“KAMBING HITAM BENCANA SELAIN TUHAN”

Pelitanusantara.com | “TAK ada selembar daun jatuh tanpa izin Tuhan.

Ungkapan itu menyiratkan segala sesuatu terjadi atas campur tangan Tuhan. Umat beragama meyakini itu.

Pun, orang beragama percaya bencana terjadi atas kehendak Tuhan. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, tanah longsor di Sumedang, Gempa di Sulawesi barat, banjir di Kalimantan Selatan, melanda Indonesia terjadi atas kehendak-Nya.

Jika Tuhan sudah berkehendak, doa umat beragama pun tak sanggup mencegah bencana. Ketua Badan Musyawarah Betawi Rahmat HS mengatakan banjir Jakarta, 23 Februari 2020, terjadi pada Minggu atau hari libur berkat doa Gubernur saleh.
Dua hari kemudian atau Selasa, 25 Februari 2020 banjir melanda Jakarta. Doa Gubernur saleh pun tak mampu mencegah bencana banjir terjadi di hari kerja.

Meski atas Kehendak Tuhan, umat beragama tak mungkin mengatakan Dia penyebab bencana dan kemudian mempersalakan-Nya. Oleh karena itu, dalam setiap bencana, kata Jurnalis Eric Weiner, kita memerlukan orang untuk dipersalahkan selain Tuhan. Eric menyatakan itu dalam bukunya, ‘The Geografi of Bliss.’

Mencari orang untuk dipersalahkan dalam setiap bencana serupa mencari kambing hitam. Bencana menghadirkan krisis dan ketakutan. Kata Antropologi Rene Girard, pengambing hitaman (Scapegoating) menjadi mekanisme kuno untuk mengatasi krisis dan ketakutan.

Kita pun mempersalahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atas banjir yang kerap melanda Jakarta. Pula, kita mengambinghitamkan Tiongkok atas bencana nonalam, Pandemi Covid-19. Kita mempersalahkan regulator atas kecelakaan pesawat.

Presiden Jokowi mengatakan banjir Kalsel karena curah hujan tinggi. Agama mengatakan Tuhan yang menurunkan hujan. Akan tetapi, kita menyalahkan pemerintah daerah yang tidak menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengantisipasi curah hujan tinggi itu sehingga terjadi banjir. Lagi, kita mempersalahkan manusia.

Walhi Kalsel mengatakan banjir di Kalimantan Selatan bukan cuma karena cuaca ekstrem, melainkan juga lantaran rusaknya ekologi di tanah Borneo. Yang merusak ekologi siapa lagi kalau bukan manusia. Tetap manusia yang dipersalahkan.

Umat beragama paling banter mengatakan Tuhan menurunkan bencana sebagai hukuman dan peringatan buat manusia.
Bencana diturunkan ke muka bumi, kata Ebiet G Ade dalam lagunya, mungkin karena Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Manusia juga yang salah. Sekali lagi, kita memerlukan orang untuk dipersalahkan dalam setiap bencana, selain Tuhan.

Mempersalahkan manusia sebetulnya baik. Ini membuat kita tidak pasrah, tidak takluk. Bila kita menganggap bencana sepenuhnya Kehendak Tuhan, kita boleh jadi menerimanya begitu saja, tak berbuat apa-apa. Ini membuat kita memperlakukan bencana sebagai takdir.

Mempersalahkan manusia menunjukkan Kehendak Tuhan berproses melalui tangan manusia. Sampai ia menjadi benci. Kehendak Tuhan menurunkan hujan dalam curah sangat tinggi menjadi bencana dahsyat karena kita tidak merawat hutan. Kehendak Tuhan menurunkan cuaca ekstrem tidak menjadi bencana banjir andai manusia merawat hutan alias bersahabat dengan alam. Bencana terjadi, kata Ebiet G Ade lagi, mungkin karena alam enggan bersahabat dengan kita.

Memperlakukan bencana dari Tuhan sebagai sesuatu yang berproses membuat kita berbuat, berusaha, bertindak. Kita, misalnya, melakukan mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bukanlah takdir karena ia bisa dikelola dan dimitigasi tangan manusia.

Janganlah kita tinggal di kawasan yang di identifikasi rawan tanah longsor. Bikinlah bangunan tahan gempa di daerah rawan gempa. Buatlah sistem peringatan dini tsunami.
Auditlah kelaikan pesawat secara berkala. Itu semua mitigasi bencana untuk mengurangi bahkan menghindari risiko bencana.

P. Sirait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *