YOGYAKARTA-PN NEWS, Kawasan Industi Piyungan (KIP) dirancang sebagai kawasan Industri berbasis Kebudayaan, dengan visi mengangkat budaya asli Yogyakarta, supaya berkibar didunia Internasional, melalui bidang ekonomi. Sayangnya sejak dicanangkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, sampai saat ini belum juga terwujud.
Proyek KIP ini sebetulnya sudah digarap intensif, bahkan sudah ada pengembang hub industri kerajinan yang dikelola secara inklusif, banyak pengrajin dan UMKM kerajinan di DIY tersalurkan produknya bahkan sudah sampai eksport setiap bulannya.
Menurut informasi dari pihak pengelola kawasan, bahwa perkembangannya lamban, disebabkan kurang mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah dan pihak terkait yang terkesan setengah hati.
Bahkan pihak Kalurahan setempat juga tidak responsif, terkesan terjadi pembiaran, bahkan penduduk setempat, pernah memblokir jalan masuk kawasan industri, sehingga menyulitkan mobil kontainer pengangkut produk eksport tertahan.
Di awal tahun 2017 silam, Bupati Bantul kala itu, Drs.H.Suharsono, hadir mencanangkan tahap ground breaking pembangunan kawasan industri tersebut, yang berlokasi Piyungan -Kabupaten Bantul,Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pimpinan PT.Yogyakarta Isti Parama (YIP) Eddy Margo Gozali, menuturkan kawasan industri puyungan ini dirancang berbasis kebudayaan Yogyakarta, maka kawasan industri ini harus mendukung Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengedepankan filosofi, Hamemayu Hayuning Bawono, yaitu prinsip untuk mempercantik dunia, artinya bahwa, kegiatan ekonomi disini harus sejalan dengan pembangunan DIY yang berbasis kebudayaan.
Awal tahun 2023 , Eddy Margono Gozali, banyak berdialog dengan para Akademisi diantaranya melalui FORHANAS, forum pakar ketahanan dan pembangunan nasional, yang di ketuai oleh Prof.Dr.Djagal Wiseno Marseno, mendiskusikan tentang konsep kultural yang melandasi pembangunan kawasan industri piyungan, salah satu point pentingnya adalah pembangunan kawasan industri di Indonesia kebanyakan dilandasi visi ekonomi saja, tetapi KIP unggul karena memadukan visi ekonomi dan kebudayaan.
Selain itu, Supriyanto, SE, penggerak jejaring pengrajin PT.YIP, menambahkan bahwa kawasan industri piyungan ini mengedepankan nilai-nilai budaya Yogyakarta, yang meliputi tiga nilai utama, yaitu ” Hamemayu Hayuning Bawono” yang mengedepankan visi ekologi kultural, yang kedua ” Manunggaling Kawula Gusti” yang mengutamakan sinergi antara Raja dan rakyat, dalam kegiatan ekonomi untuk mensejahterakan rakyat dan yang ketiga “Sangkang Paraning Dumadi” yang mengutamakan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Sementara itu, Prof. Dr. Djagal Wiseno Marseno, kepada media beberapa waktu lalu, menyayangkan kawasan Industri piyungan (KIP) yang kurang mendapat dukungan dan terkesan lamban. Menurut Prof Djagal bahwa salah satu tujuan Keistimewaan DIY menurut pasal 5 UUK DIY adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat, jadi keistimewaan Yogyakarta jangan hanya fokus pada pembangunan kebudayaan tetapi juga ekonomi.
Adapun pembangunan kawasan industri Piyungan ini sangat bagus, sebab memadukan keduanya yaitu “Pembangunan Ekonomi berbasis Kebudayaan”, jadi sayang kalau kurang mendapat dukungan, tutur mantan Wakil Rektor UGM ini.(Ome)
