“MASIH ADAKAH SOLIDARITAS”

IMG 20210110
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com | PERSAMBUNGAN antara harapan dan kecemasan terus berlangsung di negeri ini. Kecemasan bahkan selalu ‘mengintip’ saban muncul harapan baru. Ia seperti binatang buas yang bersiap menyantap mangsanya, kapan saja.

Itu pula yang terjadi saat Vaksin Covid-19 telah tiba dan tinggal menunggu izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk disuntikkan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Vaksin itulah harapan. Namun, pada saat bersamaan penyebaran kasus positif korona di Tanah Air kian menggila. Penambahannya bahkan mencapai angka tertinggi sejak Pandemi, yakni 10,619 orang, kemarin. Angka itu mencemaskan.

Kecemasan itu kian menumpuk saat sejumlah rumah sakit tak sanggup lagi menampung pasien. Imbasnya, tak cuma ditempatkan di selarar, pasien yang tak tertampung tersebut bahkan ada yang dirawat dengan posisi duduk sambil diinfus karena ketiadaan ranjang dan kamar. Malah, ada yang dirawat dalam posisi duduk hingga dua hari dua malam.

Dengan melihat kondisi itu, saya sepakat dengan saran ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap ketat mematuhi Protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Kendati program vaksinasi akan dijalankan, disiplin Protokol kesehatan ialah mutlak. Sebab, vaksin masih bersifat relatif.

“Masyarakat jangan hanya mengandalkan vaksin. Protokol kesehatan seperti 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) harus tetap dipatuhi agar Pandemi ini segera berlalu.

Dosen Fakultas kesehatan masyarakat Unair itu menjelaskan program vaksinasi baru efektif mengendalikan Pandemi kalau cukupannya minimal mencapai 70% dari populasi.

Itu pun jika tidak ada varian baru Covid-19 yang lebih ganas. Ia menjelaskan, semakin tinggi kemungkinan penularan Covid-19, maka harus semakin tinggi pula proporsi yang divaksin guna membentuk kekebalan kelompok.

Masalahnya, jalan mencapai vaksinasi terhadap 70% populasi atau 189 juta orang Indonesia itu butuh waktu 15 bulan.
Padahal, ketersediaan vaksin tergantung dari luar negeri, yang jumlahnya baru. Kita belum bisa memproduksi vaksin sendiri, kita harus bisa memproduksi vaksin merah putih tahun 2022.

Saat harapan belum sepenuhnya kita genggam, jalan terbaik ialah menebalkan solidaritas. Kita butuh solidaritas untuk saling membantu, saling menguatkan, saling mengingatkan. Jangan sampai muncul justru krisis solidaritas. Saat sebagian kita masih berjuang melawan Covid-19, eh..lain malah mengendurkan disiplin Protokol kesehatan. Malah, masih saja ada yang menyangkal bahaya Covid-19.

Krisis solidaritas itu merupakan tanda pecahnya sebuah masyarakat. Padahal, solidaritas merupakan ciri dasar manusia. Tanpa solidaritas, manusia kehilangan – kemanusiaannya. Masyarakat pun kehilangan fungsi utamanya, yakni melindungi dan mengembangkan semua manusia yang ada didalamnya.

Tanpa solidaritas, sebuah masyarakat menjadi lemah, dan dengan mudah hancur karena serangan dari kelompok lain. Peter Schmitz, pemikir Jerman, menyebutkan solidaritas ialah dasar dari perasaan kebersamaan. Karena dasar, Ia bersifat hakiki. Ia Conditio Sinequanon, alias syarat mutlak.

Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bekerja sama dan menciptakan masyarakat yang kukuh. Kebersamaanlah yang membuat manusia bisa bertahan menghadapi keganasan alam yang penuh dengan bencana. Tanpa solidaritas, manusia bisa punah. Covid-19 telah memberi jalan bagi kita anak kandung bangsa ini, untuk menjalankan modal sosial yang kita miliki : ‘solidaritas’.

Dasar dari solidaritas ialah ‘empati dan kemampuan’ untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bisa juga dibilang bahwa empati ialah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan empati, manusia bisa terdorong untuk membantu orang ataupun mahluk lain.

Dorongan ini muncul dari sikap ‘welas asih’, dan bukan dari ‘pamrih’. Saat kita berempati sebagian dilanda kecemasan karena Covid-19, kalau kita berempati, kita tak akan menebarkan kecemasan baru lewat informasi palsu. Kita juga tak terus-terusan menyangkal Covid-19, saat yang lain sangat disiplin menangkal Covid-19.

(P. Sirait)