Pelitanusantara.com Sultan muda Prabu Anom adalah Sultan Banjar Kalimantan Selatan yang di angkat langsung oleh Sultan Adam Alwasiq Billah pada tahun 1855 M beliau menggantikan kakaknya yaitu Sultan Muda Abdurrahman, Beliau lahir pada tahun 1807 M dengan nama pangeran Abdullah, Beliau di asingkan oleh Belanda ke Banceuy Bandung Jawa Barat tahun 1858.
Sultan muda Praboe Anom di Nanggeleng lebih di keunal dengan nama Mama Baeran, seperti yang di ceritakan oleh keturunannya yaitu Bapa Ocen bin Warman bahwa mama Baeran di penjara oleh Belanda di Banceuy bukan karna karna melakukan pemberontan kepada Belanda. Tapi kalau di lihat dari buku W A VAN REES sejarah kesultanan Banjar versi Belanda pengasingan sultan muda prabu Anom ke Bandung sebagai politik pecah belah Belanda dan dalam rangka menguasai kesultanan Banjar dan terbukti dengan pengangkatan Sultan tandingan oleh Belanda di kota Banjarmasin dan yang di pilih adalah Sultan Tamjidillah II bin Sultan Abdurrahman putra Kaka sultan muda prabu Anom/Mama Baeran.
Sultan muda Prabu Anom di asingkan bersama ibunya yang bernama Ibu Ratu Komalasari yang jarak makamnya 1,5 meter sebelah Utara dari makam beliau.
Setelah dari Banceuy sultan muda prabu Anom berkelana mencari tempat yang cocok untuk di tinggali dan beliau pernah ke daerah Cililin, Rongga dengan bukti putra beliau ada yang menikah dengan orang Cililin dan Rongga yaitu Mama H Sulaeman ( Lurah ke 7 Desa Nanggeleng) dan akhirnya sultan muda prabu Anom menemukan tempat yang cocok untuk di tempati yaitu di kampung Babakan cikiray dekat rumah mama Idris atau sekarang rumah bunda Uun.
Dan pada waktu itu Babakan cikiray masuk dalam Desa Nanggeleng yang di pimpin oleh lurah bernama Eyang Sumadireja/Eyang meko, keturunan dari dalem Cikundul.
Sultan muda Praboe Anom lebih di keunal dengan nama Mama Baeran yang berasal dari kata Banjar dan Banjaran.
Di perkirakan Sultan muda prabu Anom dengan nama lahir Pangeran Abdullah pernah menjabat sebagai kepala Desa Nanggeleng -+ tahun 1863 dengan nama H Abdillah sebagai lurah ke tiga menggantikan Eyang Sumadireja/Eyang Meko, dan Desa Nanggeleng dalam masa kepemimpinanya ada banyak kemajuan dalam hal administrasi dan lain lain, karna beliau berpengalaman pernah menjabat sebagai sultan Banjar .
Sultan muda prabu Anom mempunyai menantu yang bernama pangeran Amin yang menjadi pahlawan dalam perang Banjar.
Setelah peristiwa penangkapan sultan muda prabu Anom/Mama Baeran terjadi pergolakan di kesultanan Banjar di karenakan pengasingan sultan muda prabu Anom ke Banceuy Bandung dan karena hal lain seperti di kuasainya tambang batubara oleh Belanda sehingga tercetuslah perang Banjar yang mengakibatkan banyak ke tidak sukaan rakyat Banjar kepada pihak Belanda karna sudah ikut campur urusan kesultanan dan mengambil hasil Alam rakyat Banjar .
Di kisahkan oleh bapak Ocen bin Warman bahwa anak sultan muda prabu Anom dua orang (laki& perempuan) pernah mencari keberadaan ayahnya dan setelah bertemu kemudian yang laki-laki kembali lagi ke Martapura dan yang perempuan ke cianjur/ Sukabumi.
Sultan muda prabu Anom/Mama Baeran memiliki istri empat, yang satu dari Martapura dan yang ke 2,3,4 dari Bandung beliau memiliki putra 25 orang dari istri ke satu dan ke empat.
Beliau meninggal tanggal 5 Desember 1885 M dan di makamkan di Desa Nanggeleng pinggir masjid Daarul Huda. Sedangkan keturunannya menyebar di sekitar desa Nanggeleng.
Dan di antara keturunanya yang pernah menjabat sebagai kepala Desa Nanggeleng adalah 1. H Sulaeman 2. Pak lurah Soleh 3. E Muharram Sulaeman Wiradinata 4. Mulus Agus Aman.
H Abdillah/ Mama Baeran/Sultan Muda Praboe Anom menjabat kepala Desa Nanggeleng tidak sampai habis masa baktinya dan di gantikan oleh pejabat kewedanaan yaitu pa Tinggi.
Dan pemakaman sultan muda prabu Anom dan ibu Ratu Komalasari di namakan dengan situs Mama Baeran.
Beliau di makamkan di kp cikiray hilir desa Nanggeleng kec cipeundeuy kab Bandung barat Jawa Barat. maps https://maps.app.goo.gl/kbVScW41hhbiJ2516
Sekian sejarah singkat sultan muda prabu Anom atau mama baeran semoga menjadi pengingat bahwa di Desa Nanggeleng ada sultan yang di asingkan dari keturunan sultan Banjar Kalimantan Selatan,
kalau dalam bahasa Sunda “kudu ingeut Kana purwadaksina”
Sekian yang bisa saya tulis semoga bermanfaat untuk generasi ke depannya, kalo ada kekurangan itu datang dari saya dan yang benar hanya dari Allah SWT.
Penulis Mahmud TA
[dikirimkan oleh seorang Sahabat Pelita]













