Pelitanusantara.com Pada abad ke-18, Jawa menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai Geger Pecinan. Peristiwa ini bermula dari ketegangan antara VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dan etnis Tionghoa di Batavia. VOC, yang saat itu merupakan perusahaan dagang Belanda yang sangat berpengaruh di Indonesia, merasa terancam oleh keberhasilan etnis Tionghoa dalam bidang ekonomi.
Menurut Ricklefs (2008), ketegangan antara VOC dan etnis Tionghoa memuncak ketika VOC memutuskan untuk mendeportasi ribuan orang Tionghoa ke luar Jawa. Keputusan ini memicu kemarahan dan perlawanan dari etnis Tionghoa, yang merasa bahwa mereka telah menjadi bagian dari masyarakat Jawa selama berabad-abad [1].
Pada 9 Oktober 1740, VOC memulai pembantaian terhadap etnis Tionghoa di Batavia. Pembantaian ini berlangsung selama beberapa hari, dan diperkirakan bahwa sekitar 10.000 orang Tionghoa tewas. Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu pembantaian paling kejam dalam sejarah Indonesia [2].
Menurut catatan sejarah, pembantaian ini dipicu oleh kecurigaan VOC terhadap etnis Tionghoa yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan dan kekuasaan VOC di Batavia. Pembantaian ini meninggalkan luka yang dalam bagi etnis Tionghoa dan memicu perlawanan yang berkepanjangan [3].
Setelah pembantaian di Batavia, banyak etnis Tionghoa yang melarikan diri ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kemudian bersekutu dengan kekuatan Kesultanan Mataram untuk melawan VOC. Salah satu tokoh sentral dalam peristiwa ini adalah Raden Mas Garendi, juga dikenal sebagai Sunan Kuning, yang memimpin pasukan gabungan Jawa-Tionghoa melawan VOC [1].
Pada 30 Juni 1742, pasukan Sunan Kuning berhasil menjebol benteng Keraton Kartasura dan menguasai keraton. Sunan Kuning kemudian dinobatkan sebagai penguasa Keraton Kartasura dengan gelar Sunan Amangkurat V. Namun, kekuasaannya tidak berlangsung lama, karena VOC dan pasukan Pakubuwono II berhasil mengalahkan pasukan Sunan Kuning dan merebut kembali Keraton Kartasura pada 26 November 1742 [2].
Peristiwa Geger Pecinan memiliki dampak besar pada sejarah Jawa dan Indonesia. Peristiwa ini menyebabkan perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Mataram dari Keraton Kartasura ke Desa Sala, yang kemudian menjadi Kota Solo. Selain itu, peristiwa ini juga menyebabkan pecahnya Kesultanan Mataram menjadi beberapa wilayah, termasuk Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta [1].
Dengan demikian, Geger Pecinan merupakan peristiwa bersejarah yang memiliki dampak besar pada sejarah Jawa dan Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan antara VOC dan etnis Tionghoa dapat memicu perlawanan dan kekerasan yang berkepanjangan.
Referensi:
[1] Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Palgrave Macmillan.
[2] Carey, P. B. R. (1986). The Archive of Yogyakarta: A Catalogue of the Javanese Manuscripts in the British Library. Oxford University Press.
[3] Kumar, A. (2014). Java and Modern Europe: Ambiguous Encounters. Routledge.
