YOGYAKARTA – Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, saat ini popularitasnya sudah diakui dunia, hal ini dibuktikan dengan adanya pengukuhan oleh UNESCO sejak Oktober 2009, bahwa batik sebagai warisan budaya milik Indonesia.
Pengetahuan tentang batik tidak hanya sebatas motif dan produk kain lokalnya saja, melainkan juga proses produksinya termasuk dari sisi proses pewarnaannya, diantaranya berbahan dasar pewarna alami atau pewarna sintetis.
Sebelum ditemukannya pewarna sintetis sebagai pewarna batik seperti sekarang ini, pewarnaan batik menggunakan pewarna alami adalah satu-satunya pewarna batik, namun seiring dengan berjalannya waktu pewarna sintetis lebih mudah dalam proses dan juga lebih murah, lambat laun pewarna alami mulai ditinggalkan oleh para pengrajin batik dan membuat batik.
Melihat fenomena diatas Nuri Ningsih Hidayati, Sarjana tekstil lulusan ISI Yogyakarta tergerak hatinya untuk mengembalikan kejayaan Batik Warna Alam dengan mendirikan usaha batik bernama “Marenggo”beralamat kalurahan Jogotirto Kapanewon Berbah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nuri Ningsih Hidayati, merupakan anggota dari Forum Mebel Kerajinan dan Seni Indonesia (FORMEKERS INDONESIA) saat ditemui wartawan disela-sela pameran Festival Batik 2022 di Jogja Expo Center, minggu (23/10/2022) silam.
Nuri Ningsih Hidayati, mengatakan bahwa kelebihan dari batik dengan pewarna alami salah satunya adalah tidak mencemari lingkungan, karena pewarna alami berasal dari tumbuhan baik itu akar, kulit, kayu, daun, bunga ataupun buahnya bahkan dari tanah juga bisa, yang tidak mencemari lingkungan seperti yang saya tampilkan saat ini dengan proses “TANAH BASAH”, “ ungkap Nuri sambil menunjukkan hasil kain batik warna alamnya, hal ini berbeda dengan warna sintetis, tuturnya.
Lebih lanjut Owner Marenggo Batik menuturkan bahwa, perjalanan berkarya dalam mewarna kain menggunakan bahan dasar alam menjadi sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, namun sangat menyenangkan, walau terkadang kecewa dengan hasil pewarnaannya, nanun terkadang justru sangat kagum dan bahagia dengan hasil warna diluar dugaan.
Alam dengan segala kebaikannya menyimpan misteri yang sarat akan pesan, daun, kayu, bunga, dan buah adalah elemen alami yang kami olah dari tahun ke tahun, dari Kayu, Nangka, Secang, Tegeran, Tingi, Soga dan Mahoni yang menghasilkan warna alam yang indah, ungkapnya.
Marenggo, Indigo, Mangga, Rambutan, dan daun Jambu adalah sederetan nama dedaunan yang sampai sekarang masih kami olah karena karakter warna yang lembut dan meneduhkan, dan juga pewarnaan menggunakan kulit buah Jolawe dan Manggis juga menjadi uji coba kami dalam mengembangkan warna alam, tuturnya.
Diungkapkan pula oleh Nuri Ningsih, bahwa Marenggo tahun lalu mencoba untuk mengembangkan proses pewarnaan alam yang berbahan dasar Tanah dengan mengumpulkan berbagai macam tanah yang diambil sebagai sampel penelitian.
Sebuah penelitian yang membuat kami merasa “dituntun” kembali untuk merenungkan awal mula tanaman berasal, tanaman yang lahir dan tumbuh dari tanah, terbaik menghasilkan sesuatu yang baik, “Tanah Basah” adalah sebuah pengingat untuk selalu merawat bumi yang kita pijak, menebarkan kasih sayang kepada banyak orang, dan sebagai pengingat diri untuk terus tumbuh namun selalu “menapak tanah” di bumi kita tercinta, tambahnya.
Sementara itu, GKBRAY Paku Alam ,Permaisuri Kadipaten Pakualaman atau Gusti Putri yang berkesempatan datang mengunjungi stand Marenggo di pameran Festival Batik 2022 di JEC tersebut, memberikan apresiasi yang lebih atas karya Marenggo dengan Tanah Basahnya dan berbagai motif batiknya.
Warna alam Tanah Basah ini adalah merupakan capaian karya yang indah buat Marenggo dari sebuah karya dalam proses membatik, ujar Gusti Putri.
Seri motif Tanah Basah dari Marenggo Batik ini diantaranya adalah motif Garis Kasih Tanah Basah, Kembang Marenggo Tanah Basah, Akar Tanah Basah, Tanah Basah Jogotirto 2, Pagi Sore Tanah Basah, Sulur Kembang Marenggo, Tritik Kembang Marenggo, Truntum Marenggo, Garis Kembang Marenggo, Udan liris Kembang Marenggo, Parang Kembang Marenggo dan masih banyak lagi seri motif yang lainnya. (Ome)
