Mencari Peluang untuk Bertahan Dibalik Musibah

Opini,Pelitanusantara.com | Semua berduka. Epidemi virus corona masih akan menjadi momok selagi belum ada obat penawarnya. Virus ini bahkan disebut-sebut ancaman baru yang akan memukul perekonomian global, termasuk Indonesia. Untuk itu, saat ini di beberapa negara telah menutup akses masuk dan ke luar khusunya bagi turis asing dengan tujuan mencegah adanya penyebaran virus di negara tersebut. Setelah China adalah Korea Selatan, setelah itu Jepang, dilanjut dengan Itali, Iran, dan Singapura.

Banyaknya konser-konser yang dibatalkan. Salah satu konser yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh penikmat musik adalah konser musik Khalid dan Head in The Clouds yang dibintangi oleh beberapa artis mulai dari 88rising hingga chungha. Kedua konser tersebut dibatalkan setelah kabar virus corona tersebar di Asia lebih tepatnya saat 2 orang warga negara Indonesia dinyatakan positif terkena corona.

Beberapa fans cukup menyayangkan hal ini karena keinginan mereka untuk bertemu idolanya sejak lama harus dibatalkan. Namun, beberapa dari mereka bersyukur karena pembatalan konser ini akan berdampak baik untuk kesehatan para artis serta penonton yang akan hadir.

Salah satu pameran kelas dunia yang berada di Swiss juga harus di tunda, karena virus tersebut. Hal itu dilakukan agar para tamu dan pengunjung dari luar Swiss tidak perlu datang untuk pameran tersebut. Kemarin juga diberitakan bahwa Liga Italia akan tetap dilaksanakan pada musim kompetisi ini dengan tanpa penonton.

Target pasar acara hiburan mengalami penurunan. Seperti acara-acara yang sudah berlangsung contohnya Java Jazz 2020 yang mengalami penurunan yang secara signifikan yaitu jumlah penonton yang tahun-tahun sebelumnya memiliki jumlah penonton yang banyak, tetapi tahun ini mengalami penurunan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, dampak penyebaran virus corona dirasakan oleh pengusaha hotel, restoran, dan maskapai penerbangan yang memiliki kerugian yang cukup besar dan pengunjung yang sangat menurun. Beberapa hotel di Batam dan Bali meminta karyawannya untuk cuti di saat permintaan sepi.

Jika hal ini masih terjadi sampai bulan April 2020. Kondisi ini akan berbahaya pada keadaan ekonomi. Belum lagi jika ini masih terjadi dampak negatif tersebut akan semakin menjalar pada usaha usaha kecil.

Secara Internasional, penundaan perjalanan umrah karena pemerintah negara Arab tidak menerima tamu ataupun wisatawan asing turis dari negara manapun. Travel Agent untuk pemberangkatan umrah melakukan refund dana para jamaah dan juga melakukan pengunduran pelaksanaan umrah jika orang tersebut tidak ingin refund dana.

Melakukan pemeriksaan kesehatan dan suhu tubuh di setiap maskapai penerbangan yang membuat para penumpang pesawat merasa tidak nyaman.

Tempat wisata internasional juga menghentikan operasi seperti Universal studio, Disneyland, Batu secret zoo, wisata – wisata pantai di bali dan club, tempat wisata bersejarah seperti Candi Borobudur, Museum. Tempat-tempat wisata ini mengalami kerugian seperti pengembalian dana yang sudah diperjual belikan dari jauh hari. Salah satunya di tempat wisata Disney Land dan konser-konser musik karena ketidakhadiran dari Guest Star yang akan mengisi acara konser tersebut. Tour Guide Agent mengalami penurunan karena tidak adanya wisatawan dan turis yang melakukan traveling.

Berkurangnya pengunjung hotel terutama di Bali dan Yogyakarta yang biasanya menjadi tempat penginapan para turis kini menjadi sepi. Usaha dalam bidang makanan di sekitar tempat pariwisata akan mendapatkan imbasnya juga dalam hal ini. Beberapa usaha bisnis biar bisa survive terutama di bisnis Hospitality. Potongan harga untuk penerbangan domestic, hotel, yang mana hal tersebut akan kembali menarik minat masyarakat untuk melakukan perjalanan karena mereka sadar akan tidak ada peluangnya dalam menjual berbagai paket perjalanan.

Indonesia, yang merupakan negara yang perekonomiannya juga berorientasi pada sektor pariwisata, memungkinkan mengalami krisis ekonomi (inflasi/deflasi) kedepannya.

Perdagangan Indonesia menjadi lesu

Indonesia merana. Mungkin bisa dibilang demikian. Ekonomi global mengalami penurunan. China merupakan pengimpor minyak mentah terbesar. Data neraca perdagangan Indonesia ke China per Januari 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Ekspor merosot 12,07% menjadi USD 2,24 miliar. Penurunan tajam terjadi pada ekspor minyak dan gas dan non-migas. Impor turun sebesar 2,71% menjadi USD 4 miliar. Penurunan paling besar pada komoditas buah-buahan, seperti apel dan anggur. Pantas ya, harga apel dan anggur di pasaran melonjak tinggi, utama Indonesia. Batubara dan minyak sawit mentah juga mengalami penurunan.

Setiap ada petaka selalu ada peluang bisnis. Bisnis yang mendapat keuntungan besar seperti penjualan masker, karena penularan virus corona melalui udara sehingga banyak orang yang membeli masker untuk keperluannya sendiri maupun untuk dijual lagi. Hand sanitizer dan juga rumah sakit mengalami kenaikan dalam jumlah pasien yang membuat mereka mendapatkan keuntungan juga, walaupun risiko mereka untuk bisa tertular penyakit ini juga besar.

Meskipun impor buah-buahan dari China menurun tetapi justru meningkatkan ekspor ke Negara-negara yang terkena dampak termasuk China. Buah dan sayuran berperan penting apalagi untuk ketahanan tubuh manusia sehari-hari. Indonesia juga masih bisa memanfaatkan peluang ekspor obat-obatan.

Cukup menarik bahwa dengan adanya fenomena virus Corona mengakibatkan timbulnya kepanikan warga yang mulai berbelanja stok bahan mentah di supermarket sehingga membludak. Juga kebutuhan akan makanan cepat saji atau makanan mentah. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan-perusahaan domestik untuk memproduksi dan menjual obat-obatan karena akan dibutuhkan oleh negara-negara yang terkena dampak virus.

Solusi lainnya adalah dengan meningkatkan jumlah perdagangan dan akses terhadap pasar minyak sawit mentah. Juga memperdalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat yang merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-2 setelah China.

Strategi berbiaya murah

Iran sangat tergantung dari impor China untuk industri manufaktur, tambang dan hasil pertanian (Shah Abadi et al, 2013). Jumlah transaksi bisa mencapai lebih dari 118.760 juta rial. Dalam kondisi normal, maka perusahaan-perusahaan China melakukan strategi global dalam mempertahankan pangsa pasar di Negara Iran. Kondisi ini dikenal dengan istilah unhealthy competition (Poor Seyed, 1994).

Kondisi status quo ini bisa dimanfaatkan oleh perusahaan- perusahaan di Indonesia dalam meningkat keunggulan kompetisi dipasar Internasional karena efek ekonomi global. Perusahan-perusahan Indonesia juga bisa mengembangkan keunggulan kompetensi lain dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk unggul dan bersaing (Nasiri et al, 2013).

Inovasi bisnis juga dibutuhkan pada saat dalam rangka memperluas pasar karena ada peluang secara factor-faktor external (Hosseini Akram S et al, 2018). Inovasi ini biasa dikenal dengan inovasi terbuka dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan.

Hal ini dicontohkan ketika terjadi peristiwa yang tidak terduga pada penyerangan 11 September 2001 yang mengakibatkan hancurnya perekonomian Negara adikuasa Amerika Serikat dan berdampak pada lesunya perekonomian global. Inovasi terbuka yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan importir Amerika saat itu adalah dengan fokus pada orientasi produksi.

Visi saat itu adalah bagaimana memproduksi produk murah dan biaya promosi yang murah tetapi berkualitas dibenak konsumen Amerika. Berkaca dari kasus tahun 2001 ini, maka perusahaan-perusahaan Indonesia memiliki peluang besar karena bukan hanya satu Negara yang terkena imbas tapi sudah lebih dari 60 negara. Dibutuhkan kemampuan dinamis dari manajemen perusahaan secara krusial untuk merobah arah bisnis karena ada perubahan kompetensi inti di pasar internasional (Yildiz & Karakaz, 2012).

Potensi Indonesia adalah negara yang bisa memproduksi barang-barang dalam berbagai tipe. Untuk perusahaan-perusahaan yang akan mengekspor obat-obatan ke luar negeri, mie kering, makanan dan minuman ringan, dan lain-lain, sudah saatnya untuk memproduksi dalam jumlah besar sehingga akan mendapatkan biaya produksi yang efisien.

Pasar masih terbuka karena kondisi recovery akibat virus Corona diperkirakan akan normal sampai akhir tahun 2020. Dengan biaya produksi yang murah maka akan memberikan daya tawar yang bagus di pasar internasional. Perusahaan juga bisa menggunakan biaya promosi yang murah melalui social media.

Dengan demikian, perusahaan tidak memerlukan biaya iklan yang mahal untuk memasarkan produknya ke pasar luar negeri. Berarti bahwa tidak ada biaya promosi. Harga jual di pasar internasional akan naik secara otomatis karena terjadinya hukum permintaan dan penawaran.

Hal ini bisa diantisipasi oleh para pengusaha Indonesia dengan mempersiapkan sumberdaya keuangan, namun tetap memperhatikan kondisi inflasi di Indonesia akibat lemahnya sector pariwisata. Dengan demikian, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan masih bisa stabil. Hal yang menjadi catatan bagi para pengusaha domestik bahwa meskipun harga jual murah tetapi tetap mempertahankan kualitas karena akan berbahaya jika kondisi ekonomi menjadi normal di pasar internasional. Jangan sampai, dibenak konsumen, menganggap bahwa produk-produk impor ini adalah produk murahan. (pelitanusantara.com)

Dr. Joseph M J Renwarin ( Dosen/Anggota Dewan Pendidikan Kota Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *