Jejak Agama Hindu di Nusantara ” Maha Resi Markandhya “


Tokoh Hindu Nusantara, Pelitanusantara.com | Berdasar tinjauan sejarah, sekitar tahun 500 Masehi rombongan pengungsi asal India tiba di wilayah Sumatera Utara yang kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan-kerajaan kecil seperti Kandhari, Pali, Malayu-Shriboja dan lainnya.

Antara tahun 682-686 Masehi Dapunta Hyang Shri Jayanaga melakukan penyerangan ke beberapa wilayah, dari Malayu Shriboja ke selatan dan di bagian utara wilayah Sumatera. Termasuk kerajaan Kandhari dan kerajaan Pali kemudian berhasil dikuasainya. Ini menjadikan para bangsawan dan Rsi dari kerajaan Pali dari keturunan India menyingkir ke arah timur dengan perahu hingga mendarat di Nusa Goh, Pulau Sapi. Disini mereka kemudian mendirikan kerajaan yang bermula dari sebuah desa kecil. Nama kerajaannya sama dengan sewaktu masih di Sumatra, yaitu kerajaan Pali yang beragama Budha. Lama-kelamaan menjadi kerajaan Bali dalam tahun 683 Masehi. Pernyataan pustaka ini bisa dicocokkan dengan penelitian R. Goris. Pada tahun 732 Masehi prasasti Canggal yang diketemukan di Gunung Wukir Jawa Tengah menyatakan, bahwa Sang Ratu Bumi Mataram, Shri Maharaja Sanjaya secara resmi menjadi raja Pulau Jawa tidak termasuk tanah Sunda. Walaupun sebelumnya Sanjaya adalah pewaris kerajaan Sunda dari istri pertamanya dan sekaligus pewaris kerajaan Galuh Tasikmalaya dari ayahnya yang bernama Sanna, Sena, Brata Senawa. Setelah Sanjaya berhasil mengalahkan pamannya yang bernama Purbasora yang sebelumnya Purbasora menguasai tahta Sanna dengan pemberontakan berdarah. Tahun 730 Masehi, Raja Sanjaya berhasil menaklukkan Shriwijaya, Ligor Thailand, Hujung Medini Malaysia Barat.

Dan Raja Sanjaya pula yang berhasil mengHindukan kerajaan Bali di tahun 730 Masehi. Sang Raja Sanjaya dalam pemerintahannya gemar memelopori dan membudayakan serta mengembangkan ajaran agama Hindu dalam bentuk bangunan linggayoni. Termasuk prasasti Canggal yang didirikannya. Rsi Markandhya yang merupakan Purohita atau Pendeta Kerajaan Sanjaya. pada tahun 730 Masehi tercatat pergi ke arah timur untuk mendirikan pertapaan. Beliau bergerak dari pasraman Gunung Wukir atau Demalung tempat di mana prasasti Canggal ditemukan. Berlanjut ke lereng pegunungan Hyang di Purbalingga, lalu ke lereng Gunung Rahung di tepi sungai Paralingga Banyuwangi kemudian berakhir di Gunung Agung atau Lingga Acala tempat Pura Besakih sekarang.

Dikisahkan dalam Lontar Bhwana Tatwa Maharsi Markandhya, seorang Maha Rsi yang bernama Maharsi Meru, mengambil seorang istri, berputra dua orang, yang sulung diberi nama Sang Ayati, adiknya diberi nama Sang Niyata. Sang Ayati dan Sang Niyata sangat tampan rupanya, berbudi sangat mulia dan berpikiran sangat bijaksana. Seperti yang tertulis dalam sloka Bhwana Tatwa Maharsi Markandhya, yang berbunyi :
Sang Ayati mwang Sang Niata pada pada sira apekik listu paripurna, wicaksaneng aji, wibuhing sastra utama…….”
Sang Ayati melanjutkan jejak leluhurnya menjadi seorang pertapa, beliau berputra, Sang Prana. Demikian pula adiknya, yang bernama Sang Niata, berputra Sang Mrakanda. Setelah dewasa Sang Mrakanda beristrikan Dewi Manaswini, berputra Maharsi Markandhya. Selanjutnya Maharsi Markandhya, beristrikan Dewi Dumara. menurunkan Maharsi Dewa Sirah, yang beristrikan Dewi Wipari, yang kemudian menurunkan banyak putera. Demikian dikemukakan di dalam pustaka kuno Bhwana Tatwa Maharsi Markandhya, tentang asal-usul Maharsi Markandhya. Salah seorang murid Maharsi Agastya yang bernama Sang Ila putra dari Maharsi Trenawindhu, sedang bertapa di Jawa Dwipa Mandala. Demikian pula Sang Aridewa dan Sang Anaka, melakukan tapa samadhi di Pegunungan Adi Hyang, yang sekarang disebut Pegunungan Dieng, seperti halnya Maharsi Markandhya juga bertapa di pegunungan Adi Hyang atau Dieng, di Wukir Damalung, Jawa Dwipa Mandala.

Orang-orang keturunan Austronesia telah menyebar di seluruh wilayah Bali, mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan Jro-jronya atau pemimpin-pemimpin mereka masing-masing. Kelompok-kelompok ini nantinya yang menjadi cikal bakal desa-desa di Bali, Mereka adalah Orang Bali Mula, dan kemudian mereka lebih dikenal dengan nama Pasek Bali. Ketika itu, orang-orang Bali Mula belum menganut Agama, mereka hanya menyembah leluhur yang mereka namakan Hyang. Dengan keadaan Bali yang demikian maka mulailah berdatangan Para Rsi dari luar pulau ke Bali. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Menurut Lontar Bali Tattwa, Untuk mengisi kekosongan kehidupan spiritual Pulau Bali, kemudian datanglah seorang Maha Rsi ke Bali, beliau bernama Maharsi Markandhya.

Setelah menyiapkan diri dengan para pengikutnya yang berjumlah 800 orang, yang terdiri dari orang-orang Aga, berangkatlah kemudian Maha Rsi Markandhya ke arah timur dengan tempat tujuan pertama adalah Gunung Agung. Rombongan Sang Maha Rsi turun di pantai Pabahan Bali di Buleleng, beliau beserta pengikutnya kemudian melakukan pembukaan hutan dengan menebangi kayu-kayu besar di wilayah lereng Gunung Agung atau Gunung Tolangkir, untuk lahan pertanian, dan tempat pemukiman. Akan tetapi atas kehendak Hyang Jagatnatha banyak murid-murid beliau terkena wabah penyakit aneh tanpa sebab, ada yang mangkat diterkam binatang buas seperti mranggi atau harimau, singa, dan ular, ada juga yang hilang tanpa jejak, tidak sedikit pengikut beliau yang gila. Dengan semua kejadian itu, Wong Aga pengiring Sang Maha Rsi yang awalnya berjumlah 800 orang, hanya tersisa hidup sekitar 200 orang saja, yang kemudian mendiami wilayah-wilayah di sekitar perbukitan yang membentang dari selatan ke utara di Bali Tengah, yang dikenal dengan nama Munduk Taro.

Melihat keadaan yang demikian memprihatinkan, Sang Maharsi Markandhya memutuskan untuk kembali ke Pesraman beliau di Gunung Raung, di Pesraman beliau di Gunung Raung, kembali beliau beryoga untuk mengetahui bencana yang sudah menimpa murid-murid beliau di Gunung Agung, sekaligus untuk menghimpun kekuatan baru untuk kembali ke Gunung Agung. Maha Rsi Markandhya melakukan tapa, brata, yoga dan semadhi untuk memohon bimbingan dari Hyang Jagatnatha. Dari tapa semadhi itulah diketahui bahwa pada waktu pertama merabas Hutan di lereng Gunung Tohlangkir beliau tidak menghaturkan upacara dan tidak menanam Panca Datu.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hyang Jagatnatha, Maharsi Markandhya kembali datang ke Bali tepatnya ke Gunung Tohlangkir. Kali ini beliau hanya mengajak 400 orang muridnya. Pengiring yang berjumlah 400 orang ini semuanya membawa sekta atau paksa agama masing-masing, yang dianut oleh mereka sejak dari tanah Hindu, Bhatarawarsa – India. Jenisnya ada enam sekta paksa, seperti yang dikemukakan dalam Lontar Sadagama di Bali. Masing-masing rinciannya adalah: Sambhu Paksa, Brahma Paksa, Indra Paksa, Kala Paksa, Bayu Paksa dan Wisnu Paksa. Sebenarnya dalam penjelasan seperti yang dikemukakan dalam Lontar Markandhya Purana itu, hanya ada perbedaan pelaksanaan tata upacara saja diantara keenam Paksa diatas, tetapi filsafat dasarnya tidak ada yang berbeda.

Demikianlah akhirnya semua pengikut beliau selamat tanpa kurang satu apapun. Oleh karena itu, Maharsi Markandhya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki, kemudian menjadi nama Basukian dan dalam perkembangan selanjutnya orang-orang menyebut tempat ini dengan nama Basuki yang artinya keselamatan. Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau menaman panca datu akhirnya di dirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Besakih. Maharsi Markandhya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama Gunung Agung. Maharsi Markandhya akhirnya menamakan pulau ini dengan nama Wali yang berarti persembahan atau korban suci dan dikemudian hari nama Wali lebih dikenal dengan nama Bali, yang berarti dimana semua akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna atau korban suci.

Lokasi pura Besakih merupakan tempat yajnya dimana Rsi Markandhya menanam kendi yang berisi Pancadatu, lima jenis logam mulia. Seperti perunggu, emas, perak, tembaga, dan besi. Tujuan penanaman Panca Datu adalah permohonan keselamatan untuk Sang Maha Rsi dan para pengikutnya. Lama-kelamaan komplek pura Basukian dikenal dengan nama Pura Besakih.

Setelah beberapa tahun lamanya beliau dan para pengikutnya melakukan perabasan hutan di lereng Gunung Agung akhirnya beliau melanjutkan perabasan hutan menuju arah barat, sampai di suatu daerah datar dan luas, sekaligus hutan yang sangat lebat. Disanalah beliau dan murid-muridnya kembali merabas hutan.

Wilayah yang datar dan luas itu kemudian dinamakan Puwakan, dari kata Puakan berubah menjadi Kasuwakan, lalu menjadi Suwakan dan akhirnya menjadi Subak. Di sebuah Sloka dalam Prasasti Pandak Badung – Tabanan, dari hasil penelitian Persubakan di Bali tahun 1975, diterangkan bahwa Subak berasal dari kata Kaswakan di daerah Tabanan dan Badung kata Subak berasal dari kata Seuwak yang artinya Hal yang di bagi dengan adil. Di Puwakan beliau bersama para pengikutnya menanam berbagai jenis pangan dan semuanya bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat ini di namakan Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini dapat terjadi karena kehendak Hyang Jagatnatha lewat perantara Sang Maha Rsi. Kehendak bahasa Balinya kahyun, kayu atau taru, kemudian dari kata taru tempat ini dikenal dengan nama Taro dikemudian hari. Di wilayah ini Maharsi Markandhya kemudian mendirikan pura sebagai kenangan terhadap pasraman beliau di Gunung Raung. Pura ini dinamakan pula Pura Gunung Raung.,”

Setelah berhasil merabas hutan dan membuka lahan baru. maka tanah lapang itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta sebagai pekarangan rumah. Tempat awal melakukan pembagian itu kelak menjadi satu desa bernama Puwakan. Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja.
Berikutnya ada pula Pura Pucak Cabang Dehet. Tempat suci ini berlokasi di Desa Puwakan, Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Pura Pucak Cabang Dahat dibangun sebagai tanda pertama kali Maha Rsi beserta pengikutnya melakukan perabasan hutan setelah menggelar yajnya di kaki Gunung Agung.

Di kawasan Ubud ada dua tempat suci sebagai pertanda kedatangan Rsi Markandhya, yakni Pura Pucak Payogan di Desa Payogan dan Pura Gunung Lebah di Campuhan, Ubud, Kabupaten Gianyar. Dalam lontar Bhuwana Tattwa Rsi Markandhya dijabarkan, antara lain :
Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi Markandhya kemudian bersemadi. Dalam semadinya beliau menemukan satu titik sinar terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada lokasi dimaksud Rsi Markandhya melakukan yoga semadi.

Di tempat yang bersinar dalam yoganya itulah kemudian beliau dan para pengikutnya membangun pura yang diberi nama Pura Pucak Payogan.
Menurut lontar Widhi Sastra Roga Sanggara Bhumi milik Giriya Giri Jati Soetha

Sentana, Bukit Bangli, yang berparahyangan di Pura Pucak Payogan adalah Ida Bhatara Luhuring Akasa atau Sang Dewa Rsi.

Arah tenggara Pura Pucak Payogan, tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandhya mendirikan pura yang diberi nama Pura Gunung Lebah, Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa mala.
Rsi Markandhya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah perbukitan di sebelah barat, Karena saat itu belum ada jalan, beliau dan para pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Aga menyusuri aliran sungai untuk bermeditasi.

Di aliran sungai dimana Sang Rsi sering bersuci dan menyatakan bahwa air sungai tersebut memiliki kekuatan penyembuhan. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Wos, kependekan dan kata Wosada, bahasa Sanskerta yang beranti Sehat. Dalam perkembangannya, kata Wosada kemudian di adaptasi menjadi kata Ubad, dalam bahasa Bali atau Ubud yang berarti obat. Di pertemuan kedua aliran sungai itu Maha Rsi Markandhya bersama pengikutnya kemudian mendirikan Pura Gunung Lebah sebagai tempat pemujaan.

Menurut ulasan beberapa pinisepuh Ubud, Cikal bakal nama Ubud berasal dari kata U, yang berarti ulah berkonotasi dengan kata Sila, Solah atau Prawerti. Kata Bud, Bu mempunyai arti Bhudi, Dha, Dharma, apabila artinya dijabarkan menjadi : pandai membawa diri mampu berprilaku sesuai dengan tingkatan tata lungguh. Hal itu sebagai tonggak dasar menegakkan Dharma di dunia sehingga bisa mendapatkan Bhudi, Satya, Sadhu, Dharma, terpakai kemudian sebagai obat, Ubad kemelaratan dunia atau Papa Neraka.

Ketika melanjutkan perjalanan ke wilayah Parhyangan atau Payangan, sesuai yang tersurat di buku Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini, karangan Gde Sara Sastra, bahwa Maharsi Markandhya juga membangun tempat suci yang diberi nama Pura Murwa atau Purwa Bhumi. Yang bisa diartikan bebas sebagai Parhyangan yang sudah dibangun sejak dahulu kala. Nama daerah tersebut dikenal dengan nama Pangaji yang arti bebasnya: tempat melakukan atau mebicarakan segala jenis ilmu pengetahuan, agama, ekonomi, pertanian, dan ilmu-ilmu sosial lainya atau Pangajian.

Sedangkan asal kata Payangan dipercaya berasal dari kata Parhyangan yang berarti tempat tinggal para leluhur (Hyang), jadi kalau di jabarkan semua kata diatas, Parhyangan adalah tempat berstana nya para hyang atau leluhur sebagai tempat yang utama untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan atau pangajian.

Setelah dirasa semua ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh Sang Maha Rsi kepada para pengikutnya dimengerti dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan para pengikut Sang Maha Rsi mendapatkan kebahagiaan hidup. Sebagai tanda terima kasih kepada Hyang Jagatnatha maka dibangunlah sepelebahan pura di depan Pura Murwa Bhumi, diberi nama Pura Sukamrih, yang berasal dari dua kata, Suka dan Mrih, Suka artinya kebahagiaan, Mrih artinya Mendapatkan. Jadi Pura Sukamrih dibangun setelah dirasa para pengikut beliau mendapatkan semua kebahagiaan yang dicita-citakan dari dahulu.

Selain peningalan tua berupa palinggih, di Pengaji, Payangan sampai saat ini masih berkembang struktur masyarakat Bali Aga terutama menyangkut keagamaan, yang dinamakan Ulu Apad atau delapan tingkatan, mulai dari Kubayan, Kebau, Singgukan, Penyarikan, Pengalian, Pemalungan, Pengebat Daun, dan Pengarah. Warga yang tercatat dalam struktur organisasi tradisional ini akan menunaikan tugas sesuai fungsi dan jabatan yang dipegang.

Ajaran dari Maha Rsi Markandhya dilanjutkan oleh para pengikut beliau yang tersebar di daerah-daerah yang pernah beliau singgahi, juga dengan membangun berbagai pura sederhana sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai wujud atau Manifestasi.

Orang-orang Aga, murid-murid maha rsi markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau, mereka membaur dengan orang-orang Bali mula, bertani dan bercocok tanam dengan cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh Maharsi Markanadeya. Dengan cara demikian terjadilah pembauran orang-orang Bali mula dan orang-orang Aga, kemudian dari pembauran ini mereka dikenal dengan nama Bali Aga yang berarti pembauran penduduk bali mula dengan orang-orang aga, murid Maharsi Markandeya, dengan adanya hal ini, maka Hindu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali mula ketika itu. Sebagai rohaniawan (pandita) orang-orang Bali Aga dimana Maharsi Markandeya menjadi pendirinya, maka orang-orang Bali Aga dikenal dengan nama Warga Bhujangga Waisnava.

Dalam jaman kerajaan Bali, terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara lain Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M, sebagai pengganti Mpu Kuturan. Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini, bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi : “Kalau ada rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman. Dan apa bila terjadi kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur, Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, bagaikan Bima dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. Oleh karena sang guru Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan dapat melenyapkan hukuman”.

Kemudian pada masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito kerajaan adalah Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. Lalu Mpu Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, kemudian Mpu Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115–1119 M, kemudian Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. Untuk raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong di Bali. Saat itu yang menjadi purohito adalah dari griya Takmung dimana beliau melakukan kesalahan selaku acharya kerajaan yang telah mengawini Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain adalah putri Dalem sendiri selaku sisyanya. Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan.

Semenjak kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava. Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga brahmana. Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih terlihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthana Bhatara Sakti Bhujangga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada pelinggih itu. Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha, tirtha apa saja, terutama tirta pengentas adalah melalui pelinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak pernah/berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siva. Selain itu, para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari daging ketika diadakan pujawali dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah.

Warga Bhujangga Waisnava, keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali, pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah tenggara pedharman Dalem. Demikian juga pura-pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat lain di Bali.

Demikianlah Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. Sedangkan orang-orang Aga beserta keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang Bali Aga. (berbagai sumber / Pelitanusantara.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *