhkan damai sejahtera itu. Membagi damai sejahtera bisa dengan memberitakan kasih Tuhan yang menyelamatkan manusia dari dosa secara lisan. Bisa juga dengan mempertontonkan hidup damai sejahtera kita secara pribadi maupun keluarga dan komunitas. Roh Kudus yang akan menolong membuka hati mereka, sehingga mereka pun juga akan menerima hidup yang penuh damai sejahtera di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.
Oleh: Suyito Basuki
