LASEM Tempo Doeloe

LASEM,PELITANUSANTARA | adalah kota kecil sebagai kota kecamatan yg berada di Kab Rembang, Jateng. Lasem juga dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” karena konon merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa pada abad ke 14-15. Di sana terdapat perkampungan Tionghoa yang banyak tersebar di kota Lasem (Lao Sam). Namun, warga yang kurang setuju dengan julukan “Tiongkok Kecil” lebih suka menyebut kawasan itu dengan “Pecinan Lasem tempo dulu”.

Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar China masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit, terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan itu, kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Tercatatnya nama Lasem dalam kronik Cina lintas abad seakan membuktikan bahwa Lasem menjadi tujuan dan tempat favorit para perantau asal negeri tirai bambu.

Sementara itu, salah satu tokoh agama di Lasem, KH Zaim Ahmad, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Karangturi mengatakan, sebenarnya sebutan Tiongkok Kecil itu justru dari orang barat. ”Mungkin karena di sini banyak terdapat bangunan khas Tionghoa. Selain itu, orang Tionghoa juga banyak bermukim di daerah Lasem ini,” ungkapnya.

Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri. Peninggalan pesantren-pesantren tua di kota ini telah terekam jejaknya hingga sekarang. Banyak ulama-ulama karismatik yg wafat di kota yg terkenal dgn suhu udara yg panas ini. Mereka, di antaranya adalah Sayid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu) yang kini namanya dijadikan jalan raya yg menghubungkan Lasem-Bojonegoro, KH. Baidhowi, KH. Khalil, KH. Maksum, dan KH. Masduki, dll.

Dalam hal lain, yang tak kalah menariknya adalah bahwa kota Lasem juga cukup dikenal dengan industri kerajinan batik tulisnya, termasuk dalam tiga besar di kota pesisir/pantai utara (pantura) Jawa Tengah, selain Cirebon dan Pekalongan. Ciri khas corak/motif batiknya mengandung unsur perpaduan antara Tionghoa dan Jawa pantura. Karena itu, motif khas batik Lasem juga merupakan bagian dari daya tarik tersendiri sebagai obyek kunjungan bagi wisatawan.

Sisi yg lain lagi, dalam seni ukir pewayangan, ternyata Lasem juga mempunyai gaya/ciri gunungan wayang kulit yang berbeda dengan gagrag Solo, Jogja, dan Banyumasan. Itulah sekilas tentang Lasem, kota kecil yg kerap lepas dari perhatian kita sbg kota wisata dgn objek warisan masa lalunya. Silahkan bisa ditambahkan jika masih ada informasi yg layak dan menarik untuk diketahui publik. Trima kasih. (PN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *