Kasus Kekerasan Wartawan di Pamekasan Belum Diusut Polisi

  • Bagikan

PAMEKASAN –PELITANUSANTARA.COM Kasus kekerasan pada wartawan di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur tidak diusut oleh tim Reskrim Polres setempat, meski kasus ini telah dilaporkan ke aparat penegak hukum pada Oktober 2020.

Hal ini terungkap saat wartawan Pamekasan menggelar audiensi ke Mapolres Pamekasan Senin (22/3/2021). Polisi belum memeriksa korlap aksi dan berdalih tidak mengetahui warga yang melakukan kekerasan pada wartawan karena memakai masker.

Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) mendatang Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Senin (22/3/2021).

Wartawan yang menjadi korban kekerasan saat meliput kasus pembakaran kedai di Bukit Batu Bintang pada 5 Oktober 2020 itu, wartawan TV nasional bernama Fathor Rusi, yakni wartawan TV Indosiar dan SCTV yang bertugas untuk wilayah Madura.

Rosi yang juga dosen di Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Madura ini merupakan mantan Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), yakni paguyunan wartawan lokal di Kabupaten Pamekasan.

Kala itu, korban hendak mengambil gambar pembakaran dua fasilitas berupa gazebo beratap ilalang yang dibakar massa. Korban berupaya mengambil video dengan mencari posisi yang pas agar tulisan Bukit Bintang sebagai backround gambar terlihat.

Tiba-tiba, ada seorang peserta aksi berambut gondrong hendak merampas kamera dengan memegang pergelangan tangannya secara kuat dan meminta agar tidak mengambil video. Meskipun diberitahu jika korban adalah wartawan, tetapi tidak diindahkan.

Kasus pembakaran kedai bukit bintang ini oleh sekitar ribuan orang yang mengklaim sebagai kelompok anti maksiat, dan isu yang diendus kepada publik bahwa Bukit Bintang itu menjadi ajang maksiat, sehingga harus dibakar. Teriakan “Allahu Akbar” sempat mewarnai kasus pembakaran oleh kelompok yang mengaku sebagai antimaksiat ini.

  • Bagikan