KERAJAAAN TERTUA DILERENG GUNUNG CIREMAI

Pelitanusantara.com Nama Kerajaan Indraprastha dan Indraprahasta hampir mirip sama tapi beda !!! Kerajaan Indraprastha adalah sebuah kerajaan di India utara pada zaman dahulu kala. Kota ini muncul dalam kisah wiracarita Mahābhārata dan diperintah oleh Panca Pandawa. Kota/kerajaan ini terletak di tepi sungai Yamuna, lokasinya dekat dengan ibu kota India zaman sekarang, Delhi. Sebelum dikenal sebagai Indraprastha, kota/kerajaan ini dikenal sebagai Kandawaprastha. Sedangkan Kerajaan Indraprahasta terletak Cirebon Girang lereng gunung Cereme (gunung Indrakila). Awalnya berupa kemandalaan yang bernama Mandala Indraprahasta. Selanjutnya kemandalaan Indraprahasta ini berkembang menjadi kerajaan. Kerajaan Indraprahasta awal berdirinya sejaman dengan Salakanagara.

Dalam naskah “Negara Kretabhumi’ sargah I parwa I” disebutkan ‚ sejak tahun 80 saka hingga 230 saka (308 M), banyak kelompok pendatang yang menumpang berbagai perahu dari negeri Bharata dan Bhenggali yang bermukim di Nusantara. Tiba dari daerah Gangga India. Selanjutnya ‘Naskah Pustaka Rajya-rajya I Bumi Nusantara’ juga menyebutkan bahwa Indraprahasta didirikan Maharesi Sentanu yang berasal dari kawasan Sungai Gangga India. Kedatangannya ke pulau jawa karena mengungsi akibat negaranya diserang pasukan Samudra Gupta.

Sebelum mendarat di pantai utara Jawa Barat, Maharesi Santanu terlebih dahulu singgah di Srilangka dan Benggala. Ketika Maharesi Santanu mendarat di pantai utara Jawa Barat, saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Maharaja Prabu Darmawirya Dewawarman VIII Di antara mereka yang berasal dari negeri Bharata (India) terdapat Resi Waisnawa, mereka mengajarkan agamanya kepada penghulu masyarakat, tempat mereka bermukim, khususnya di Jawa Barat. Sedangkan Resi Syaiwa banyak yang bermukim di Jawa Timur.

Di antara penganut agama Hindu sekte pemuja Batara Wisnu tersebut adalah Maharesi Sentanu Murti . Disebutkan pula Maharesi Sentanu ini kemudian menikah dengan putri Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari.Beliau diizinkan mendirikan pemukiman baru di ujung timur Salakanagara di tepi sungai Cirebon, yang diberi nama desa Indraprahasta. Desa tersebut awalnya berupa kemandalaan yang bernama Mandala Indraprahasta. Selanjutnya kemandalaan Indraprahasta ini berkembang menjadi kerajaan.

Mandala adalah istilah yang berkaitan dengan Agama Hindu. Istilah ini muncul dalam Rig Veda sebagai nama bagian-bagian karya, tetapi juga digunakan dalam agama-agama India lainnya, khususnya agama Buddha.

Pendeta Hindu bermadzhab Batara Wisnu Maharesi Santanu Murti ini, memimpin nagari Indraprahasta dari tahun 285 – 320 saka atau 363 – 398 M dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana, dan menikah dengan putri Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari. Wilayah Indraprahasta kala itu kini meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sebagai pusat pemerintahan), Cimandung di Desa Krandon Kecamatan Talun dan Desa Cirebon Girang.
Wilayah Kecamatan Talun adalah daerah yang dialiri tiga hulu sungai, yaitu Sungai Grampak yang mengalir dari Desa Sarwadadi ke Desa Sampiran. Kemudian Sungai Suba yang mengalir dari Desa Patapan menuju Sampiran, serta Sungai Cirebon Girang yang mengalir dari Desa Cirebon Girang juga menuju ke Sampiran.
Di Desa Sampiran itulah ketiga hulu sungai tersebut bertemu menjadi satu, yang diberi nama Maharesi Sentanu dengan nama Gangganadi.

Indraprahasta didirikan 363 M dan Maharesi Sentanu berkuasa sampai tahun 398 M, dengan gelar Prabu Indaswara Sakalakretabuwana. Kekuasaanya berdampingan dengan Kerajaan Salakanagara yang dipimpin Prabu Darmawirya Dewawarman VIII.

Kala itu duplikasi tempat-tempat di India diaplikasikan untuk menamai Gunung Cireme sebagai Indrakila, sungai yang melintasi wilayahnya diberi nama Gangganadi, termasuk memperdalam sungai yang kemudian diberi nama Setu Gangga. Disanalah, Pendeta Syiwa Maharesi Santanu memimpin tradisi upacara mandi suci, reduplikasi itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian mengenang tanah kelahirannya, kawasan sungai Gangga, Kerajaan Calankayana, India.

MANDALA INDRAPRASTA

Mandala Indraprahasta adalah tempat suci Sunda atau sering juga disebut kabuyutan yang berada di Cirebon Girang di lereng gunung Ciremai atau Gunung Indrakila. Selanjutnya kemandalaan Indraprahasta ini berkembang menjadi kerajaan. Nama Mandala atau kerajaan Indraprahasta ini mirip dengan nama kerajaan yang berada di India. Mandala ini termasuk dalam daftar Kabuyutan atau Kemandalaan di Tatar Pasundan.

Namun demikian, tidak semua kabuyutan disebut Mandala meskipun fungsinya sama. Mandala adalah istilah yang berkaitan dengan Agama Hindu. Istilah ini muncul dalam Rig Veda sebagai nama bagian-bagian karya, tetapi juga digunakan dalam agama-agama India lainnya, khususnya agama Buddha. Bentuk dasar dari mandala Hindu dan Budha adalah persegi dengan empat gerbang yang berisi lingkaran dengan adanya titik pusat. Setiap gerbang dalam bentuk T.

Filosofi Mandala

Mandala sering menunjukkan keseimbangan radial. Dalam berbagai tradisi spiritual, mandala dapat digunakan untuk memfokuskan perhatian para calon dan ahli, sebagai alat pengajaran spiritual, untuk membangun ruang suci, dan sebagai bantuan untuk meditasi dan trans induksi. Di cabang Tibet Buddhisme Vajrayana, mandala telah dikembangkan menjadi lukisan pasir. Mereka juga merupakan bagian penting dari praktik meditasi Anuttarayoga Tantra.

Dalam penggunaan umum, mandala menjadi istilah umum untuk setiap rencana, grafik atau pola geometris yang mewakili kosmos secara metafisik atau simbolis, mikrokosmos alam semesta dari perspektif yang tercerahkan, yaitu dari dewa prinsip. Asal-usul nama Indraprahasta Kemandalaan Indraprahasta Cirebon Girang, didirikan oleh Maharesi Santanu pada tahun 398 Masehi. Penyebutan Maharesi menunjukkan bahwa kemandalaan tersebut berbasis agama Hindu-Buddha (Siwa-Buddha).

Maharesi Sentanu memimpin Mandala Indraprahasta sejak tahun 398 – 432 Masehi. Sementara di kalangan masyarakat sering menyamakan istilah Mandala dengan kerajaan, maka Indraprahasta disebut sebagai kerajaan pula. Hal ini terjadi karena Mandala selain memiliki wilayah, rakyat juga memiliki tentara atau prajurit pelindung Mandala, seperti tertulis dalam prasasti

Maharesi Sentanu dinobatkan sebagai raja dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana Permaisurinya bernama Indari, putri Dewawarman VIII raja Kerajaan Salakanagara. Kerajaan kecil ini berada di bawah kerajaan salakanagara berlanjut hingga ke kerajaan Tarumanagara. Kedudukan maharesi di Mandala yang kemudian dinobatkan sebagai raja, disebut “Rajamandala” Raja-raja Indraprahasta (perubahan bentuk dari Mandala): 285 – 645 Caka = 360 tahun candra atau 398 – 747 Masehi = 349 tahun Surya.

Kerajaan Indraprahasta berkembang menjadi kerajaan besar, Maharesi Santanu sebagai raja pertama sekaligus sebagai pendiri dan berkuasa dari tahun 363 – 398 Masehi.

Setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Jayasatyanagara merupakan putra sulung dari permaisuri Dewi Indari. Prabu Jayasatyanagara memerintah Indraprahasta tahun 398 – 421 Masehi dengan permaisuri bernama Ratnamanik putri Prabu Wisnubumi Raja Malabar.

Pada tahun 399 Masehi Jayasatyanagara harus mengakui kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman dari Tarumanagara, nama kerajaan baru dari Salakanagara menjadi Tarumanagara yang diganti oleh Praburesi Jayasingawarman yang menikahi putri sulung Ratu Rani Spatikarnawarmandewi yang bernama Dewi Minati. Sejak ditaklukan oleh Sri Purnawarman, Indraprahasta menjadi negara bawahan Tarumanagara.

Dari permaisuri Ratnamanik, memperoleh putra bernama Wiryabanyu, sebagai penguasa Indraprahasta ke tiga. Prabu Wiryabanyu berkuasa dari tahun 421- 444 Masehi. Permaisuri Prabu Wiryabanyu bernama Nilam Sari putri kerajaan Manukrawa. Dari permaisuri memiliki putra dan putri diantaranya Warnadewaji sebagai penerus tahta dan Suklawati yang diperistri oleh Prabu Wisnuwarman Raja Tarumanagara ke empat atau putra Sri Purnawarman.

Ketika di Tarumanagara terjadi huru hara perebutan kekuasaan antara Wisnuwarman pewaris tahta dan Cakrawarman adik Sri Purnawarman, Prabu Wiryabanyu turut serta menumpas pemberontakan Cakrawarman.

Penerus tahta kerajaan Indraprahasta berikutnya adalah Prabu Warnadewaji, yang berkuasa dari tahun 444 – 471 Masehi. Selanjutnya digantikan oleh Prabu Warna Hariwangsa, yang berkuasa dari tahun 471- 507 Masehi.

Raja Indraprahasta berikutnya adalah Prabu Tirtamanggala Darmagiriswara yang memerintah Indraprahasta dari tahun 507 – 526 Masehi.

Prabu Tirtamanggala digantikan oleh putranya bernama Prabu Astadewa yang berkuasa dari tahun 526 – 540 Masehi.

Setelah Prabu Astadewa wafat digantikan oleh Prabu Jayagranagara, yang berkuasa dari tahun 540 – 546 Masehi.

Prabu Jayagranagara setelah wafat digantikan oleh Prabu Padmayasa yang memerintah Indraprahasta dari tahun 546 – 590 Masehi.

Kemudian tahta kerajaan Indraprahasta dipegang oleh Prabu Andabuana yang memerintah dari tahun 590 – 636 Masehi.

Setelah Prabu Andabuana wafat digantikan oleh Prabu Wisnumurti sebagai raja Indraprahasta ke sebelas, yang memerintah dari tahun 636 – 661 Masehi. Putri Prabu Wisnumurti bernama Ganggasari dinikahi oleh Maharaja Linggawarman raja Tarumanagara ke dua belas.

Setelah Prabu Wisnumurti wafat digantikan oleh Prabu Tungul Nagara, yang memerintah Indraprahasa dari tahun 661 – 707 Masehi.

Kemudian digantikan oleh Praburesi Padma Hariwangsa, yang berkuasa dari tahun 707 – 719 Masehi. Putri Prabu Padma Hariwangsa yang bernama Citra Kirana dinikahi oleh Purbasora putra Maharesi Sempakwaja dari kerajaan Galungung.

Berikut daftar raja2 Indraprahasta :

1. Tahun 285 – 320 Caka (398 – 432 Masehi): 15 tahun. Penobatan di Indraprahasta ke 1 [bawahan Salakanagara]; Nama Maharesi Santanu.; Gelar Prabursi Indraswara Salakakretabuwana; Permesuri Indari, putri Dewawarman VIII.; Anak Jayasatyanagara; Lokasi di lereng gunung Cereme (gunung Indrakila); Penjelasan Tiba dari daerah Gangga India, dan ada pertalian keluarga dengan Dewawarman VIII

2. Tahun 320 – 343 Caka (432 – 454 Masehi): 23 tahun.; Penobatan di Indraprahasta ke 2. [bawahan Tarumanagara]; Nama Jayasatyanagara; Permesuri Ratna Manik, putri Wisnubumi, raja Malabar.; Anak bernama: Wiryabanyu

3. Tahun 343 – 366 Caka (454 – 476 M): 23 tahun.; Penobatan di Indraprahasta ke 3; Nama Wiryabanyu; Permesuri Nilem Sari, putri kerajaan Manukrawa; Anak 1. Suklawati, diperistri oleh Wisnuwarman, putra: Purnawarman. 2. Warna Dewaji; Catatan Indraprahasta menjadi bawahan Tarumanagara.

4. Tahun 366 – 393 Caka (476 – 503 Masehi): 27 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 4; Nama Warna Dewaji.; Anak Raksahariwangsa. Kala 393 – 429 Caka (503 – 538 Masehi) : 36 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 5; Nama asal Raksahariwangsa.; Nama nobat Prabu Raksahariwangsa Jayabhuwana; Permesuri putri raja Sanggarung; Anak Dewi Rasmi, bersuami Tirtamanggala, putra kedua raja Agrabinta.

5. Tahun 429 – 448 Caka (538 – 556 Masehi): 19 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 6; Nama Dewi Rasmi; Suami Tirtamanggala, putra kedua raja Agrabinta; Gelar Prabu Tirtamanggala Darmagiriswara; Anak 1.Astadewa 2.Jayagranagara

6. Tahun 448 – 462 Caka (556 – 570 Masehi): 14 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 7; Nama Astadewa; Anak Rajaresi Padmayasa (penerus pamannya); Catatan Jayagranagara adalah adik Astadewa, penerus raja.

7. Tahun 462 – 468 Caka (570 – 575 Masehi): 6 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 8; Nama Jayagranagara; Catatan Ia adalah adik Astadewa, raja Indraprahasta 7

8. Tahun 468 – 512 Caka (575 – 618 Masehi) : 44 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 9; Nama Rajaresi Padmayasa; Anak Andabuwana; Catatan Raja adalah putra Astadewa, raja Indraprahasta ke 7. Ia menggantikan kedudukan pamannya.

9. Tahun 512 – 558 Caka (618 – 663 Masehi): 46 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 10; Nama Andabuana; Anak Wisnumurti.

10. Tahun 558 – 583 Caka (0663 – 0688 Masehi): 25 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 11; Nama Wisnumurti;.Anak 1 Dewi Ganggasari, diperistri oleh Linggawarman, yang kelak men-jadi raja Tarumanagara ke 12. 2 Tunggulnagara, melanjutkan warisan ayahnya.

11. Tahun 583 – 629 Caka (0688 – 0732 Masehi) : 46 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 12; Nama Tunggalnagara, ialah adiknya Ganggasari; Anak Padmahariwangsa; Penjelasan Gangasari ialah putri sulung Prabu Indraprahasta ke 11 yang diperistri oleh Prabu Tarumanagara 12.

12. Tahun 629 – 641 Caka (732 – 744 Masehi): 12 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 13; Nama nobat Resiguru Padmahariwangsa; Anak 1 Citrakirana, yang diperistri oleh Purbasora. 2 Wiratara, yang menjadi penerus ayahnya.3 Ganggakirana, yang menjadi Adipati Kusala dari kerajaan Wanagiri, bawahan Indraprahasta.

13. Tahun 641 – 645 Caka (743 – 747 Masehi): 4 tahun; Penobatan di Indraprahasta ke 14; Nama nobat Prabu Wiratara; Anak Raksadewa; Peristiwa Prabu Wiratara yang membantu Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Prabu Sena, lalu kakak Wiratara, yang bernama Citrakirana, diperistri oleh Purbasora.

14. Tahun 645 Caka (748 Masehi); Peristiwa Sunda menyerbu Indraprahasta; Catatan Setelah Galuh ditaklukkan, Sanjaya menumpas pendukung Purbasora. Terutama kerajaan Indraprahasta, yang turut membantu Purbasora waktu merebut kekuasaan Galuh dari Sena. Indraprahasta yang didirikan sejak jaman Salakanagara – Tarumanagara, ahirnya diratakan dengan tanah oleh Sanjaya, seolah tidak pernah ada kerajaan disitu.”Indraprahasta sirna ing bhumi”.

15. Tahun 645 – 649 Caka (748 – 751 Masehi): 4 tahun; Penobatan di Indraprahasta digabungkan dengan Wanagiri; Nama nobat Adipati Kulasa; Anak Raksadewa; Peristiwa Bekas kawasan Indraprahasta digabungkan dengan Kerajaan Wanagiri oleh Adipati Kulasa sebagai negara baru bawahan Galuh. Kulasa menjadi ratunya Kerajaan Indraprahasta menjadi salah satu kerajaan tertua di Nusantara.

Makna politik Mandala

“Rajamandala” (atau “Raja-mandala”; lingkaran negara) dirumuskan oleh penulis India Kautilya dalam karyanya tentang politik, Arthashastra (ditulis antara abad ke-4 dan abad ke-2 SM). Ini menggambarkan lingkaran negara sahabat dan musuh yang mengelilingi negara raja.

Dalam pengertian historis, sosial dan politik, istilah “mandala” juga digunakan untuk menunjukkan formasi politik tradisional Asia Tenggara (seperti federasi kerajaan atau negara-negara yang dilecehkan). Ini diadopsi oleh para sejarawan Barat abad ke-20 dari wacana politik India kuno sebagai sarana untuk menghindari istilah ‘negara’ dalam pengertian konvensional. Tidak hanya negara-negara Asia Tenggara yang tidak sesuai dengan pandangan Cina dan Eropa tentang negara yang ditetapkan secara teritorial dengan perbatasan tetap dan aparatur birokrasi, tetapi mereka berbeda jauh dalam arah yang berlawanan: pemerintahan didefinisikan oleh pusatnya daripada batas-batasnya, dan itu bisa tersusun dari banyak pemerintahan jajahan lainnya tanpa mengalami integrasi administratif. Kerajaan seperti Bagan, Ayutthaya, Champa, Khmer, Sriwijaya dan Majapahit dikenal sebagai “mandala” dalam pengertian ini.

Visualisasi ajaran Vajrayana Mandala dapat ditunjukkan untuk mewakili dalam bentuk visual inti sari dari ajaran Vajrayana. Pikiran adalah “mikrokosmos yang mewakili berbagai kekuatan ilahi yang bekerja di alam semesta.” Mandala mewakili sifat pengalaman, dan seluk-beluk pikiran yang tercerahkan dan bingung. Sementara di satu sisi, mandala dianggap sebagai tempat yang terpisah dan dilindungi dari dunia samsara yang selalu berubah dan tidak murni, dan dengan demikian dipandang sebagai “Buddhafield” atau tempat Nirwana dan kedamaian, pandangan Buddhisme Vajrayana. melihat perlindungan terbesar dari samsaramenjadi kekuatan untuk melihat kebingungan samsara sebagai “bayangan” kesucian (yang kemudian menunjuk ke arah itu). Gunung Meru Mandala juga dapat mewakili seluruh alam semesta, yang secara tradisional digambarkan dengan Gunung Meru sebagai poros mundi di tengahnya, dikelilingi oleh benua-benua.

Kebijaksanaan dan ketidakkekalan Dalam mandala, lingkaran luar api biasanya melambangkan kebijaksanaan. Cincin delapan tanah pekuburan merepresentasikan nasihat Buddha untuk selalu waspada terhadap kematian, dan ketidakkekalan yang dengannya samsara diliputi: “lokasi-lokasi semacam itu digunakan untuk menghadapi dan mewujudkan sifat kehidupan yang sementara.” Dijelaskan di tempat lain: “di dalam nimbus pelangi menyala dan dikelilingi oleh lingkaran hitam dorjes, cincin luar utama menggambarkan kedelapan pekuburan besar, untuk menekankan sifat berbahaya dari kehidupan manusia.”

Di dalam cincin ini terdapat dinding istana mandala itu sendiri, khususnya tempat yang dihuni oleh dewa dan Buddha. Lima Buddha Salah satu jenis mandala yang terkenal adalah mandala dari “Lima Buddha”, bentuk Buddha pola dasar yang mewujudkan berbagai aspek pencerahan. Para Buddha seperti itu digambarkan tergantung pada sekolah agama Buddha, dan bahkan tujuan spesifik dari mandala. Mandala yang umum dari jenis ini adalah Lima Buddha Kebijaksanaan (a.k.a. Lima Jinas), Buddha Vairocana, Aksobhya, Ratnasambhava, Amitabha dan Amoghasiddhi. Ketika dipasangkan dengan mandala lain yang menggambarkan Lima Raja Kebijaksanaan, ini membentuk Mandala dari Dua Alam.

KEHANCURAN KERAJAAN INDRAPRAHASTA

Sementara dari cerita tutur di Desa Sarwodadi dikisahkan bahwa Resi Sentanu datang dari India yaitu dari hulu Sungai Gangga di Himalaya. Mendarat di pesisir Jawa setelah melihat Burung Cangak (Bango) yang banyak bersarang di Gunung Cangak. Seribu tahun lampau jajaran perbukitan ini dekat dengan garis pantai.
Resi Sentanu kemudian menjadikan kawasan Gunung Cangak, juga Cimandung sebagai kawasan suci dan dianggap anak Gunung Himalaya. Gunung Cangak ini merupakan salah satu puncak gunung diantara beberapa puncak lainnya yang berdekatan, seperti Gunung Cimandung dan Gunung Lingga yang juga sarat dengan jejak arkeologis.

Sebutan gunung-gunung tersebut lebih merupakan puncak-puncak bukit yang berada lereng Gunung Ceremai. Sehingga dalam naskah disebutkan bahwa kerajaan Indraprahasta didirikan Resi Sentanu di Gunung Ceremai. Perahu yang digunakan Resi Sentanu saat mendarat di pesisir terdapat di Gunung Cimandung saat ini dikenal sebagai Batu Perahu.

Masa Purbasora memerintah Galuh, Indraprashta tampil menjadi kerajaan bawahan kesayangan, namun disisi lain, menantu (sumber lain menyebutnya anak) Raja Bratasenawa yang berhasil melarikan diri ke Jawa Tengah dan mendirikan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno mendendam pada pihak-pihak yang mengkudeta mertuanya

Namun pada abad 8 M, Indraprahasta yang saat itu dipimpin Prabu Wiratara (719 M-123 M) dilululuhlantakkan Sanjaya yang membalas dendam karena Indraprahasta telah membantu Purbasora menggulingkan tahta ayahnya, Sang Sena penguasa Galuh.

Indraprahasta membantu Purbasora karena adik Prabu Wiratara yang bernama Citrakirana menikah dengan Purbasora (putra Sempakwaja). Setelah Indraprahasta hancur maka tahun 719 M Sanjaya mengangkat menantu Padmahariwangsa, yaitu Adipati Kusala, Raja Wanagiri (719-727) untuk berkuasa di bekas tanah Indraprahasta. ‘Sirna ing bumi Indraprahasta’ ditulis dalam Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara III/2 :

“Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nirakaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tanhana karunya budhi pinaka satwakura.”

Artinya : Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonnya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.

Bukti primer seperti prasasti yang menegaskan keberadaan kerajaan Indraprahasta memang belum ditemukan, mengingat dari keterangan naskah diatas jejak peradaban Indraprahasta seperti bangunan keratonnya dihancurkan, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang.

Sumber sekunder yang menjadi rujukan mengenai kerajaan tersebut diantaranya didapat dari Naskah Wangsakerta. Namun tak bisa diabaikan bahwa sumber-sumber lain seperti toponimi, sungai, desa dan adat tradisi di kawasan bekas kekuasaan Indraprahasta masih bisa ditemui. Seperti nama Cimandung dan Gunung Cangak yang sejak awal sudah dikenal semasa Maharesi Sentanu.
Sampai saat ini Situs Cimandung walau disebut sebagai Patilasan Mbah Kuwu Sangkan dan Nyimas Ratu Cempa Mulia masih menyiratkan kawasan yang disakralkan sejak zaman Indraprahasta sampai zaman Cirebon Girang. Di Kawasan ini banyak terdapat sumur-sumur dan mata air yang dikeramatkan.

Jejak artefak yang patut dicurigai dari masa Indraprahasta atau Wanagiri juga terdapat di komplek Taman Air Sunyaragi, yaitu sebuah arca yang sudah sangat aus yang dikenal masyarakat sebagai arca Haji Malela. Ikonografi Arca ini sangat langka, karena menggambarkan perwujudan dewa yang sedang duduk di atas yoni dan belum ditemukan pembandingnya. Sejauh ini belum ada kajian tentang arca Haji Malela di Sunyaragi. Selain itu jejak artefak juga terdapat di Pejambon Kecamatan Sumber, yang bertetangga dengan Kecamatan Talun.

Demikian pula Kabuyutan Krapyak dan sumur kuno di Sarwadadi juga patut dicurigai peninggalan Wanagiri atau bahkan Indraprahasta. Temuan lingga yang patah juga didapatkan penulis di Pemakaman Pangeran Drajat yang berada tepat di pinggir Kali Kriyan. Kemudian Di Pejambon terdapat puluhan arca berbagai bentuk yang tersimpan di sebuah bangunan permanen, namun yang tersisa sekitar 20 arca yang diduga kuat peninggalan Indraprahasta maupun Wanagiri.

Terlepas dari polemik asal-usul arca tersebut, kawasan Cirebon Girang ini memang kaya dengan tinggalan arkeologi. (dari Berbagai Sumber/PN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *