“MEMBELA AGAMA LAIN DI MALAM NATAL

Kefaspelita
Riyanto 20161225 152813 (1)
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com | “AKU lihat orang sekarat, aku menjemputnya. Aku menemukan seseorang yang lapar, aku memberinya makanan. Dia bisa mencintai dan dicintai. Aku tidak melihat apa-apa. Setiap orang, apakah dia Hindu, muslim atau Budha, ia adalah saudara, adik saya.”

Itu salah satu pernyataan paling berpengaruh Bunda Teresa. Bunda Teresa seorang santa, perempuan suci Katolik. Namun, kerja-kerja kemanusiaannya melampaui agamanya. Dia membela orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas, meski mereka beragama bukan katolik. Bunda Teresa membela penganut agama-agama lain.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Mahatma Gandhi Tokoh India penganut Hindu. Serupa Bunda Teresa, misi kemanusiaan Gandhi melampaui agama yang dianutnya. Gandhi menggambarkan Islam agama damai. Ia mengapresiasi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan empat sahabat Nabi. Gandhi bercita-cita menyatukan Islam dan Hindu. Gandhi membela Islam.

Riyanto pemuda Mojokerto, jawa timur. Dia anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul ulama. Dia pastinya penganut Islam. Pada malam Natal 24 Desember 2000, dia bertugas di Gereja Eben Haezer. Natal tahun itu bersinggungan dengan puasa Ramadhan. Riyanto tewas mendekap bom yang diletakkan di Gereja tersebut, Bom yang didekapnya untuk dilarikan menjauh dari Gereja meledak. Di setiap perayaan Natal setelah kejadian itu, kita mengenang Riyanto.

Riyanto melindungi rumah ibadah agama lain. Dia melindungi agama lain. Serupa Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi, Riyanto membela penganut agama lain. Riyanto membela penganut agama lain kendati harus menebus dengan nyawanya.

Riyanto, Gandi, Bunda Teresa membela orang-orang berbeda agama. Kemanusiaan yang mempertemukan dan mempersatukan mereka. Kerja-kerja mereka atas nama kemanusiaan, bukan atas nama agama. Yang mereka bela bukan agama, melainkan kemanusiaan. Bukankah seperti kata Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi, mereka yang tidak bersaudara dalam iman, “bersaudara dalam kemanusiaan”.

Gus Dur pernah mengatakan Tuhan tidak perlu dibela. Gus Dur hendak mengatakan yang perlu dibela Ciptaan Nya. Pun, agama tidak perlu di bela, tetapi menganutnya. Riyanto, Gandhi, Bunda Teresa tidak membela Tuhan, tetapi manusia ciptaan-Nya, bukan membela agama, melainkan penganutnya.

Gus Dur kiranya khawatir mereka yang membela Tuhan, membela agama, sekadar mengatasnamakan Tuhan dan agama untuk kepentingan politik. Lebih dari itu, Gus Dur khawatir mereka yang mengklaim membela Tuhan dan agama melancarkan kekerasan atas nama Tuhan dan agama untuk tujuan politik. Mereka yang mengklaim membela agama dengan jalan kekerasan, bukannya melindungi, melainkan merusak citra agama.

Dalam bahasa Menteri Agama Yoqut Qolil Qoumas, agama hendaknya menjadi ‘inspirasi’, bukan ‘ aspirasi’. Menjadikan agama aspirasi setara artinya dengan menjadikan agama senjata untuk kepentingan politik. Menjadikan agama inspirasi sama artinya menjadikannya alat mendatangkan kebaikan. Riyanto, juga Gandhi dan Bunda Teresa, menjadikan agama inspirasi untuk berbuat kebaikan bagi kemanusiaan.

Diberitakan Riyanto sempat bertanya kepada kawannya tentang hukum muslim menjaga ibadah umat agama lain kemudian meninggal dunia. Kawannya menjawab hukumnya mati syahid karena muslim tersebut menjaga tanah dia dan sesama manusia. Dalam Islam, mati syahid imbalannya surga.

Kawan Riyanto itu menjawab spontan dan gamblang, tidak seperti Haikal Hasan, Sekjen HRS Center, yang pakai cerita bertemu dengan Nabi dalam mimpi untuk mengatakan enam anggota Laskar FPI yang tewas di tembak polisi berada di surga bersama Nabi. Belakangan Haikal mengaku cerita dia bertemu dengan Nabi dalam mimpi cuma untuk menghibur orang tua keenam anggota Laskar FPI itu.

Pardamean Sirait/Pelitanusantara.com