Kunjungi Sekolah Kebinekaan di Medan, Mendikbudristek: Wujudkan Profil Pelajar Pancasila

  • Bagikan

Jakarta, Pelitanusantara.com  – Dalam kunjungan kerja di  Medan, Sumatra Utara, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengunjungi sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM).

Selain meninjau pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas jenjang SMA di sekolah tersebut, Mendikbudristek juga melihat implementasi semangat kebinekaan dan pendidikan multikultural yang diterapkan pada sekolah jenjang TK sampai SMA dan SMK di sana. Bahkan di dalam kompleks sekolah ini terdapat lima rumah ibadah yang masing-masing memiliki ciri khas pada bentuk dan warna bangunan.

Anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan, yang mendirikan YPSIM mewakili warga sekolahnya, mengatakan “Kami sangat bangga bahwa sekolah ini bisa dihadiri Mas Menteri, yang merupakan seseorang dengan pandangan, visi yang sangat jelas untuk membangun pendidikan Indonesia ke depan, dengan kualitas sumber daya yang baik,” ujarnya.

Penerapan pendidikan multikultural di YPSIM sejalan dengan misi Kemendikbudristek untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, YPSIM juga aktif mengikuti program dan kebijakan Merdeka Belajar yang digagas Kemendikbudristek. SD Sultan Iskandar Muda (SIM) tercatat sebagai salah satu Sekolah Penggerak dan SMK SIM merupakan SMK Pusat Keunggulan. Selain itu, terdapat 24 calon Guru Penggerak di sekolah SIM, yang terdiri dari lima guru jenjang TK, delapan guru jenjang SMP, dan 11 guru jenjang SMA.

Usai meninjau pelaksanaan PTM terbatas dan berkeliling di kompleks sekolah SIM, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim memberikan apresiasi yang tinggi atas semangat kebinekaan dan implementasi kebijakan Merdeka Belajar yang diterapkan YPSIM.

“Saya luar biasa terpukau dengan sekolah-sekolah YPSIM. Termasuk tingkat sosio ekonomi murid-muridnya yang sangat variatif, dengan proporsi penerima KIP besar,” ujar Mendikbudristek saat berdialog dengan warga sekolah SIM di Aula Bung Karno Sekolah Sultan Iskandar Muda, Medan, seperti dikutip dalam rilis Kemendikbudristek di Selasa (26/10).

“Menurut saya Bung Karno akan bangga melihat ini. Sekolah SIM ini sudah merdeka. Justru saya meminta SIM untuk membantu memerdekakan sekolah-sekolah lain. Kita ingin sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, relevan untuk masa depan anak,” tuturnya.

Salah satu hal yang membuat Mendikbudristek  kagum adalah terdapatnya rumah-rumah ibadah dari lima agama, yaitu pura, masjid, gereja, wihara, dan klenteng. “Ujung-ujungnya akan tercapai enam profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, serta bernalar kritis dan kreatif,” ujarnya.

Kepada Guru Penggerak di SIM, Mendikbudristek berharap para guru bisa maju menjadi pemimpin di unit-unit pendidikan, baik di SIM atau di sekolah-sekolah luar. “Saya mohon guru-guru penggerak di sekolah ini bisa mengajar di sekolah-sekolah lain agar segala kebaikannya menyebar,” pesannya.

Mendikbudristek secara khusus juga memberikan apresiasi kepada anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan, yang mendirikan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Menurutnya, YPSIM adalah refleksi dari sosok Sofyan Tan sebagai seorang pendidik. “Guru yang terbaik bukan hanya memiliki banyak ilmu, punya rasa ingin tahu, tetapi juga memiiki teladan yang baik. Tidak ada kontradiksi antara apa yang diajarkan dan dilakukan. Terima kasih, Pak Tan telah menginspirasi saya,” tuturnya.

YPSIM didirikan pada tahun 1987 oleh Sofyan Tan sebagai media untuk mengatasi persoalan prasangka dan cara pandang yang streotipik. Perbedaan suku, agama, dan ras, harus dilihat sebagai kekayaan bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Perguruan ini juga memiliki misi menciptakan peserta didik yang cerdas, religius, dan humanis, dalam bingkai kesetaraan dan keberagaman.

Anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan mengatakan, saat mendirikan sekolah ini, ia memiliki misi agar sekolah Sultan Iskandar Muda menjadi sekolah yang bisa dinikmati semua orang. “Saya ingin orang miskin pun bisa berkontribusi pada negara ini. Saya mencari anak asuh, saya cari di pinggir sungai. Bukan hanya anak miskin, tetapi juga ada berbagai bantuan dan aksi sosial untuk siswa, guru, dan pegawai. Kita mendorong semua siswa masuk PTN, kalau mereka masuk kita bantu dana,” kata Sofyan Tan.

Dengan mendirikan YPSIM, ia berharap peserta didik tidak hanya pintar, melainkan juga bisa menghargai perbedaan dan memiliki toleransi yang tinggi seperti yang ingin diwujudkan Kemendikbudristek melalui Profil Pelajar Pancasila.

  • Bagikan