Jangan Berdusta

...”Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.”…Ams 12:22

Pelitanusantara.com | Untuk menjaga setiap perkataan yang di ucapkan sungguh menjadi perhatian yang serius bagi setiap orang percaya sebab sangat indentik dengan kepribadiannya dimana setiap tindakan yang dilakukan sama seperti perkataannya dan ini wujud dari kesetiaan…mereka yang demikian sangat membenci pada *DUSTA* jangankan menjadi kekejian bagi Tuhan tetapi sesungguhnya justru dibenci juga oleh sesama. ingat mereka yang berkata “DUSTA” dianggap menjijikan dimata Tuhan.

Kita yang benar dalam perkataannya, pasti semua tindakan adalah yang dikatakan berkenan kepada-Nya, kita itu adalah memiliki kepribadian yang tulus dan selalu spontan dalam perkataan yang jujur sehingga Tuhan begitu sangat bergembira dengan mereka ini yang disebut sebagai pribadi yang tidak pernah merancangkan kejahatan dalam hatinya terhadap sesama…mereka ini adalah yang selalu berusaha berdamai dengan setiap orang sebagaimana didalam Matius 5:9…predikatnya adalah anak-anak Allah…

jikalau kita bandingkan didalam Amsal 3:5 dan 6… itu sungguh jelas dikatakan “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri, Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”…ingat bahwa kehidupan hanya ada di jalan kebenaran termasuk setiap perkataan pasti menuju pada kehidupan yang berkenan kepada-Nya…Bagaimana dengan setiap kita yang menyebut diri sebagai pemercaya…barangsiapa mempunyai telinga hendaklah ia mendengar…ingat bahwa DIA pemilik hidup kita.*jagalah perkataan, karena perkataan itu penting*…Tuhan Yesus memberkati.

Sering kali kita tidak mau mendengarkan nasihat yang baik. Jika nasihat itu benar, mengapa kita tidak siap membuka telinga? Ketika kita hanya mau mengikuti jalan hidup tanpa mau melibatkan Tuhan, di situlah kita mengalami kejatuhan. Pengamsal mengajak kita mengambil sikap seperti yang tertulis dalam Maz. 100:3, “Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” Sudahkah kita mengakui Dia sebagai Pencipta, Gembala, dan Pemilik hidup kita sepenuhnya? Jika ya, maka bagaimana kita harus hidup…Tuhan Yesus memberkati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *