Klenteng Pan Kho Bio Kota Bogor Sering dipakai kegiatan Pengajian

Kota Bogor, Pelitanusantara.com Bicara tentang Bogor memiliki sejarah yang menarik, Berbagai etnis dan suku Bangsa secara Turun menurun sudah bermukim di Kota Bogor,  dan tidak terlalu jauh dari Kebun Raya Bogor, berdiri sebuah klenteng kecil yang sangat bersejarah untuk kota Bogor dan juga adat Sunda.

Kelenteng Pan Kho Bio, atau yang punya nama lain Wihara Maha Brahma, di Pulo Geulis, Babakan, Kota Bogor memiliki sejarah yang menarik dan memiliki hubungan Toleransi beragama yang cukup Harmonis.

Jika dilihat sekilas keberadaan Kelenteng Pan Kho Bio tidak berbeda dengan kelenteng lainnya, yaitu sebagai tempat ibadah Tridharma.

Namun keunikan kelenteng tertua di Bogor ini adalah terdapat makam dan petilasan tokoh era Kerajaan Pajajaran, salah satunya adalah petilasan Prabu Surya Kencana.

Di bagian belakang Kelenteng Pan Kho Bio, terdapat ruangan memanjang dengan dua batu besar yang merupakan petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat, dua tokoh penyebar Islam era Pajajaran.

Di dalam ruangan itu juga terdapat perlengkapan salat, Alquran serta sajadah yang mengarah ke kiblat.

“Lokasi klenteng ini dulunya pernah jadi tempat peristirahatan Raja Siliwangi dan tempat berkumpulnya para penyebar agama Islam sejak zaman kerajaan Pajajaran,” kata Abraham Halim, pemerhati sejarah Kampung Pulo Geulis yang kerap dipanggil Bram, di kawasan klenteng pada April 2021.

Di sisi kanan kelenteng, terdapat petilasan Eyang Prabu Surya Kencana dengan dua patung kepala harimau hitam, patung harimau putih kecil, dan sebuah arca kura-kura berukuran besar. Bersebelahan dengan petilasan, terdapat makam Embah Imam, tokoh penyebar Islam pada zaman Kerajaan Pajajaran yang lain.

Kelenteng itu tak hanya untuk ibadah umat Konghucu / Buddha / Tao saja. Akan tetapi Sering juga diadakan pengajian umat Islam pada malam Jumat di dalam klenteng tersebut. Hal ini menjadi bukti akulturasi dan toleransi yang muncul di masyarakat kawasan tersebut sejak turun temurun.

“Setiap malam Jumat, mereka mengadakan pengajian di sini, tepatnya di belakang kelenteng. Selain pengajian rutin setiap malam Jumat, ada juga tradisi rutin sedekah maulid dalam menyambut Maulid Nabi,” ujar Chandra Kusuma, pengurus Klenteng Pan Kho Bio.

Chandra menjelaskan bahwa klenteng itu didirikan sekitar tahun 1703. Dan sebelum pembangunan kelenteng, di lokasi itu sudah ditemukan yoni, arca Hindu, dan batu petilasan. Karena itu, tak mengherankan jika kadang ada juga umat Hindu maupun Sunda Wiwitan yang berkunjung ke kawasan ini. (Romo Kefas/PN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *