Kapita Kalakinka

Kefaspelita
Download (15)

Pelitanusantara.com Kapita Kalakinka adalah seorang kapita yang berasal dari kepulauan Sanana beliau menjadi kapita pada masa Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583) pada saat itu Sultan Babullah melarang masuk Kapal Asing (Protugis) ke Maluku Utara disebabkan karena terbunuhnya ayahnya Sultan Khairun Jamil (1534-1570) oleh Sersan Antonio Pimental pada 28 Februari 1570.

Untuk mencegah infiltrasi musuh, perbatasan antara pulau Obi, Banda, dan Buru, dijagah ketat. Sebanyak lima juanga, masing-masing didayung 130 orang, yang memuat ratusan tentara (baru-baru) dipimpin seorang kapita dari kepulauan Sanana bernama Kalakinka dikerahkan untuk berpatroli selama 24 jam sehari. Kalakinka terpilih mengemban tugas tersebut, karena selain dikenal sebagai seorang pemberani, ia juga memiliki ilmu kebal dan sarat dengan berbagai ilmu hitam (black magic).

Dalam mitos di kepulauan Sanana dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan menjaga perbatasan dan mondar-mandir antara pulau Obi dan Buano, Kalakinka merasa bosan karena tidak ada kapal Protugis yang lewat. Pada suatu malam ia memanggil Saihu semua juanga dan naik ke atas juanganya. Perintah yang keluar dari mulutnya adalah tiga juanga malam itu mengikutinya, dan tidak diberitahukan kepada para Saihu tujuan pelayarannya. Setelah lewat tengah malam, ia memerintahkan semua juanga menuju Seram.

Ketika ayam mulai berkokok, tanda pagi akan segera tiba, ketiga juanga mendarat tidak jauh dari kamp Protugis di Lisabata. Pembantaian terhadap serdadu Protugis pun mulai berlangsung. Dalam waktu satu jam lebih, seluruh anggota garnisun Protugis disitu selesai dibabat. Pukul 10.00 pagi, Kalakinka dan pasukannya sudah kembali mendarat di pulau Buano, dan memulai tugasnya merondai kembali perairan Banda dan Obi.

Ketika pagi tiba dan penduduk Lisabata keluar ke jalan, mereka terperanjat melihat mayat serdadu Protugis berserakan di tengah jalan. Beberapa waktu kemudian, barulah rakyat Lisabata tahu bahwa pasukan Kalakinka mendarat disana dan melakukan pembantaian. Salahkan Kepulauan Sula sangat memuji kepahlawanan Kalakinka. Sementara orang-orang Kristen pribumi Bacan, berikut tentara Protugis dan Misionarisnya, lansung berlayar ke Lisabata (Seram) di Ambon. Mereka tidak pernah datang lagi ke Ternate. (M. Adanan Amal 2010:16-17).
[÷]