Pelitanusantara.com Kami masih ingat saat-saat sulit ketika Papa kami meninggal. Mama kami harus mengambil alih tanggung jawab untuk membesarkan 7 anaknya sendirian. Kami sebagai anak-anaknya, merasa berat melihat Mama kami harus berjuang sendirian.
Mama kami memutuskan untuk berjualan nasi uduk di depan rumah kami. Setiap tengah malam, dia selalu mempersiapkan barang dagangan nya untuk dijajakan pagi-pagi sekali. Dagangan Mama kami lengkap banget! Nasi uduk, gorengan, risol, dan lopis. Meskipun terkadang dagangan laris manis, terkadang tersisa. Kalau tersisa dan tidak terjual, terkadang buat kami makan hari itu.
Tapi Mama kami tidak pernah menyerah. Dia banting tulang untuk anak-anaknya, dan terkadang untuk biaya sekolah, tak jarang Mama harus meminjam kepada rentenir. Meskipun begitu, Mama kami tak pernah mengeluh atau memperlakukan anak-anaknya dengan kasar.
“Kondisi susah begini mana ada orang yang mau kasih pinjam sia-sia, percaya saja ketika kita di kasih pinjam pun percaya saja Tuhan pasti kasih berkat buat kita untuk bayar,” kata Mama kami dengan tersenyum penuh arti. Seperti yang tertulis dalam Filipi 4:19, “Allahku akan memenuhi segala kebutuhanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
Kami sangat menghargai usaha dan kerja keras Mama kami. Mama kami memang sangat rajin dan berdedikasi! Kami bangga memiliki Mama yang seperti itu. Seperti yang tertulis dalam Amsal 31:28, “Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia; suaminya juga memuji dia.”
Mama kami juga memiliki kebiasaan yang sangat menyentuh hati kami. Setiap malam, dia selalu berdoa untuk kami anak-anaknya, menyebut nama-nama kami satu per satu, memohon perlindungan dan berkat dari Tuhan. Seperti yang tertulis dalam 1 Tesalonika 5:17, “Tetap berdoa.”
Ketika kami mulai beranjak besar dan satu persatu dari kami mulai bekerja, Mama kami akhirnya berhenti berdagang. Sebelum berhenti berdagang, Mama kami selalu pesan kan kepada kami anak-anak, “Ketika kamu tidak bisa bantu orang, jangan suka mempersulit. Dan ketika di kasih kesempatan untuk memiliki jabatan, jangan suka menindas anak buah.” Seperti yang tertulis dalam Matius 7:12, “Jadi segala hal yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Sekarang, tak terasa beberapa dari kami sudah berumah tangga dan anak-anak kami pun sudah beranjak besar. Tapi sekarang Mama kami hanya bisa melihat pertumbuhan mereka cucu-cucunya dalam kenangan-kenangan yang abadi. Terkadang itu yang membuat kami memiliki rasa kangen yang sangat besar kepada Mama kami. Kami merindukan kehadiran dan kasih sayang Mama kami. Kami sedih karena tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan Mama kami.
Kami masih mengingat saat-saat indah bersama Mama kami, saat-saat yang membuat kami merasa bahagia dan dicintai. Tapi sekarang, kenangan-kenangan itu hanya menjadi kenangan yang abadi. Kami berharap bisa kembali ke masa lalu, bisa kembali merasakan kehadiran Mama kami. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 103:2, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!”
Kami mencintai dan menghormati Mama kami dengan sepenuh hati. Mama kami adalah contoh nyata bahwa dengan kerja keras, ketulusan hati, dan kepercayaan kepada Tuhan, kita dapat mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hidup. Kenangan kami terhadap Mama kami akan selalu terpatri dalam hati kami, dan kami akan selalu merindukan kehadiran dan kasih sayang Mama kami. [÷]
