Pelitanusantara.com Di jantung Kota Surabaya, sebuah bangunan tua berdiri megah di Jalan Tunjungan. Dahulu dikenal sebagai Hotel Yamato, tempat ini menjadi saksi bisu salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah Indonesia, yaitu Insiden Perobekan Bendera pada 19 September 1945.
Masa Kolonial dan Pendudukan Jepang
Hotel ini pertama kali dibangun pada era kolonial Belanda dengan nama Hotel Oranje dan menjadi tempat menginap para pejabat tinggi serta orang-orang kaya Eropa. Namun, ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, hotel ini diambil alih dan berganti nama menjadi Hotel Yamato.
Saat Jepang kalah dalam Perang Dunia II dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, suasana di Surabaya menjadi tegang. Banyak tentara Sekutu dan Belanda kembali ke Indonesia dengan dalih melucuti tentara Jepang, tetapi sebenarnya mereka berusaha merebut kembali kekuasaan.
Awal Mula Insiden
Pada 18 September 1945, sekelompok orang Belanda yang dipimpin oleh W.V.Ch. Ploegman menginap di Hotel Yamato. Mereka kemudian mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di puncak hotel sebagai simbol kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia. Tindakan ini memicu kemarahan rakyat Surabaya, yang merasa bahwa kemerdekaan mereka sedang diremehkan.
Keesokan harinya, ribuan pemuda Surabaya berkumpul di depan hotel, menuntut agar bendera Belanda segera diturunkan. Beberapa tokoh, termasuk Soedirman (bukan Jenderal Soedirman, melainkan seorang pemuda pejuang Surabaya), mencoba bernegosiasi dengan Ploegman. Namun, perundingan memanas, dan terjadi baku hantam di dalam hotel. Dalam kekacauan itu, Ploegman tewas dicekik oleh seorang pemuda Indonesia.
Aksi Heroik Pemuda Surabaya
Melihat negosiasi yang gagal, para pemuda Surabaya langsung bergerak. Seorang pemuda bernama Hariyono dan teman-temannya nekat memanjat tiang bendera di puncak hotel. Dengan penuh semangat, mereka merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga hanya tersisa warna merah dan putih—lambang kebanggaan bangsa Indonesia.
Aksi ini memicu pertempuran sengit antara pemuda Surabaya dan tentara Belanda di sekitar hotel. Bentrokan terjadi selama beberapa jam, menyebabkan banyak korban di kedua belah pihak. Insiden ini menjadi pemicu utama Pertempuran 10 November 1945, di mana rakyat Surabaya berperang melawan pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris.
Hotel Yamato Sekarang
Kini, hotel ini dikenal sebagai Hotel Majapahit, sebuah bangunan bersejarah yang tetap mempertahankan arsitektur kolonialnya. Banyak wisatawan yang datang ke sini untuk mengenang peristiwa heroik tersebut. Plakat peringatan di depan hotel menjadi pengingat akan keberanian pemuda Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hotel Yamato bukan sekadar bangunan tua, tetapi simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia. Peristiwa perobekan bendera di hotel ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan tidak diberikan begitu saja, melainkan diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan.
