MEMOLES PASLON DI ERA POLITIK DELIBERATIF pi

Palicardo
20201003
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com | Bekasi, 3 Oktober 2020| “KAMPANYE Pilkada 2020 berlangsung selama 71 hari, dimulai sejak Sabtu (26/9). Kampanye ialah kegiatan meyakinkan pemilih dengan menawarkan Visi dan Misi, dan program calon kepala daerah.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kegiatan untuk meyakinkan para pemilih oleh 741 Paslon itu dilakukan dengan cara yaitu, KAMPANYE Virtual. Bukan melalui kampanye berbasis pengumpulan massa yang dibatasi selama masa Pandemi Covid-19.

Kampanye Virtual berbasiskan Internet. Komunikasi berbasis Internet melalui media sosial. Ragam Media Sosial yang tengah berkembang dan banyak diminati orang adalah Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, WhatsApp dan sebagainya.

Penggunaan media sosial itu sesungguhnya mengantarkan Negeri ini menuju Demokrasi yang berbasis pada ekspresi ruang publik. Demokrasi yang berakar pada ruang publik ini oleh Jurgen Habermas disebut ‘Demokrasi Deliberatif’. Jurgen Habermas menunjukkan bahwa ia keluar dari kerangka filsafat tradisional.

Menurut Habermas, dalam ruang publik setiap orang bebas masuk dan turut berbicara tanpa ada tekanan koersif yang mengarah pada kesepakatan pragmatis. Ruang publik menjadi arena pengakuan kembali atas kemanusiaan seseorang, dihargai pendapatnya.

Kebebasan individu di ruang publik kata kunci kampanye Virtual. Calon kepala daerah mesti lebih kreatif membungkus dan menyampaikan pesan politik. Meski demikian, bisa dipahami, mereka tidak mudah beradaptasi karena faktor usia.

Tawaran Mendagri Tito Karnavian bisa dipertimbangkan. Paslon menggunakan Event organizer (EO) Virtual. EO itu bisa mendesain kampanye tatap muka terbatas yang dikoneksikan dengan jaringan Medsos secara Virtual lewat siaran langsung.

Satu siaran langsung, sesuai data organisasi itu, bisa menarik sedikitnya 4000 – 5000 akun penonton. Acara siaran langsung bermacam-macam, yaitu mulai dari yang dikemas sebagai bincang-bincang, seminar, konferensi pers, hingga hiburan.

Fakta yang diungkap Tito itu sejalan dengan data dari Indonesia Digital Report 2020 oleh Hootsuite (We are sosial), per Januari 2020. Pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta. Sebanyak 160 juta merupakan pengguna media sosial yang aktif.

Rata-rata waktu akses internet dapat mencapai lebih dari tujuh jam per hari. Media sosial dan Video Streaming menjadi yang paling lama diakses dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai lebih dari 3 jam.

Platform Media Sosial tergolong tinggi penggunaannya di Indonesia ialah YouTube, dengan tingkat penggunaan mencapai 88%, disusul WhatsApp 84%, Facebook 82%, Instragram 79%, dan Twitter yang tingkat penggunaan tak kurang dari 56%.

Penelitian yang dilakukan Hillygus dan Jackman (2003) perlu dipertimbangkan bahwa metode kampanye yang berbeda akan memiliki efek yang berbeda pada pemilih, tetapi kampanye juga dapat tidak memiliki efek apapun karena pemilih sudah memiliki preferensi tersendiri.

Karena itu patut dipertimbangkan platform Media Sosial yang digunakan. Pertimbangan utama tentu saja sasaran pemilih yang hendak dituju. Sebab, perbandingan berbeda-beda perbandingan pengguna berdasarkan jenis kelamin.

Jumlah pengguna Facebook di Indonesia saat ini mencapai 130 juta jiwa dengan rincian perempuan sebanyak 44,4% dan laki-laki sebanyak 55,6%. Sementara itu, jumlah pengguna Instagram di Indonesia sebanyak 63 juta jiwa. Presentasi pengguna Instagram perempuan sebanyak 50,8% dan laki-laki sebanyak 49,2%.

Instagram ikut membantu memenangkan Ridwan Kamil dalam Pilkada 2018 di Jawa barat berdasarkan hasil penelitian ‘Sholihul Abidin dan ‘Agung Rara Cindoswari. Kesimpulan penelitian itu menyebutkan bahwa political branding Ridwan Kamil di Twitter di bentuk melalui banyak aspek, antara lain aspek penampilan.

Selama pada masa kampanye terlihat Ridwan Kamil selalu bergonta ganti kostum mulai formil hingga nonformal. Demikian halnya dengan modal rambut yang terkadang terbuka dan kadang menggunakan penutup kepala seperti peci, udeng bali, dan blankon sunda.

Strategi Political branding yang dilakukan Ridwan Kamil menggambarkan dirinya sebagai sosok kandidat yang terbuka, dekat dengan masyarakat, kredibel, dan merakyat (Egaliter).

Citra dan personalitas pemimpin memang dapat dibantu dibentuk proses branding. Inilah yang disebut sisi gelap kampanye Virtual, Media Sosial mampu memoles calon sehingga ia tidak original lagi. Bopeng-bopeng yang ada di wajahnya sudah ditutup dengan topeng sehingga semua tampak mulus adanya.

Pemilih hendaknya tetap cermat melacak jejak digital Calon kepala daerah. Jangan tertipu dengan penampilan semu selama kampanye nya Virtual, apalagi ia memakai topeng, jika tidak mau sengsara selama “lima tahun” ke depan. (P.sirait-Pst.harts)