Jakarta, pelitanusantara.com. Buku capaian Indonesia 2021 dengan judul Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh diterbitkan. Buku ini memaparkan capaian kinerja pemerintah setelah hampir dua tahun sudah, Indonesia digempur virus Corona.
Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, selaku Kepala Staf Kepresidenan RI, pada bagian awal buku menjelaskan:
Hampir dua tahun lewat sejak pandemi COVID-19 menerpa kita. Ada banyak cerita kesedihan, ada penderitaan silih berganti. Tapi alih-alih mengalahkan, seluruh kesulitan itu justru memberdayakan, menguji ketangguhan, membuat kita tumbuh kembali setelah menembus titik nadir.
Sejarah mengajarkan, bangsa besar tidak surut langkah. Seluruh pengalaman pahit adalah obat yang mesti ditelan demi peradaban yang lebih baik, demi bangsa yang bangkit dengan jaya. Laporan tahunan ini adalah penanda kebangkitan itu. Lewat berbagai narasi, gambar, dan data, kita semua -–termasuk generasi mendatang– dapat melihat kerja mengatasi gempuran pandemi secara kreatif dan inovatif. Sekuat tenaga kita akan terus bergerak meraih cita-cita kemajuan, keadilan dan kesejahteraan Indonesia.
Sebagai nahkoda, Presiden Joko Widodo memberi arahan jelas dan tegas untuk bekal menempuh krisis. Yaitu “gas dan rem” serta keberanian mengambil risiko. Arahan ini patut disambut dengan terima kasih dan syukur serta wajib dilaksanakan karena menjadi dasar semua kebijakan yang agile. Pedal rem ditekan ketika positivity rate melejit. Pedal gas dioptimalkan tatkala situasi telah memungkinkan.
Betapa prinsip sederhana ini tepat terbukti. Dan kian meyakini kita bahwa bangsa ini mampu menghadapi tantangan ke depan. Dari pandemi menuju endemi.
Langkah kita hingga hari ini, tak lepas dari peran semua pihak. Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam setiap kebijakan, tenaga kesehatan di garda terdepan, kesigapan TNI/Polri, akademisi yang turun gunung, jaringan luas organisasi kemasyarakatan, serta inovasi sosial lembaga swadaya masyarakat. Semua mengambil peran dalam orkestrasi besar yang harmonis, yang penuh optimisme akan tanah air Indonesia tangguh, yang terus bertumbuh dengan merdeka dan berdaulat. Semoga Tuhan senantiasa menyertai bangsa kita. Jakarta, 20 Oktober 2021.
Cuplikan Pidato Presiden RI Joko Widodo pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Dalam Rangka HUT Ke-76 Proklamasi Kemerdekaan RI. 16 Agustus 2021.
Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, hanya bisa dicapai jika kita semua bahu-membahu dan saling bergandeng tangan dalam satu tujuan. Kita harus tangguh dalam menghadapi pandemi dan berbagai ujian yang akan kita hadapi dan kita harus terus tumbuh dalam menggapai cita-cita bangsa.
Tangguh untuk Indonesia
Tak seperti perputaran musim-musim, pandemi COVID-19 memilih waktunya sendiri: dia bertahan setelah hampir dua tahun menerpa Indonesia.
Kita tak dapat memastikan kapan dia angkat kaki dan tidak kembali. Maka cara terbaik menghadapi “musim pandemi” adalah mengubah cara pandang: kita perlu bersiap untuk hidup bersama COVID-19 dalam tempo lebih panjang, dalam masa yang tidak pasti. Tetap waspada, tak boleh abai pada protokol kesehatan. Dan, terus berlatih kesabaran.
Kesabaran. Karena ketangguhan hanya dipahat di dalam hati yang sabar, tanpa menyerah, melenturkan gerak kita menggapai endemi dari zona pandemi. Pada titik ini, menjadi tangguh bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, kewajiban. Obligation.
Dia menjadi semacam “patriotisme baru” yang dilahirkan di tengah gemuruh pagebluk. Keseimbangan gas dan rem dalam periode transisi akan baik terjaga bila kita setia bertangguh. Spirit ini harus diwujudkan dalam aksi nyata, dalam mitigasi serta adaptasi pada berbagai situasi krusial.
Mitigasi berbasis data, teknologi, dan ilmu pengetahuan memudahkan kita memetakan soal, mempercepat keputusan bijak kapan saat menekan pedal rem dan gas. Lebih-lebih, manakala situasi darurat datang kembali: langka obat, darurat oksigen, minim fasilitas, dan sulit mengakses layanan kesehatan.
Panduan yang sama mutlak kita perlukan untuk bergerak bersama dalam kerja vaksinasi, testing, treatment dan tracing. Di atas fondasi ini, kita merawat spirit ketaatan pada protokol kesehatan, pembatasan mobilitas di semua level, serta menguji konsolidasi kekuatan negara dalam menyelamatkan rakyat.
Dengan ketangguhan, kita dapat menyuburkan lahan bagi tumbuh-kembang dunia usaha, serta segala adaptasinya di tengah aneka perubahan.
Ini memang bukan jalan mudah. Tapi kita telah teruji di arena tersulit berkali-kali. Dan, ke luar dari badai dengan kepala tegak. Ya, kita bisa. Karena di jalan ketanggguhan, kita akan selalu menemukan harapan untuk bertumbuh bagi Indonesia.
Kunci Memenangi Pandemi
Penanganan pandemi COVID-19 memerlukan kecepatan, ketepatan, dan akurasi data. Berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, kunci utama memenangi pandemi adalah sinergi dan konsolidasi di seluruh negeri. Solidaritas antarwarga menjadi roh yang menghidupkan segenap upaya penyelamatan.
Di Bawah Satu Komando
Dari puncak garis komando, Presiden Jokowi sebagai Panglima Tertinggi memimpin pertempuran panjang melawan pandemi COVID-19.
Dimulai dari perintah evakuasi WNI di Wuhan pada awal 2020 sampai persiapan menuju endemi di akhir 2021. Sang Panglima menekankan pentingnya kepemimpinan lapangan, kebijakan strategis, konsolidasi kerja tim, serta urgensi turun lapangan.
Maka Presiden turun langsung mengecek pergerakan vaksinasi, ketersediaan obat, ruang perawatan, oksigen, distribusi sembako, serta semua prioritas dalam satu komando.
Perlu konsistensi tujuan dan arah kebijakan. Tapi strategi dan manajemen harus dinamis seturut tantangan. Konsolidasi organ Pemerintah Pusat dan Daerah adalah niscaya.
Solusi Endemi
Ledakan pandemi mulai terkendali. Tapi bahaya belum tuntas. Tutup semua celah kelengahan dan belajar pada serangan gelombang kedua varian Delta. Disiplin protokol kesehatan serta vaksinasi merata adalah solusi jitu menuju endemi.
Betul bahwa sejauh ini, Indonesia masih tergantung pada suplai luar negeri dalam pengadaan vaksin. Bukan berarti kita tanpa inisiatif serius. Vaksin Merah Putih adalah salah satu upaya kita untuk terus tangguh dan tumbuh dalam transformasi kesehatan nasional.
Mikrokan Bahaya Makro
Karakter virus COVID-19 amatlah dinamis. Selalu berubah dan bermutasi. Yang tak akan berubah adalah elemen bahaya. Transmisi virus sejatinya bergantung pada mobilitas. Maka penanganan perlu dikawal hingga level mikro. Jadikan masyarakat basis RT dan RW sebagai ujung tombak. Hasilnya, efektif menekan laju penularan. Fungsi pelacakan, pemeriksaan, isolasi, terelaborasi secara substantif. Manfaatkan kearifan lokal untuk membangun kesadaran seluruh masyarakat.
2 Maret 2020
• Kasus Positif Pertama- COVID-19 di Indonesia
• Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
26 Januari 2021
• Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Daerah Jawa-Bali
12 Oktober 2020
• PSBB Transisi
9 Februari 2021
• PPKM Mikro
3 Juli 2021
• PPKM Darurat Jawa Bali
26 Juli 2021
• PPKM Level 1-4 hingga Sekarang
Tak Putus Memutus Rantai
Kerja memutus rantai penularan COVID-19 tak boleh berhenti. Membudayakan protokol kesehatan mesti menjadi bagian inheren disiplin pribadi maupun masyarakat.
Risiko penularan selalu muncul tiap kali protokol kesehatan melonggar. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan (3M) serta Testing, Tracing, Treatment (3T) adalah kunci. Digdaya memadamkan pandemi, kunci ini dapat menghemat ratusan triliun rupiah keuangan negara.
Kisah Baik COVID-19
Dari berbagai belahan tanah air, mengalirlah cerita ketangguhan daerah menangani pandemi. Ada Tasikmalaya, Jawa Barat; Nunukan, Kalimantan Utara; Blitar, Jawa Timur; Kudus, di Jawa Tengah.
Kota-kota ini mengirim kisah dengan pesan yang sama. COVID-19 bukan urusan Pemerintah belaka, bukan monopoli garda kesehatan, tapi menjadi tanggungjawab kolektif. Warga desa, penduduk kota, kaum agamawan, pengusaha, mahasiswa, media, Satpol PP, TNI, Polri, perlu bergerak bersama.
Contoh sederhana dapat kita petik dari Kudus. Wilayah ini perlu enam minggu meredam laju COVID-19 yang mengganas di 84 desa pada pekan kedua Juni 2021, sampai menjadi perhatian Presiden. Kerja keras bupati, camat, lurah, hingga pengurus RT membuat banyak desa lolos dari zona bahaya di pekan keempat Juni. Oktober 2021, Kudus masuk daerah dengan risiko rendah. Ini salah satu cerita dari latar Corona yang patut dikenang.
Jibaku Vaksin
Negara mengerahkan segenap daya demi mengamankan pasokan vaksinasi. Kebutuhannya besar dan mendesak, kuotanya mesti merata di seluruh tanah air. Perburuan vaksin dari luar negeri dilakukan bersama inisiatif produksi di dalam negeri. Salah satunya, vaksin Merah Putih. Diplomasi pun digelar lewat jalur bilateral dan multilateral. Indonesia terus memperjuangkan kesetaraan akses ini seluruh bangsa. Melawan COVID-19 mustahil tanpa keadilan akses vaksin.
Mendekat ke Akar Rumput
Rindu vaksin menjangkiti seluruh negeri. Tantangannya, sebaran luas sering tak seimbang dengan stok. Masih ada distribusi meleset sasaran. Waktu menjadi prioritas penyelamatan nyawa.
Mendekatkan vaksin ke akar rumput dan ke seluruh negeri bukan tanpa kesulitan. Kondisi geografis, birokrasi gemuk, terbatasnya vaksinator, sekadar menyebut contoh. Tapi solusi tak boleh putus.
Urusan geografis selesai dengan moda transportasi dan partisipasi warga. Birokrasi rumit dipangkas. Opsi vaksinator dipecahkan lewat pelibatan aktor, bidan, TNI, Polri, kampus dan relawan.
Akurasi vs Infodemi
Fenomena “infodemi” alias kabar palsu merajalela di berbagai platform digital, menjalari di jaringan pribadi. Salah info ini menerbitkan kepanikan, menganggu penanganan pandemi, bahkan memicu kematian. WHO berseru kepada dunia: infodemi sama bahayanya dengan virus Corona. Perlu kolaborasi seluruh elemen masyarakat, platform digital, serta media untuk membendung infodemi. Biasakan cek fakta. Matikan konten palsu dengan akurasi data.
Belajar dari Delta
Serangan dahsyat varian Delta pada tengah 2021 memberi pelajaran berharga. Rendahnya vaksinasi, kendornya protokol kesehatan, lemahnya penegakkan hukum harus dibayar mahal.
Penularan meledak, pasien melonjak, kurva kematian membubung. Segenap daya pun dikerahkan. Wisma Atlet menjadi lokasi rumah sakit darurat dan isolasi terpusat. Isolasi mandiri masuk daftar wajib. Telemedicine, siaga Puskesmas, paket bantuan obat diluaskan. Krisis mereda, tapi kita tetap waspada.
Sigap Obat, Siaga Oksigen
Serangan maut varian Delta membikin rumah sakit penuh, obat langka, oksigen menipis, harga melejit. Pemerintah bersicepat mencari solusi. Para penimbun dilarang menangguk untung. Harga Eceran Tertinggi (HET) obat ditetapkan. Aturanaturan dilempangkan.
Demi stok oksigen, Pemerintah membuka keran impor konsentrator dan menerima bantuan dari negara sahabat. Di dalam negeri, konversi oksigen industri ke oksigen medis diterapkan.
Berlipat Saat Darurat
Pandemi menuntut konsolidasi seluruh kekuatan negara demi menyelamatkan rakyat. Satpol PP, TNI, Polri, bidan, para mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilibatkan untuk mempercepat penanganan korban COVID-19. Semua berpadu dalam mendisiplinkan protokol kesehatan, vaksinasi, penyiapan lokasi. Dukungan, kerja sama, sinergi, kerelaan berbagi beban antarlembaga negara diperkuat guna merespons krisis pandemi.
Maka Kampus Pun Membuka Gerbang
Pemerintah memerlukan uluran bantuan semua pihak dalam mengatasi pandemi. Kampus-kampus pun bersicepat membuka gerbang. Program Kuliah Kerja Nyata Tematik menjadi jalan memaksimalkan peran dan kontribusi mahasiswa. Mereka terjun langsung, bergerak dalam kerja nyata membantu negara menghalau Corona. Wujud aksi dan kontribusi mahasiswa, tergantung wilayah dan situasi.
Kiat Memutus Cepat
Orang Indonesia dikenal tangguh dan panjang akal dalam kesulitan. Termasuk membuat inovasi solutif masalah kesehatan, kemanusiaan, kematian. Pemerintah mengapresiasi inisiatif personal, kelompok, lembaga terkait penemuan inovasi. Banyak temuan itu
membantu penanganan infeksi Corona.
Antara lain, robot disinfektan, ventilator jinjing, alat pelindung diri tenaga medis, alat tes Non-PCR COVID, PCR Test Kit. Juga, aplikasi kecerdasan buatan, Mobile Laboratorium Biosafety Level 2 (BSL 2). Alat bantu pernafasan telah diproduksi secara massal. Aplikasi konsultasi dokter serta aplikasi penyedia obat pun tersedia.
Mandiri Obat dan Alat Kesehatan
Salah satu hikmah penting pandemi, Indonesia perlu memperkuat kemandirian industri obat dan alat kesehatan.
Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan menjadi pegangan. Indonesia berhasil mengurangi ketergantung impor bahan baku obat. Dan, mampu memproduksi 358 jenis alat kesehatan pandemi.
Antara lain, oksimeter, nebulizer, elektrokardiogram. Juga, ventilator, High Flow Nasal Cannula (HFNC), Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Rapid Test Antigen, Rapid Test Antibody.
Selamatkan Generasi Masa Depan
Pemerintah membuka Pembelajaran Tatap Muka (PTM) setelah setahun lebih menerapkan sekolah daring. Pelaksanaannya terbatas, syaratnya ketat. Isi ruang kelas maksimal 50%, siswa sudah divaksin, harus ada izin orang tua. Pembatasan ini untuk mencegah sekolah
menjadi klaster baru COVID-19.
Tujuan PTM adalah menekan learning loss anak-anak. Resiko ini sudah diprediksi sejak penutupan sekolah di seluruh dunia menyusul badai pandemi.
Siswa di wilayah pedesaan yang sulit mengakses internet–serta minim infrastruktur– lebih rentan terpapar learning loss. Kolaborasi optimal sekolah, orang tua dan siswa akan menyelamatkan masa depan satu generasi.
Saling Berbagi Saling Peduli
Pandemi ternyata meluaskan jalan berbagi kasih. Derita sesama adalah derita untuk semua. Penyelesaian bersama menjadi satu-satunya cara. Semangat berbagi, saling peduli terpancar dengan indah dalam kisah Sambatan Jogja atau Sonjo. Jogo Tonggo dan Rereongan. Roa Jaga Roa. COVID Ranger. Hadir pula Puspa atau Praktek Puskesmas terpadu di Jawa Barat di mana 500 tenaga kesehatan bergerak melacak kasus.
Kaum saleh mendaraskan doa, ormas keagamaan saling merapat dalam ikhtiar. Mulai dari urusan medis, pembatasan kegiatan masyarakat, pembatasan kegiatan peribadatan hingga pemulihan ekonomi umat. Semua berpacu merawat kemaslahatan umat.
Strategi Menghadang Resesi
Efek domino pandemi adalah krisis multidimensi. Mencegah resesi, Pemerintah mendirikan Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN.
Cakupannya meliputi aspek kesehatan, perlindungan sosial, program prioritas, UMKM dan korporasi serta insentif usaha.
Perlindungan sosial mengatur program keluarga harapan, kartu sembako, bansos tunai, kartu prakerja, diskon listrik, subsidi kuota dan bantuan langsung tunai desa. Insentif pajak turut meringankan beban masyarakat. Ada insentif pajak penghasilan, pajak Pemerintah, angsuran, Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Tersedia pula PPnBM 0% untuk mobil di bawah 1500 cc. Dan, ada insentif PPN bagi sektor perumahan.
Surplus Neraca Dagang
Neraca dagang Indonesia menunjukkan arah positif selama masa pandemi. Periode Januari – Agustus 2021 mencatat surplus sebesar USD 19,17 miliar (naik 75%) dari periode yang sama sebelumnya. Pendorong utama pemulihan kinerja ekspor adalah apresiasi harga
komoditas. Itu yang terjadi pada harga emas, batubara, dan nikel di atas rata-rata (commodity supercycle).
Bangkit dari Mati Suri
Sektor pariwisata dan industri kreatif nyaris mati suri selama pandemi. Wisatawan mancanegara turun drastis. Tahun 2020, hanya empat juta turis asing masuk Indonesia. Ini setara 25% jumlah wisatawan pada 2019. Okupansi hotel melorot. Sekitar 409 ribu tenaga kerja sektor wisata putus kerja. Upaya tanggap darurat, pemulihan, normalisasi, disegerakan. Penerapan protokol pariwisata berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) menjadi salah satu solusi.
Kendalikan Kendala Corona
Menghadang pertumbuhan, Corona tak boleh menghambat reformasi struktural ekonomi Indonesia. Undang-Undang (UU) Cipta Kerja adalah ejawantah komitmen Pemerintah dalam reformasi ekonomi. Undang-Undang ini bertujuan menciptakan–-sekaligus mempermudah– lapangan kerja baru, merampingkan regulasi, membantu pemberantasan korupsi.
Implementasi UU Cipta Kerja pun dipercepat. Ada 54 Peraturan Pemerintah (PP) telah tuntas sebagai amanat UU. Peraturan Menteri harus dikebut. Perizinan, insentif dan pajak bisa diurus jauh lebih cepat dan transparan. Pelaku usaha kecil dan menengah perlu segera memanfaatkan peluang ini.
Pernyataan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin pada Orasi Kebangsaan dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Islam Malang (UNISMA). 6 September 2021.
“Pemerintah menempatkan pembangunan SDM unggul sebagai prioritas nasional, kunci memenangkan persaingan global”
Momentum Konsolidasi
Agenda strategis adalah prioritas nasional. Kerja besar menyelamatkan rakyat dari pandemi COVID-19, mesti berjalan seiring program-program kemajuan. Ditopang reformasi pola pikir serta etos kerja. Kecepatan, ketepatan, fleksibilitas, efisiensi, kreativitas, inovasi berbasis teknologi adalah elemen-elemen fundamental reformasi, yang akan meluputkan negeri kita dari jebakan pendapatan kelas menengah.
Inilah lima prioritas yang mesti dijawab guna menghadirkan Indonesia di klasemen negara maju: optimasi sumber daya manusia berkualitas; infrastruktur murah-logistik; pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan; reformasi birokrasi; penyederhanaan regulasi serta pembangunan demokrasi.
Hadirkan Generasi Unggul
Bonus demografi 2030 akan melahirkan tantangan baru yang kompleks. Generasi unggul adalah solusinya. Perkuat kesehatan, lorotkan stunting, kembangkan pembelajaran virtual, suburkan kebudayaan Nusantara, luaskan perlindungan sosial, tingkatkan daya saing kerja.
Urat Nadi Indonesia Maju
Sains dan riset adalah nadi utama di peta cita-cita Indonesia Negara Maju. Maka, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perlu mengakselerasi ekosistem riset nasional. Dan menghimpun sumber daya riset di berbagai kementerian serta lembaga. Pada inovasi riset kita menemukan fasad jaringan industri nasional.
Disadur dari buku Capaian Kinerja 2021 Indonesia “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”.
www.presidenri.go.id
#TangguhTumbuh2021













