“MENENGOK TIONGKOK”

PELITANUSANTARA.COM | NEGERI Tirai Bambu selalu memantik ‘cemburu’. Terutama pada pertumbuhan ekonominya, perdagangan, kemampuan produksi massalnya, sehingga percepatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta di bidang farmasi.

Eskalasi dan ekspansi perdagangan negeri berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa tersebut bahkan membuat Amerika Serikat kecut. Di bawah komando Donald Trump, Amerika pun mengobarkan perang ‘bubat’ kontra Tiongkok.

Barang asal ‘Negeri Tirai Bambu’ itu dibatasi masuk ‘Negeri Paman Sam’ dengan cara pengenaan bea masuk yang sangat mencekik leher. Presiden Donald Trump meningkatkan tarip impor untuk US$ 200 miliar produk impor Tiongkok, dari yang sebelumnya 10% menjadi 25%.

Tujuannya untuk melindungi ekonomi Amerika agar tak terus berdarah-darah oleh sebuah produk Tiongkok. Maklum, sebelum adanya kenaikan tarip barang impor tersebut, defisit perdagangan AS dengan Tiongkok sudah mencapai sekitar US$300 miliar pada Januari 2019.

Toh negeri yang dipimpin Xi Jinping itu tak kehilangan akal oleh langkah pengetatan tersebut. Mereka menemukan pasar baru, mencari terobosan baru, dan mengayun pendulun negosiasi baru, dengan negara-negara lain yang pasarnya tak kalah ‘seksi’ daripada di Amerika. Tiongkok pun menyasar Vietnam, Iran, Rusia, Indonesia, beberapa negara Amerika Selatan, serta Afrika.

Hingga kemudian Pandemi Covid-19 datang, diawali dari Wuhan, lalu menyebar ke seluruh dunia. Tiongkok sebagai titik awal terjadinya Pandemi dinujum akan rontok secara ekonomi bahkan bisa kembali ke titik dasar. Alasannya, sebagai negara berpenduduk lebih dari 1,4 miliar, orang akan kesulitan mengatasi wabah yang amat mudah menular.

Namun, justru semua prediksi itu yang rontok. Tiongkok relatif mampu menjinakkan Covid-19 kurang relatif mampu menjinakkan Covid-19 kurang dari setahun. Praktis dalam hitungan 10 bulan sejak corona ditemukan di Wuhan, virus mematikan tersebut sudah bisa di halau dari Ibu kota Provinsi Hubei itu.

Secara nasional, berdasarkan data Worldometer, sejak Desember 2019 hingga Januari 2021, ‘hanya’ sekitar 88 ribu warga Tiongkok yang terpapar Covid-19. Padahal, total jumlah warga yang di tes lebih dari 160 juta orang, itu berarti hanya 0,055% yang terkena Covid-19 dari total orang yang tes. Adapun di Indonesia, dari sekitar 8,6 juta orang yang di tes, terdapat lebih dari 965 ribu positif Covid-19, alias 11,2%.

Tidak mengherankan bila keberhasilan Tiongkok menekan penyebaran Covid-19 (jumlah kasus harian positif Covid-19 saat ini rata rata kurang dari 150 orang) berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonominya. Boro statistik Nasional Tiongkok awal pekan ini merilis produk domestik bruto Tiongkok pada 2020 tumbuh 2,3%. Pertumbuhan positif tersebut didorong investasi dan konsumsi, serta didukung relatif cepat. Alhasil, itu juga yang mendorong ekspor.

Angka pertumbuhan 2,3% itu memang terendah dalam 44 tahun, lebih rendah daripada 6% yang dicapai pada 2019. Namun, capaian ditengah Pandemi tersebut melebihi prediksi para ekonomi dan sejumlah lembaga ekonomi dunia yang memperkirakan ekonomi Tiongkok hanya akan tumbuh 2,1%. Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya ekonomi besar yang tumbuh, karena negara-negara raksasa ekonomi dunia termasuk AS dan Jepang, masih terus berjuang dengan Pandemi.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut terutama dipicu pertumbuhan pada kuartal terakhir yang meningkat menjadi 6,5%, dengan momentum ekspansi 4,9% yang dicapai pada kuartal kedua. Pemulihan awal Tiongkok dari Pandemi dan dimulainya kembali pekerjaan memungkinkan produksi industri, meningkat, berkontribusi pada permintaan barang-barang, termasuk per dalam medis dan elektronik.

Laman Blooberg menuliskan bahwa permintaan global untuk barang-barang buatan Tiongkok diperkirakan akan tetap kuat karena Pandemi terus membuat sebagian besar populasi dunia terkunci. Sudah menjadi eksportir utama, nilai pengiriman barang Tiongkok meningkat 3,6% pada 2020. Impor turun 1,1%, menghasilkan surplus perdagangan tahunan US$35 miliar, tertinggi sejak 2015.
Tahun ini, ekonomi Tiongkok pun diprediksi bakal tumbuh 7,9% hingga 8%.

Duta besar Indonesia untuk Tiongkok, Djuhari Oratmangun, pernah mengungkapkan tujuh kunci keberhasilan Tiongkok dalam mencegah, menanggulangi dan mengendalikan Covid-19 : Pemerintah bertanggungjawab penuh, mobilisasi massa, determinasi Politik, menyesuaikan kebijakan secara tepat, mengurangi dampak ekonomi, tranparan dan pemanfaatan IPTEK. Saatnya kita meniru Tiongkok, yang telah terbukti cepat keluar dari jeratan Pandemi Covid-19, syaratnya, ada sikap saling percaya, saling respek, disiplin, dan bertanggung jawab penuh dari semua lini, termasuk warganya. Jangan Elergi Menengok Tiongkok

P. Sirait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *