Pelitanusantara.com Meninggalkan gedung putih pada tahun 1981 sebagai mantan presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter dianggap sebagai presiden Amerika Serikat terburuk oleh orang-orang partai Demokrat.
Jimmy Carter pulang ke kota kelahirannya, Georgia, dan hidup berhemat.
Dia dan istrinya menjalani kehidupan hari-hari sebagai masyarakat biasa yang ramah, sederhana, dan suka berbagi makanan dengan tetangga.
Tak cukup dengan segala cemoohan, bisnis keluarga yang ia percayakan kepada seorang kerabat terlilit hutang sejuta dollar.
Meskipun terpuruk dan rapuh, Jimmy Carter berjuang untuk bangkit kembali. Ia menulis buku untuk melunasi hutang. Kemudian mendirikan organisasi Carter Center di Atlanta, yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.
Jimmy Carter juga membuka toko kerajinan kayu dan bekerja sendiri pada awalnya. Nantinya toko kerajinan ini melayani berbagai keperluan dalam gerejanya.
Jimmy Carter juga membentuk badan pemantau pemilu di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan Timor Timur pada tahun 1999.
Organisasinya rutin membantu pengobatan wabah penyakit di negara-negara miskin.
Pernah menanggung malu, reputasi Jimmy Carter akhirnya pulih.
Pada tahun 2002 dia dianugerahi Nobel Perdamaian.
Meskipun sangat sibuk dengan berbagai kegiatan kemanusiaan, Jimmy Carter dan istrinya, Rosalyn, melayani Tuhan sebagai diaken di gerejanya, Maranatha Baptist Church.
Selain sebagai diaken, dan guru Sekolah Minggu, mantan presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter juga bertugas memangkas rumput di halaman gereja setiap sekali dalam dua bulan.
Sementara mantan ibu negara Amerika Serikat, Rosalynn, membersihkan kamar mandi dan toilet gereja.
Tidak ada gengsi. Mereka dengan rendah hati memberikan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan.
Setelah kabar pelayanan Jimmy Carter dan Rosalynn tersebar banyak orang mulai membanjiri Maranatha Baptist Church.
Gereja yang pada awalnya hanya beranggotakan 80-100 orang, kini harus melayani 500-1000 orang setiap minggunya.
Banyak pengunjung gereja mengaku baru pertama kali mendengar Injil.
Ada juga yang mengaku, “Ini kali pertama saya datang ke gereja.”
Banyak juga pengunjung yang memutuskan untuk menjadi anggota tetap Maranatha Baptist Church.
Pada usia tuanya, Jimmy Carter tetap melayani kelas Sekolah Minggu. Sampai dia benar-benar tidak berdaya, dan tutup usia pada 29 Desember 2024, dalam usia 100 tahun.
Jimmy Carter memecahkan rekor sebagai mantan presiden Amerika Serikat yang mencapai usia satu abad.
Upacara pemakamannya digelar di Katedral National Washington DC pada tanggal 9 Januari 2025.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menetapkan 9 Januari 2025 sebagai hari berkabung nasional dengan memasang bendera setengah tiang.
Bahkan untuk mengenang dan menghormati seorang Jimmy Carter bursa efek New York dan Nasdaq menutup pasar sahamsaham pada hari pemakaman itu.
Dalam pidato singkatnya di acara penganugerahan Nobel, 2022, Jimmy Carter berkata, “Saya menyembah Yesus Kristus, yang oleh kami orang Kristen disebut Raja Damai. Sebagai orang Yahudi, Yesus mengajari kami melintasi batas-batas keagamaan dalam hal saling melayani dan saling mengasihi. Yesus berulang kali berusaha menjangkau dan merangkul tidak saja orang-orang Romawi yang menjajah bangsa-Nya, tapi juga bangsa-bangsa non Yahudi lainnya, bahkan orang Samaria yang direndahkan oleh orang Yahudi.”
Yesus yang mengajarinya melintasi batas-batas keagamaan dalam hal saling melayani dan saling mengasihi.
Hingga kepulangannya ke rumah Bapak, Jimmy Carter meninggalkan warisan iman dan kemanusiaan yang abadi untuk kita semua.
[÷]
