Insan Mulia, Tempaan Ramadan

Kefaspelita
1743343186

Pelitanusantara.com Ramadan 1446 H telah berakhir, dan tak ada yang mampu menahannya agar bertahan lebih lama. Berada di penghujung bulan mulia ini adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri, kesempatan untuk memperbaiki diri, meraih keberkahan, dan mencapai derajat ketakwaan yang sempurna.

Selama 30 hari, kita telah menjalani madrasah Ramadan, tempat di mana kita ditempa menjadi insan yang lebih sabar, lebih peduli, lebih taat, dan lebih banyak berbuat kebaikan. Berbagai amal saleh kita laksanakan, terutama ibadah puasa sebagai amalan utama. Selama sebulan penuh, kita dididik untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih taat kepada Allah SWT, serta membentuk kesalehan pribadi dan sosial.

Setiap Muslim mendambakan keberhasilan dalam mengenyam pendidikan di universitas Ramadan dan meraih predikat takwa sebagaimana yang dijanjikan Allah. Kini, setelah Ramadan berlalu, harapannya kita telah menuntaskan program dan target yang telah dirancang sejak awal.

Perpisahan dengan bulan penuh berkah ini seharusnya diiringi dengan penghormatan yang layak, yakni dengan menjaga kualitas ibadah hingga akhir, serta setelahnya tetap menjalankan amal saleh, berbuat baik kepada sesama, dan memperbanyak istighfar serta doa.

Lebih dari itu, kita harus memiliki tekad kuat untuk tetap istiqamah dalam menjalankan amal saleh pasca-Ramadan. Hari-hari indah bersama Al-Qur’an, kebiasaan berbuat baik, kedekatan dengan masjid, dan akhlak yang terjaga tidak boleh pudar. Semua energi positif dan ketaatan yang telah terbentuk selama Ramadan hendaknya tetap terpelihara di luar bulan suci ini.

Ramadan telah membuktikan bahwa kita mampu menahan hawa nafsu, mengendalikan diri dari sifat serakah, menahan lapar, serta menjaga anggota tubuh dari perbuatan yang diharamkan seperti fitnah, adu domba lainnya. Kita juga berhasil menghidupkan amalan sunah seperti salat malam, dhuha, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Setelah ditempa oleh madrasah Ramadan, sejatinya hati kita telah dibersihkan dari berbagai penyakitnya. Kita semakin terbiasa dalam ketaatan dan kebaikan, serta memiliki keimanan yang lebih kokoh.

Kini, saat Ramadan benar-benar pergi, gema takbir mulai menggema di langit. Ramadan berlalu meninggalkan kita dengan perasaan campur aduk: sedih, cemas, sekaligus bahagia. Mungkin Ramadan akan kembali tahun depan, tetapi belum tentu kita diberi kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Bisa jadi, ini adalah Ramadan terakhir kita.

Maka, kita berdoa agar Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mengizinkan kita kembali merasakan keberkahan Ramadan yang akan datang dan kita menjadi insan yang sukses ditempa Ramadan.

Setiap perpisahan menyisakan kesedihan, terlebih perpisahan dengan bulan yang penuh ampunan dan pelipatgandaan pahala. Kita pun cemas dan bertanya-tanya: apakah amalan kita selama Ramadan diterima? Apakah kita telah mendapatkan ampunan Allah? Semoga Allah menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta meninggikan derajat kita di sisi-Nya.

Namun, kesedihan tak boleh berlarut. Kini saatnya kita berbahagia karena telah menyelesaikan madrasah Ramadan dan semoga menjadi insan muttaqin. Kita telah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, melewati berbagai ujian, cobaan, dan godaan, hingga akhirnya kembali ke fitrah.

Kini saatnya merayakan kemenangan. Idul Fitri adalah momen untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT dengan takbir, tahmid, dan tahlil, bukan dengan petasan yang mengganggu atau pesta kemaksiatan. Hendaknya kita tetap menghiasi malam Idul Fitri dengan qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan selawat.

Ramadan telah pergi, tetapi tugas kita belum selesai. Kini saatnya menjaga kesucian diri dan terus menjadi hamba yang taat, di dalam maupun di luar Ramadan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam kebaikan. []

Muhammad Nasril, Lc. MA (ASN Kemenag Aceh Besar & Mahasiswa S3 Hukum Islam UIN Jakarta – Awardee BIB Kemenag-LPDP)