Kelilip Kehidupan

Kefaspelita
1738660564
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Tidak tahu sejak kapan perjudian mulai muncul di tengah masyarakat. Bahkan di naskah kitab suci pun telah disebutkan sebagai perilaku buruk yang harus dihindari. Di era tekhnologi yang semakin maju perjudian tetap eksis dengan perkembangan yang ikut modern, yakni maraknya Judi OnLine dengan berbagai model dan dilengkapi aplikasinya.

Sudah cukup banyak para rokhaniwan melalui ceramahnya, para budayawan melalui kreasi seninya, Para pencipta lagu melalui karya lirik lagunya bakhan artis nasional yang mengangkat tema tentang bahayanya perjudian. Tidak ketinggalan juga aparatur pemerintah, termasuk kepolisian yang bergerak gencar untuk memberantas perjudian. Masyarakatpun cukup aktif untuk membantu memberikan pengertian tentang bahaya perjudian , namun hingga saat ini masih ada juga ditengah masyarakat dengan alasan hanya sekedar bermain, hiburan sebagai penungu malam dan lain lain. Di kalangan Generasi muda yang mungkin terdorong iming-iming cepat mendapatkan penghasilan, atau bahkan cepat memperoleh kekayaan terjerumus kedalam perjudian online.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Upaya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan perjudian cukup gencar dilakukan baik oleh pemerintah maupun secara swadaya oleh masyarakat, para tokoh agama, rokhaniwan dan para tokoh masyarakat. Tapi rupanya perjudian tetap menjadi Kelilip kehidupan ditengah masyarakat kita.

Kelilip adalah benda sangat kecil, yang karena sangat kecilnya mungkin bisa dianggap remeh, hal yang tidak penting. Tapi jika kelilip yang sangat kecil itu masuk kedalam mata kita, maka akan menjadi sangat menyulitkan untuk membuangnya, itu namanya Kelilipan.

Bila mata kita kelilipan bukan hanya menjadi sangat gelisah, tapi bisa menjadi mata kita terpejam terus tidak nyaman, selalu menangis mengeluarkan airmata, sehingga menajdi gelap tak dapat melihat. Pengobatannya harus cepet-cepat dikeluarkan kelilip itu, mungkin dirambang dengan air jernih, juga daun sirih, atau penanganan ke dokter segera. Demikian kelilip perjudian di tengah masyarakat harus segera ditangani dan diberi pencerahan agar kembali dapat melihat dengan terang. Tulisan ini dimaksudkan untuk turut ambil bagian dalam penyadaran masyarakat tentang bahaya dari perjudian.

Dalam Sigalovada Sutta, salah satu sutta yang cukup popular di lingkungan masyarakat Buddhis, Buddha memberikan nasihat kepada Sigala, seorang pemuda yang sedang melakukan upacara ritual memberikan penghormatan 6 arah tentang cara menjalani kehidupan yang baik dan bermoral.

Buddha menyebutkan tentang Enam saluran pemborosan. Keenam saluran pemborosan tersebut adalah : (1) Mengonsumsi minuman keras dan zat yang menyebabkan lemahnya kewaspadaan; (2) Berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak pantas; (3) Sering mengunjungi tempat hiburan; (4) Berjudi; (5) Bergaul dengan orang-orang yang tidak bermoral; (6) Bermalas-malasan dan tidak bekerja keras;

Bahkan Buddha menjelaskan lebih jauh kepada Sigala tentang enam bahaya akibat gemar berjudi. Enam bahaya tersebut adalah: (1) Bila menang, ia memperoleh kebencian; (2) Bila kalah, ia meratapi harta kekayaannya yang telah hilang; (3) Kerugian harta benda secara nyata; (4) Di pengadilan kata-katanya tidak berharga; (5) Dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah; (6) Tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari atau mengambil menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat menjaga seorang istri (DN. 31).

Bukan hanya dalam Sigalovada sutta saja Budda menyebutkan bahaya dari perjudian. Dalam Vassala Sutta Buddha juga menyebutkan perjudian menjadi sebab menyebutkan perjudian dapat menyebabkan sesorang menjadi Vassala : sampah masyarakat. Dalam Sutta yang lain Parabhava sutta Buddha juga menyebutkan perjudian sebagai sebab sebab kemerosotan, baik kemerosotan materi maupun kemerosotan batin.

Dengan menilik khotbah Buddha di beberapa sutta tersebut sangat jelas sekali bahwa perjudian selalu manjadi kelilip masyarakat sejak dulu dan bahaya perjudian sangat jelas merusak perilaku moral masyarakat. Selain itu dampak secara individu dari mereka yang berjudi juga sangat buruk. Menjadi malas, dirundung kekalahan, serta keinginan yang tiada habis habisnya. Singkat kata akibat perjudian berdampak pada rusaknya semua aspek kehidupan manusia, dari aspek batin; ekonomi; reputasi; persahabatan; keluarga; dan sosial.

Dalam Dighajanu Sutta, seorang yang bernama Dighajanu, bertanya kepada Buddha tentang perilaku yang dapat membawa kesuksesan bagi perumah tangga dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Menjawab pertanyaan ini, Buddha menjelaskan ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, yaitu: (1) Utthanasampada: rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif; mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas; (2) Arakkhasampada: ia harus pandai menjaga penghasilannya, yang diperolehnya dengan cara benar, yang merupakan jerih payahnya sendiri; (3) Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan; (4) Samajivikata: harus dapat hidup sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Artinya bisa menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilan yang diperolehnya, tidak boros, tetapi juga tidak pelit/kikir (AN. 8.54)

Khotbah Buddha tersebut memberikan arah menuju kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dengan cara yang benar bukan dengan cara yang instan. Bekerja dengan cara yang benar dan bersungguh-sungguh. Mampu menjaga dan menggunakan apa yang telah diperoleh dengan benar serta memiliki pergaulan dengan mereka yang bermoral.

Ada yang berdalih bahwa perjudian tidak melanggar kemoralan, pancasila buddhis karena tidak termasuk dari lima latihan kemoralan itu. Ya… memang benar bahwa perjudian tidak ada dalam 5 latihan kemoralan tetapi perjudian meskipun tidak terdapat dalam lima latihan kemoralan (pancasila), dapat menjadi kondisi terjadinya perilaku pelanggaran sila. Buddha secara rinci menyatakan adanya bahaya dari akibat perjudian yang menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam Vassala sutta Buddha menyebutkan sebagai sebab seorang menjadi sampah masyarakat. Dan dalam Parabhava sutta disebutkan sebagai sebab sebab kemerosotan/keruntuhan. Semoga kita tetap dapat mempertahankan kehidupan yang benar dan membeawa keberkahan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Wiyono, S.Ag. (Penyuluh Agama Buddha Jawa Timur)